Genre : Romance , Hurt/Comfort,
Drama.
Rate : M
Cast : Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun,
Lee Sungmin as Lee Sungmin, Lee Donghae as Lee Donghae, Choi
Siwon as Choi Siwon, Kim Heechul as Kim Heechul, etc.
pairing : Kyuhyun X Sungmin, Siwon
X Sungmin, Kyuhyun X Seohyun, and Yesung X Ryeowook, the
other only Friendship, Ada request untuk Slight lainnya silahkan PM.
Warning : Genderswitch, abal, geje,
aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain
yangmembuat fic ini jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : Super Junior milik SME,
Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari
imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun.
Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
Jalanan di depan Sungmin tampak ramai
dipadati pejalan kaki, sore itu. Si yeoja manis ini tengah berjalan
pelan dengan tas belanja dalam jinjingan tangan kanannya, sementara tangan
kirinya megandeng tangan namja yang berjalan di sampingnya dengan lengan
kiri mendekap kantong belanja.
Keduanya tampak gembira dengan
sesekali tertawa bersama, sejenak melupakan masalah-masalah yang sepertinya tak
pernah ada habisnya dalam hidup mereka. Sungmin selalu menyukai sesi belanjanya
bersama Ryeowook, namja itu benar-benar rekan yang handal dalam hal ini.
Selain kemampuan menawar yang jarang di miliki namja lain, Ryeowook juga
orang yang tepat untuk diajak mempertimbangkan suatu barang yang ingin
dibelinya.
Sabtu memang jadi hari kedua paling
menyenangkan setelah Minggu, tak banyak mata kuliah yang harus Sungmin lakoni
dan bimbingannya bersama Siwon juga berjalan lebih cepat karena Siwon hanya
membawanya menemui Shindong yang merupakan chingudeul Siwon. Shindong
adalah seorang kepala personalia di departement store yang cukup besar di
Seoul.
Sesuai janjinya di pertemuan terakhir
mereka, Siwon mengenalkan Sungmin pada Shindong. Shindong pribadi yang
menyenangkan, sama seperti Siwon, dia ramah dan hangat bahkan sedikit menjurus
ke pribadi yang humoris. Yang paling membuat Sungmin takjub adalah, meski
bertubuh gempal, Shindong tak sedikitpun terlihat lelet, sebaliknya dia sangat
lincah bergerak ke kanan dan ke kiri. Saat Sungmin memujinya, namja
gempal itu malah dengan bangga menunjukkan bahwa dia bisa mengikuti gerakan
Super Junior di lagu Bonamana dari awal sampai akhir.
'Klinting'
Sebuah bell pintu menyadarkan
Sungmin dari lamunannya tentang Shindong. Yeoja manis itu kemudian sadar
bahwa Ryeowook telah membawanya masuk ke sebuah toko roti.
"Eoseo oseyo, mwol dowa
deurilkkayo," ucap seorang Ajusshi, menyambut Sungmin dan Ryeowook.
Ryeowook memberikan daftar belanjanya
pada Ajusshi itu, Ajusshi itu mengangguk dan berlalu dari meja kasir guna
mengambilkan seluruh daftar milik Ryeowook.
"Minnie noona tidak beli
roti?"
Sungmin menggeleng. "Masih
banyak di kulkas."
"Hah, sebagian besar rotiku di
kulkas di habiskan Yesung hyung yang selalu datang dalam keadaan
lapar," gerutu Ryeowook membuat Sungmin terkikik kecil.
"Kau beruntung Wookie,
setidaknya Yesung oppa jadi punya pipi tembam, tidak seperti Kyunie yang
pipinya begitu rata," ujar Sungmin dengan tawa kecil.
Kali ini Ryeowook ikut tertawa.
"Ini, semuanya dua ribu delapan
ratus won," ujar Ajusshi yang telah kembali dan menghitung semua
roti-roti pesanan Ryeowook.
Ryeowook membayar pesanannya dan
mengandeng Sungmin keluar dari toko itu setelah mengucapkan. "Manhi
paseyo."
"Aku sudah mendapatkan rotiku,
Minnie noona mau mencari apa lagi?" Ryeowook bertanya pelan
sementara matanya mengamati deretan barang yang berjejer dan terpasang dari di
etalase toko.
"Ung..." Sungmin
menggeleng. "Aku sudah mendapatkan semuanya, kecuali makan malam, kita
tidak akan sempat memasak untuk makan malam."
Ryeowook mengangguk dan menatap
langit yang kini telah menggelap. "Kita cari kafe yang bagus,"
ujarnya seraya terus mengandeng Sungmin menyusuri jalanan pertokoan itu.
Mereka terus berjalan ketimur hingga
tiba di perempatan yang tampak padat dengan penyebrang jalan. Masih dengan
tangan yang saling bertaut keduanya masuk ke sebuah cafe latte tepat di kanan perempatan,
keduanya mengambil duduk di bagian dalam dan meletakkan belanjaan mereka agar
dapat meluruskan otot-otot tangan yang kaku.
Begitu pelayan datang Sungmin memesan
strawberry cake dan strawberry float, sementara Ryeowook tampak bersemangat
dengan tiramisu dan lemon squash. Menu yang sebenarnya tidak pas kalau
mengingat mereka datang untuk makan malam.
Sesaat suasana hening mengembang
diantara mereka. Sungmin mengarahkan iris foxynya pada sosok Ryeowook
yang tampak termenung di depannya. Namja itu tampak berpikir keras dan
apapun yang di pikirkannya membuat dia jadi gelisah.
"Kau merindukannya?"
Sungmin tak tahan untuk terus diam.
Ryeowook menengadah dan menatap iris foxy
itu, kemudian mengangguk. "Sudah seminggu kami tidak bertemu, terakhir aku
meninggalkannya di flatku saat dia datang. Aku... jadi merasa bersalah
sudah mengacuhkannya," ujar Ryeowook murung.
"Dia tidak menemuimu bukan
karena tak ingin, Wookie. Seminggu ini Kyunie juga tampak sibuk, dia hanya
sempat mampir tengah malam untuk tidur dan pergi pagi-pagi sekali," ujar
Sungmin pelan dengan mengusap pundak Ryeowook pelan.
"Aku juga... tidak berharap dia
datang."
"Dia pasti akan datang begitu
senggang, dan kalian harus benar-benar bicara baik-baik."
Ryeowook tak lagi menimpali, berbagai
pemikiran berputar di kepalanya. Sesungguhnya dia tidak akan pernah sanggup
meninggalkan Yesung. Tapi semua pertentangan ada dalam dirinya, dia yang gay,
dia yang tak jelas siapa Appanya, dia yang berasal dari tempat kumuh dan
terbuang. Dia yang seharusnya tahu diri untuk tidak mengharap seorang Kim
Yesung lagi.
"Wookie..." Sungmin
mengusap lembut pundaknya dengan nada prihatin.
Ryeowook memandang mata kelinci itu,
wajah imut seorang yeoja lembut baik hati yang selalu ada untuknya.
Sungmin adalah yeonoonanya, Yeoja yang sangat dicintainya hampir
seperti Ryeowook mencintai Eommanya. Bahkan tak jarang Ryeowook
menumpahkan rasa rindu pada Eomma yang berada jauh di desa pada sosok
Sungmin.
Sungmin yang selalu mencoba
tersenyum, padahal yeoja itu juga tidak pernah bebas dari masalah.
Masalah asmara yang bahkan kadang lebih menyulitkan dari pada masalah yang
menyambangi Ryeowook. Kyuhyun yang masih saja setengah-setengah dalam mencintai
yeoja ini, kadang membuat Ryeowook bersyukur Yesung benar-benar
mencintainya. Cih! Benar-benar namja pabbo si Kyuhyun itu!
Jam di tangan Sungmin telah
menunjukkan pukul delapan malam ketika Ryeowook mengajaknya untuk pulang.
Sungmin yang memang tak ada lagi kebutuhan yang perlu di cari dan kaki yang
rasanya mulai pegal pun mengangguk. Keduanya kembali berjalan menuju halte bus.
Kali ini Ryeowook juga berbaik hati
untuk membawakan barang belanjaan Sungmin, sementara yeoja manis itu
memeluk lengan Ryeowook dengan erat. Sungmin memandang lampu penyebrangan yang
berubah merah sesaat sebelum dia melangkah turun kejalan, membuat bibirnya
mengerucut sebal.
"Sabarlah Noona,"
ujar Ryeowook pelan.
Sungmin hanya mengagguk-angguk pelan.
Mata yeoja itu memandang seliweran mobil-mobil yang melintas di
depannya, dan saat itulah mata kelinci itu menangkap bayangan mobil yang sangat
dikenalnya, sebuah Audi putih yang melintas pelan di depannya dan berbelok
kearah kirinya.
Sentakkan rasa nyeri menyerang
dadanya begitu saja. Dia melihatnya, melihat dengan jelas siapa yang ada di
dalam mobil itu, sangat jelas, terlalu jelas hingga sebongkah senyum dari
Kyuhyun saat itu pun masih bisa tergambar di kepalanya. Senyum yang diberikan
Kyuhyun pada sosok yeoja yang duduk si samping kursi kemudi. Yeoja
berambut lurus dengan senyum cantik yang menawan.
"Noona? Gwenchanayo?"
tanya Ryeowook saat merasakan tubuh Sungmin yang limbung.
Sungmin tak menjawab, kakinya
benar-benar terasa lemas sementara dadanya berdenyut-denyut sakit. Ketakutan
menyerangnya begitu besar hingga membuat napasnya sesak.
"Minnie noona, gwenchanayo?"
Ryeowook masih bertanya khawatir, tangannya telah merengkuh bahu Sungmin guna
membuat yeoja itu tetap berdiri di sampingnya.
"K-Kyunie... Wo-Wookie, aku
melihat Kyunie b-bersama yeoja itu...," ujar Sungmin dengan suara
yang gemetar.
"Kyunie?" Ryeowook membeo,
di telusurinya area itu dengan cepat namun, "dimana si pabbo itu, Noona?"
Sungmin menggeleng. "Mobilnya
baru saja lewat."
Ryeowook terdiam. Di rengkuhnya tubuh
kecil yeoja itu dengan ketat, tak ingin yeoja kesayangannya
terjatuh dengan lemah. "Kau harus kuat Noona, jangan berpikir buruk
terlalu jauh dan kau harus kuat."
.
.
Sungmin bergerak gelisah di sofanya.
Tangannya berulang kali meraih ponsel namun sebanyak itu pula dia meletakkannya
kembali di atas meja. Jantungnya berdebar dengan rasa nyeri yang tak karuan.
"Telepon saja," kata Wookie
lagi, setelah sekian kali dia menyuruh Sungmin untuk menelpon Kyuhyun.
"Aku takut Wookie, bagaimana
kalau mereka masih bersama?"
"Kau tidak boleh takut Minnie noona,
dengarkan aku!" Ryeowook meraih kedua sisi rahang Sungmin untuk memaksa
mata itu menatap matanya. "Kau tidak boleh tenggelam dalam ketakutan, kau
harus melawan dan berjuang agar Kyuhyun bisa terus berada di sisimu,"
ujarnya dengan sungguh-sungguh.
Sungmin mengangguk, kemudian meraih
ponselnya dan menekan speed dial langganannya. Yeoja itu menunggu
beberapa saat hingga sapaan hangat dari Kyuhyun terdengar.
"Kyunie, kau di mana
sekarang?" tanya Sungmin pelan dengan tangan yang meremas tangan Ryeowook
pelan.
"Aku di dorm, waeyo
Chagiya?" tanya Kyuhyun dengan suara agak parau yang Sungmin taksir
dia sedang tiduran dengan PSP di genggamannya.
"Bisa kau kesini Kyunie?"
Dengusan tawa terdengar dari sebrang
sana. "Kau merindukanku Chagiya? Aku juga sangat merindukanmu,
baiklah aku akan tiba di sisimu dalam sepuluh menit."
"Gomawo Kyunie."
Sungmin memutuskan sambungan setelah
mengucapkan itu. Yeoja itu menarik napas berat dan beralih menatap
Ryeowook yang tengah mengamatinya.
"Bagaimana?"
"Dia akan ke sini, lalu apa yang
harus ku katakan kalau dia sudah di sini Wookie?" seru Sungmin frustasi.
"Mulailah dengan
baik-baik," saran Ryeowook. "Dengar Noona! Kau harus
benar-benar mempatenkan eksistensimu di samping Kyuhyun atau kau akan
kehilangan dia."
"Jangan menakutiku Wookie!"
Sungmin berseru dengan wajah memucat.
"Mian, tapi aku tidak
berniat menakutimu Noona, aku hanya tidak percaya bahwa perasaannya
padamu masih selemah ini!" Ryeowook tampak jadi kesal sendiri.
"Kau benar Wookie, mungkin
selamanya dia tidak akan mencintaiku."
"Sttt... jangan berkata seperti
itu Noona. AH! Bagaimana kalau kau tinggalkan saja dia lalu jadi yeojachinguku?
Aku namja bebas sekarang ini," goda Ryeowook dengan sebuah
kerlingan nakal.
"Wookie!" Sungmin memukul namja
itu dengan bantal sofanya.
"Hehehe... bercanda, Minnie noona...,"
ujarnya sembari mencubir pipi Sungmin yang menggebung. "Tapi aku serius,
kau tidak bisa terus-terusan merasa takut seumur hidupmu."
Sungmin diam. Yang di ucapkan
Ryeowook memang benar. Dia juga tak ingin dihantui rasa ketakutan akan
kehilangan Kyuhyun setiap saat sepanjang hidupnya. Sekali lagi rasa sakit itu
menyapa hatinya, kenapa bisa begitu sulit membuat Kyuhyun mencintainya? Hanya
mencintainya.
'Teeettt.. Teeetttt...'
Bersamaan Sungmin dan Ryeowook
menatap kearah pintu. Sungmin hendak bangkit saat Ryeowook mencegahnya dengan
menahan bahunya, lalu menggeleng pelan.
"Biar aku saja Noona,
sekalian aku keluar,"
Sungmin mengangguk, lalu mendekap
erat bantal di pelukannya dan menatap punggung Ryeowook yang menjauh darinya.
"Annyeonghaseyo...,"
itu bukan suara Kyuhyun. Sungmin menjulurkan kepalanya agar bisa melihat sosok
yang agak tertutup tubuh Ryeowook.
"Yesung hyung?"
Ah! Suara Ryeowook sudah menjawabnya.
Sungmin menghela napas lega, namun detik berikutnya dia memasang wajah khawatir
saat menatap punggung Ryeowook yang menegang ketika Yesung memeluknya. Sungmin
bisa melihat, wajah Yesung yang bersandar di bahu Ryeowook, terlihat suram dan
beraut lelah.
"Kita ke flatku,"
bisik Ryeowook pelan meski masih bisa Sungmin dengar. Sesaat kemudian Ryeowook
berbalik kearahnya. "Noona, aku pulang dulu."
Sungmin mengangguk dan membiarkan
kedua orang itu menghilang di balik pintu flatnya yang ditutup oleh
Ryeowook. Sungmin bangkit, hendak mengambil air minum di dapurnya. Namun baru
setengah melangkah menuju dapur pintu flatnya kembali berbunyi. Membuat
jantung yeoja manis itu berpacu lebih cepat lagi.
Sungmin berbalik lagi menuju pintu
dan membukanya perlahan.
"Minnie!" persis seperti
Yesung yang memeluk Ryeowook tadi, Kyuhyun juga langsung memeluk Sungmin tanpa
memberi waktu bagi pintu untuk terbuka lebih lebar.
Sungmin mengusap punggung Kyuhyun
pelan. Ada rasa nyaman yang begitu hangat menyusup ketika dirasakannya
kecupan-kecupan lembut Kyuhyun di puncak kepalanya, menyalurkan sejuta rindu
yang mendesak di dadanya. Sungmin tersenyum hangat, mungkinkah dia salah
menganggap Kyuhyun tidak mencintainya selama ini? Karena bila seperti ini,
Sungmin bisa merasakan rasa cinta yang begitu mendalam dari diri Kyuhyun
untuknya.
"Kau sudah makan?" Sungmin
bertanya masih dalam posisi Kyuhyun memeluknya erat.
"Belum," jawab Kyuhyun
singkat. Namja berambut caramel itu mengambil sedikit jarak untuk
menatap mata kelinci Sungmin yang mengerjap lucu.
"Mau makan apa? Biar
kumasakkan."
"Kamu," ujar Kyuhyun yang
sukses membuahkan sebuah pukulan pelan di pundaknya.
Sungmin melepaskan pelukannya,
membiarkan Kyuhyun masuk, menutup pintu dan...
Namja tampan itu telah
mengecup rasa lembut bibirnya. Sungmin hanya mendesah kecil, dia pikir Kyuhyun
hanya menggodanya tadi. Namun tak butuh waktu lama baginya untuk menyesuaikan
ritme ciuman Kyuhyun dan membalasnya dengan lembut.
Kyuhyun membiarkan Sungmin menghisap
bibir bawahnya sesaat sebelum dia membawa lidahnya untuk bergabung, menjilat
dan menggelitik bibir bagian dalam Sungmin, membuat yeoja itu mengerang
geli. Selesai dengan godaan kecilnya, Kyuhyun membelai lidah hangat Sungmin dan
meliukkan lidahnya dengan gerak cepat, membuat saliva menggenang dan segera
dihisap oleh namja itu penuh-penuh. Sungmin selalu kualahan kalau
Kyuhyun sudah mulai menghisap salivanya.
Kyuhyun melepaskan tautan bibir
mereka, membiarkan Sungmin meraup udara dengan cepat. Namun bukan berarti namja
itu telah puas. Dia masih lapar, lapar akan Sungmin tentunya. Di kecupnya
dengan lembut daerah terbuka di leher putih Sungmin. Menjilat, mengecup dan
menghisapnya lembut.
"Kyuuhh...," desah Sungmin,
di iringi dorongan pelan di dada Kyuhyun.
Kyuhyun mengerti tanda itu. Tanda
yang sering kali Sungmin gunakan untuk memperingatkan Kyuhyun agar namja
itu tidak melewati batas. Kyuhyun mencintai Sungmin dan menghormati setiap
keputusannya, termasuk jika Sungmin tak menginginkan 'hal lebih' sebelum
menikah. Lagi pula, Kyuhyun juga sama sekali tak berminat pada seks sepihak
beraroma pemaksaan.
Kyuhyun menarik lengan Sungmin untuk
masuk ke flat itu lebih jauh, ke kamar Sungmin. Namja itu lelah,
dan seperti biasa dia ingin tidur di pangkuan Sungmin, membiarkan aroma tubuh
Sungmin menenangkan setiap syarafnya yang kaku. Dan Sungmin pun telah paham
dengan hal itu, yeoja itu dengan patuh mengikuti Kyuhyun menuju
kamarnya.
Kyuhyun naik ketempat tidur bersprai
pink bermotif manusia salju yang lucu, lalu menunggu Sungmin untuk duduk
meluruskan kaki di tepi tempat tidur sebelum dia merebahkan kepalanya di
pangkuan yeoja manis itu. Merasakan sentuhan-sentuhan hangat dari tangan
Sungmin yang menyibak rambutnya dengan lembut.
Sama halnya seperti Kyuhyun, Sungmin
pun sangat menikmati setiap detiknya bersama Kyuhyun saat ini. Mata kelincinya
menatap raut tenang dari wajah Kyuhyun di pangkuannya. Sesekali dia akan
menggoda dengan meniup kelopak mata yang tertutup itu. Sungmin menyukai ini,
dan sangat menyukai tangan Kyuhyun yang menganggengam tangan kirinya di atas
dada bidang namja itu.
Membiarkan Sungmin merasakan detakan
jantung yang berdebar kencang yang akan semakin teratur seiring dengan
terlelapnya namja itu. Hari esok akan datang dengan sentuhan senyum
manisnya kalau saja yeoja itu tidak mengingat tujuan utamanya meminta
Kyuhyun datang.
Sungmin menghentikan gerakan tangan
kanannya yang mengusap rambut Kyuhyun.
"Hem?" Kyuhyun membuka
matanya dan memandang bertanya pada Sungmin yang tiba-tiba diam dan memasang
postur kaku.
"Aku dengar Seohyunssi sudah
kembali, apa kau sudah tahu?" tanya Sungmin memulai dengan sedikit
kebohongan.
Kyuhyun diam cukup lama, hanya iris
kecoklatannya yang terus mengamati setiap emosi dalam iris foxy milik
Sungmin. "Yah, aku bertemu dengannya di SME sore tadi," katanya
setelah cukup lama.
"Benarkah? Bagaimana
kabarnya?" Sungmin mencoba agar terus terdengar tenang, meski pun dia
yakin Kyuhun telah merasakan jantungnya yang berdetak kacau.
"Dia baik, kami sempat makan
malam bersama, dan yang kudengar SME meminta dia untuk kembali tapi untuk
bersolo karir," jawab Kyuhyun dengan nada tenang dan tanpa getar lain
selain ingin memberi informasi.
Sungmin mengangguk, dia cukup lega
mendengar kejujuran Kyuhyun. Meski tetap saja dia masih merasa cemas. Bahkan
semakin cemas saat mendengar mereka akan satu management lagi.
"Kalian bicara banyak?" Sungmin mencoba bertanya lagi.
"Cukup banyak."
"Kyunie..."
"Aku milikmu, percayalah,"
potong Kyuhyun seakan mengerti kekhawatiran yeoja itu.
Sungmin diam, pandangannya menerawang
entah kemana. Dia mengerjap pelan, lalu di pandangnya Kyuhyun yang mulai
memejamkan matanya lagi, yeoja itu mengusap rambut Kyuhyun lembut kemudian
turun ke pipinya dan mengusap bibir Kyuhyun yang merespon dengan mengecup
tangan Sungmin di yang menempel di bibirnya.
"Kyu...," panggil Sungmin
pelan.
"Ne?"
"Bisa kau membuktikannya?"
Diam beberapa saat.
Mata itu membuka dengan cepat dan
menatap tak percaya pada Sungmin yang tengah tersenyum lembut padanya.
"Minnie?"
"Aku...," Sungmin menelan
ludah, "aku menginginkanmu Kyu..."
_TBC_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar