Rabu, 06 Juni 2012

AFTER ALL Keping Duabelas


AFTER ALL
Keping Duabelas
Genre : Romance , Hurt/Comfort, Drama.
Rate : M
Cast : Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun, Lee Sungmin as Lee Sungmin, Choi Siwon as Choi Siwon, Kim Ryeowook as Kim Ryeowook, Kim Yesung as Kim Yesung, etc.
Pairing : Kyuhyun X Sungmin, Siwon X Sungmin, Kyuhyun X Seohyun, and Yesung X Ryeowook, the other only Friendship, Ada request untuk Slight lainnya silahkan PM.
Warning : Genderswitch, abal, geje, aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain yang membuat fic ini jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : Super Junior milik SME, Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun. Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!
.
"Ajik naegen neol naeryeonohneun ge eoryeoungeol jogeumman siganeul jwo.
I can't live without you, My all is in you"
(Letting you go like this is still difficult to me, Please Give me little more time. I can't live without you, My all is in you) _ My all is in you-Super Junior_
.
"Mianhe, aku jadi merepotkan kalian," ujar Sungmin, menatap menyesal pada Ryeowook yang tengah membereskan obat-obatan milik Sungmin dan barang lainnya. Sementara Siwon membereskan buah dan bunga hasil pemberian penjenguk untuk Sungmin.
"Kau ini, sudah kukatakan agar tak perlu merasa seperti itu, kami bukan orang lain untukmu, benarkan Wookie?"
"Eh? A-ah.. iya... benar Minnie noona... jangan seperti itu," Sungmin tersenyum kecil melihat tingkah Ryeowook. Tampaknya namja itu belum terbiasa dengan sikap Siwon yang mendadak bersahabat.
"Oppa... bagaimana kalau buah-buah dan bunga-bunganya kita berikan pada perawat dan pasien lain saja, masih cukup baguskan?" Sungmin menatap banyaknya keranjang buah dan bunga yang telah ditata Siwon. Huft... padahal dia cuma menginap semalam dirumah sakit.
"Iya, ini masih bagus-bagus semua, kau mau memberikannya?"
"Tak apakan? Supaya Oppa tidak repot membawanya, lagi pula kulkasku tidak akan cukup menampung semua itu," ujar Sungmin lagi.
"Apa ini juga mau diberikan?" tanya Ryeowook sembari mengangkat boneka bunny milik Sungmin yang dia bawa dari flat sungmin semalam. Yeoja itu mengeluh tak bisa tidur, jadi Ryeowook membawakannya agar dia tidur, dan ternyata memang bekerja dengan baik.
"Ish! Itu jangan."
Ryeowook tertawa menikmati raut kesal Sungmin.
"Ya sudah, ayo...," ajak Siwon, namja itu mengulurkan tangannya dan menyusupkannya ke belakang lutut Sungmin. Sungmin pun mengalungkan lengannya ke leher namja itu sebelum merasakan dirinya terangkat.
"Apa kami menginterupsi sesuatu?"
Siwon refleks memutar tubuhnya menghadap pintu tempat asal suara itu berada. Masih, dengan Sungmin yang berada didekapannya.
"Heechullie Oppa?" Sungmin membulatkan matanya menatap manager Super Junior yang super sibuk itu berdiri di sana.
Siwon tersenyum tipis mendengar nama namja itu dari bibir sungmin yang berarti Sungmin mengenali tamu itu. Namja tinggi itu pun membawa Sungmin ke atas kursi roda tanpa bicara.
"Sebenarnya bukan hanya aku...,"
"Annyeong, Sungmin...," namja tinggi berambut kemerahan muncul dari belakang Heechul dengan senyum lugunya yang begitu manis. Namja itu berjalan kearah Sungmin dan memberikan buket Lily putih yang cantik. "Semoga lekas sembuh, ne?"
"Gomawo, Hangeng-ssi," Sungmin membungkuk kecil dan tersenyum menerima bunga itu.
"Kalian sudah bersiap untuk pulang? Ya! Minnie ya... kau jangan sampai masuk rumah sakit lagi, gara-gara kau di rumah sakit aku terpaksa menunda jadwal latihan hari ini karena anak-anak bodoh itu terus merengek meminta ke sini mengantarmu pulang," omel Heechul yang kemudian mendekat dan memberikan sebuah boneka bunny berwarna pink kecil.
Sungmin tersenyum lebar mendapat boneka itu. Tak banyak yang tahu kesukaannya, jadi tak banyak pula yang memberikan boneka saat menjenguk sungmin. "Gomaw- eh, Mianhe Oppa... aku tidak akan ceroboh lagi," ujar Sungmin, terlalu senang untuk sekedar merasa bersalah dengan ucapan Heechul.
"Lalu ke mana mereka yang merengek itu?" Ryeowook bertanya dari sudut ruangan tempatnya duduk di atas sofa. Tampaknya baru membuat Heechul dan Hangeng sadar dengan keberadaannya.
"Kami di sini!" itu suara Eunhyuk, "Haha.. tadi kami mencari ini dulu, kemarinkan kami tidak sempat membawa apapun," ujar Eunhyuk yang sebenarnya tidak terlalu diperhatikan Sungmin karena yeoja itu tengah terpaku dengan senyum mengembang menatap boneka bunny dengan ukuran luar biasa besar yang menutupi namja itu sendiri. Di belakang namja itu, ikut masuk Yesung yang segera menghampiri Ryeowook di pojok ruangan.
"Itu untukku?" Sungmin bertanya dengan mata berbinar.
"Memangnya untuk siapa lagi?" Eunhyuk meletakkan boneka itu di atas ranjang pasien. Dan tersenyum lebar pada sungmin.
"Hyaaa! Gomawo Hyukkie," seru Sungmin bersemangat dan merentangkan tangan mempersilahkan Eunhyuk untuk memeluknya.
"Itu bukan darinya! Itu dari kami," gumam suara besar Kang In, membuat gerakan Eunhyuk terhenti di udara dan menatap sebal hyungnya yang berbadan besar itu.
"Gomawo Super Junior!" Sungmin berseru dengan melakukan gerakan khas Super Junior yang mengulurkan tangan dan memamerkan telapaknya dengan bangga.
"Kau mau kami menandatanganinya juga?" Kang In bertanya dengan suara bassnya.
"Hajhima!" pekik Sungmin, yeoja itu merentangkan tangan berusaha melindungi bunny besar di atas tempat tidur pasien itu.
"Ya, kau ini... banyak orang rela antri untuk tanda tangan salah satu dari kami," gumam Kang In, tak terima tanda tangannya yang berharga ditolak mentah-mentah.
"Bukan begitu Oppa, ummm bagaimana kalau kalian tanda tangan di sini saja?" Sungmin menunjuk perban yang membalut kakinya.
"Itu bagus," celetuk Lee Teuk, mencegah Kang In menggoda Sungmin lebih jauh lagi.
"Ke mana cincinmu?"
"Mwo?" Sungmin menatap Hangeng yang baru saja melontarkan pertanyaan tak jelas itu.
"Cincinmu, cincin yang kemarin aku lihat?" Hangeng bertanya dengan raut polosnya namun jelas, pandangan matanya tak sepolos wajahnya.
"A-a... i-itu... hilang... aku menghilangkannya," ujar Sungmin dengan suara berat. Entah mengapa, saat itu matanya justru menuju kearah Kyuhyun yang berdiri paling belakang dan tengah menatapnya juga.
"Hilang?"
"Tak apa, nanti biar aku yang membelikannya, ne?" Ujar Siwon, namja itu mengusap bahu Sungmin ketika melihat Sungmin yang menunduk sedih.
"Ahh begitu, apa itu artinya aku juga punya kesempatan membelikannya— AAARGGHHH!" Hangeng menjerit keras membuat semua mata jadi menatapnya. Namja itu meringis dan menggosok pinggangnya dengan cepat, menahan rasa sakit di sebelah sana, sementara di sampingnya, Heechul tersenyum manis.
"Apa semuanya sudah ditata?" Lee Teuk segera mengambil perhatian mereka lagi.
"Eung! Tapi aku berniat memberi semua buah dan bunga itu ke perawat dan pasien di sini karena sepertinya tak akan mungkin kubawa pulang semuanya."
"Ya, sudah ayo..."
Sungmin melongo mendengar kalimat itu keluar dari mulut Lee Teuk, sementara namja itu bergerak mengambil salah satu keranjang buah. "Oppa... kau tidak berniat membuat rumah sakit menjadi tempat huru-hara kan?"
"Tak apa, kita lakukan dengan tenang dan cepat!" Lee Teuk meyakinkan dengan sebuah kerlingan nakal di matanya. Membuat Sungmin menghela napas pasrah.
"Ayo!" Eunhyuk berseru semangat dan ikut mengambil satu keranjang buah. "Apa itu juga?" Eunhyuk bertaya menunjuk buket Lily di tangan sungmin.
Sungmin menggeleng. "Aniyo, ini dari Hangeng-ssi. Satu-satunya chinguku yang berasal dari China."
Member Super Junior lain, Heechul, Hangeng dan Ryeowook pun ikut bergerak. Sementara Siwon mendorong kursi roda Sungmin yang juga membawa satu keranjang buah. Satu kamar satu orang, dan setiap orang mendapatkan dua kamar. Memang tak seheboh perkiraan Sungmin karena begitu member Super Junior masuk, dia akan meletakkan jari telunjuknya di bibir mengisyaratkan untuk tidak menjerit.
Namun juga tak setenang yang dikatakan Lee Teuk, karena tak jarang terdengar pekikkan histeris dari sebuah kamar. Dan dua kamar yang dikunjungi Kyuhyun adalah penghasil pekikkan terkeras. Dan yang paling tenang adalah kamar-kamar Yesung, agaknya aura tenang namja itu yang paling bisa mempengaruhi orang di sekitarnya.
Sungmin tersenyum sepanjang hari itu, senyum yang menyembunyikan sebuah rasa. Karena sepanjang kebersamaan mereka pula, Sungmin harus berusaha keras untuk tidak menatap Kyuhyun terlalu dalam. Sementara hal sebaliknya terjadi, pandangan ganjil selalu dilayangkan namja itu padanya.
.
.
"Kyunie... kau di mana?"
"Aku sedang di jalan Hyung," jawab Kyuhyun setengah berbohong.
"Cepatlah ke SME Building, Heechul hyung mulai mencarimu," ujar Kang In dari seberang saluran teleponnya.
"Ne, Hyung. Sepuluh menit lagi aku di sana," gumamnya datar, kemudian mematikan ponselnya dan melemparnya ke kursi di sampingnya yang kosong.
Dia menarik napas berat sementara tangannya mencengkram roda kemudi kuat-kuat. Entah ini sudah hari keberapa Kyuhyun menjalani profesi barunya sebagai seorang stalker. Konyol, ha? Seorang Cho Kyuhyun, putra satu-satunya keluarga Cho yang juga seorang magnae dari Boys Band yang mendunia, kini duduk bersembunyi di balik kaca mobilnya hanya untuk bisa menatapi senyum manis seorang yeoja.
Dengan sebuah teropong hitam, Kyuhyun terus mengamati setiap detil ekspresi yang ditampilkan wajah manis itu. Kadang tersenyum, kadang merengut dan tak jarang menampilkan raut serius menatapi laptop yang tergeletak di mejanya.
Di kejauhan sana yeoja itu bangkit dari duduknya dibantu seorang namja tinggi dan mengenakan kruk yang dua minggu terakhir terus berada di dekatnya. Lihat kan? Kruk itu bahkan lebih beruntung dari Kyuhyun yang hanya bisa menatap Sungmin dari jarah yang tak kurang dari dua puluh meter.
Kyuhyun mendecih kesal setiap kali dia juga melihat sosok namja tinggi itu di samping Sungmin. Setahunya namja bernama Choi Siwon itu hanya seonsaengnim yang membimbing Sungmin untuk skripsinya. Tapi kenapa hampir setiap hari Sungmin bersamanya sih? Sebenarnya bukan karena Kyuhyun tak tahu kalau sebulan sebelum sidang akhir, seluruh mata kuliah memang harus telah diselesaikan. Dan sekarang saatnya Sungmin fokus pada skripsinya, Kyuhyun tahu hal itu, hanya saja... mengetahui alasannya tetap saja tidak membuat Kyuhyun jadi rela membiarkan mereka berdua-duaan tanpa pengawasannya.
Setelah Sungmin tak terlihat lagi karena yeoja itu telah masuk kedalam sebuah porsche hitam, Kyuhyun pun menstater mobilnya. Melaju, menembus angin sunyi menuju SME Building. Mencari kesibukan untuk mengalihkan semua rasa marah, kecewa dan menyesalnya dalam tuntutan pekerjaan. Melakukan semuanya setotal mungkin hingga membuat tubuhnya lelah dan terlelap hingga pagi.
.
.
Pagi hari selalu menjadi awal untuk menjadikan hari yang lebih baik dari sebelumnya. Hal yang tak pernah Sungmin luputkan ketika pagi adalah menyunggingkan senyumnya dan menyakinkan dirinya bahwa hari ini semuanya akan semakin baik.
Yeoja manis itu tersenyum demi sebuah harapan dan sebuah rasa yang perlahan tertutup. Sakit yang dulu terasa sangat menyiksa kini tertutup perlahan dengan kehangatan yang hadir setiap harinya. Perasaan sesak itu perlahan berkurang, seiring dengan penerimaan di hati Sungmin bahwa Kyuhyun memang tak mungkin dimilikinya. Dan juga... penerimaan pada perasaan yang baru.
"Ya!"
"Aa!" Sungmin melonjak kaget merasakan tepukan keras di pundaknya. "Wookie-Ya! Kenapa mengagetkanku?" Sungmin bersungut sambil memukul bahu Ryeowook pelan.
Ryeowook tersenyum puas. "Noona melamun sih, jadi tidak merasakan aku datang," ujarnya seraya mencomot piring kentang goreng yang tengah Sungmin tata dalam dua buah kotak bekal.
"Ya! Jangan memakannya sembarangan Wookie, ini buat Siwon oppa," seru yeoja itu merebut kembali piringnya.
"Ish!" Ryeowook mendesis, lalu menatap dua kotak bekal yang terbuka di atas meja. "Jadi bagaimana?"
"Mwo? Bagaimana apanya?" Sungmin bertanya polos. Kalimat Ryeowook memang terdengar tak jelas maksudnya bagi Sungmin.
"Tentu saja hubungan kalian, Minnie noona-ku yang manis dan Choi Siwon yang menawan," ujar Ryeowook dengan nada menggoda disertai sebuah towelan pelan di pipi Sungmin.
"Hubungan apa? Seperti biasa saja, kami akan bertemu di tempat janjian, membahas aplikasiku lalu pulang. Umm.. mungkin makan ice cream bersama sebelum dia mengantarku," jawab Sungmin datar.
"Aigo~ masa setiap hari seperti itu terus? Kau harus bergerak Noona, jangan sampai ada yeoja lain yang menyela lalu kau akan menyesal," kata Ryeowook, sambil terus mencuri kentang goreng Sungmin satu per satu.
"Maksudmu aku harus menyatakan cinta? Aigo~ aku ini yeoja, Wookie... aku tidak mau!" Sungmin berujar sedikit keras.
"Aku tidak bilang menyatakan cinta, tapi kalau kau memang mencintainya, itu bukan masalah... yeoja juga boleh agresif..."
"WOOKIE!" Sungmin berteriak saat merasakan tiupan yang cukup sensual di telinganya.
Ekspresi Sungmin sungguh membuat namja itu puas dan tertawa keras-keras. Akibat keisengan namja bertubuh kecil itu wajah Sungmin jadi memerah. Hah! Bisa-bisanya Ryeowook menggoda Sungmin seperti itu.
'Teett.. teettt...'
Bell pintu menginterupsi tawa Ryeowook sesaat, sebelum namja itu kembali tertawa lagi. Sungmin memukul kaki Ryeowook dengan kruknya agak keras, membuat namja itu meringis sakit. Masih kesal, Sungmin pun melemparkan kruk itu kearah Ryeowook, hingga namja itu sedikit gelagapan menangkap lemparan benda panjang yang hampir menghantam wajahnya.
"Awas saja kau!" Sungmin bersungut dan bergerak melepas apron yang masih dipakainya. "Jangan mengambil kentangku lagi!" kesalnya lalu melemparkan apron di tangannya ke wajah Ryeowook yang kembali tersenyum-senyum menikmati tingkah Sungmin. Dan kali ini apron itu mengenai wajahnya karena tangan Ryeowook masih memegang kruk Sungmin.
Sungmin berjalan pelan dan sedikit tertatih kearah pintu depan flatnya, saat melintasi ruang tengah dia melirik jam di dindingnya. Masih setengah tujuh pagi, memangnya orang aneh mana yang akan bertamu sepagi ini di flatnya? Umm... jangan hitung Ryeowook, karena sudah jelas namja itu memang aneh, tak heran dia tahan berpacaran dengan namja aneh lain seperti Yesung.
Sungmin membuka pintunya pelan dan... membulatkan mata kelincinya. Tamu yang tak terduga... atau tamu yang sepantasnya sudah Sungmin duga. Mana yang lebih pantas?
Sungmin mengerjapkan matanya cepat, benarkan matanya tidak sedang menipunya? Apa ada yang salah di sini? Untuk apa sosok itu berdiri di sana? Oh, ayolah... kalau hal ini terjadi tiga bulan yang lalu mungkin bukan hal yang perlu Sungmin pikirkan.
"Boleh aku masuk Minnie-...ya?"
Sungmin tersentak mendengar suara bariton itu, lalu menangguk kaku. Sungmin tak tahu hal apa saja yang telah terjadi pada namja itu selama tiga bulan belakangan. Tapi melihat wajah pucat dan tatapan mata yang terkesan datar itu, Sungmin menebak ada hal buruk yang menimpanya.
Setelah membiarkan namja itu masuk, Sungmin menutup pintu flatnya pelan. Lalu berjalan kearah Kyuhyun yang telah duduk di sofa panjang berlengan miliknya. Namja itu menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.
"Kyu... apa kau baik-baik saja?" Sungmin bertanya pelan, menatap figur Kyuhyun yang terlihat lemah di depannya.
Kyuhyun mengangguk pelan, tanpa suara.
"Mau kubuatkan sesuatu? Kau terlihat lelah," tanya Sungmin lagi, yeoja itu mempertahankan posisi berdirinya di depan Kyuhyun dalam jarak cukup jauh.
Kyuhyun membuka matanya dan menatap iris foxy milik Sungmin, lalu mengangguk. "Aku lapar," jawabnya pelan.
Sungmin mengangguk lalu pergi meninggalkan Kyuhyun menuju dapurnya. Sungmin merasa canggung dan kaku, hatinya belum siap menerima kehadiran namja itu di flatnya. Entah untuk alasan apa, Sungmin belum siap untuk menghadapi namja itu lagi.
"Siapa?" Ryeowook bertanya sambil memasukkan lagi potongan kentang goreng ke dalam mulutnya.
"Kyunie," jawab Sungmin singkat.
"Si brengsek itu, mau apa dia ke sini!"
"Wookieya!" Sungmin meraih lengan Ryeowook saat namja yang terlihat marah itu hendak keluar menemui Kyuhyun dengan maksud tak baik. "Biarkan saja, sepertinya dia sedang tidak sehat," ujar Sungmin menjelaskan.
"Lalu apa hubungannya denganmu? Kau sudah tidak punya tanggung jawab apapun padanya, jadi jangan pernah biarkan dia seenaknya datang padamu, kalau memang dia sakit kenapa tidak datang pada yeoja itu saja, ha?" sergah Ryeowook dengan marah.
"Wookieya~ kau memang benar, tapi aku juga tidak mungkin membiarkannya pergi dalam keadaan seperti itu, dia benar-benar terlihat tidak baik," kata Sungmin berusaha meredamkan amarah Ryeowook.
"Ya sudahlah," dengus Ryeowook, lalu menatap sungmin hangat, "terserah Noona saja, maaf aku sudah membentak Noona tadi," ujar Ryeowook dengan nada lembutnya yang biasa. "Aku mau pulang saja, tidak tahan kalau terlalu lama bersama Crazy Evil itu," tambahnya dengan mencomot piring kentang goreng milik Sungmin yang tinggal setengah.
Sungmin hanya menggelengkan kepalanya dan mulai meraih roti untuk membuat sandwich simple dan teh hijau hangat. Meletakkannya dalam satu nampan dan membawanya keluar dari dapur.
.
Deg.
Sungmin bisa merasakan sentakan kecil di dadanya saat mata kelincinya menangkap sosok itu. Kyuhyun telah berbaring di sofanya dengan kaki yang masih menjuntai ke bawah. Wajah namja itu semakin pucat saja.
"Kyun- Oh Tuhan!" Sungmin tersentak saat menyentuh kulit Kyuhyun ketika hendak membangunkannya. Kulit itu terasa panas, sangat panas. "Kyunieya~" rintih Sungmin saat merasakan panas tubuh Kyuhyun di telapak tangannya yang menyentuh dahi namja itu.
Dengan langkah yang tertatih terhambat luka di tulang keringnya, Sungmin bergegas kembali ke dapur. Sungmin meraih kantong kompres dan mengisinya dengan air dan es, serta meraih obat turun panas yang memang biasa dipakai Kyuhyun.
Sungmin bergegas kembali pada namja itu, dengan sedikit kesusahan dia membenarkan posisi tidur Kyuhyun sebelum meletakkan kantong kompresnya di kening Kyuhyun. Tak lupa dengan selimut untuk tubuh Kyuhyun yang sedikit menggigil. Sungmin menghela napas berat saat menatap sandwichnya... hufh... sepertinya dia harus membuat bubur.
.
"Kyunie... bangunlah, kau harus makan sebelum minum obatnya," ujar Sungmin lembut, yeoja itu mengusap-usap rahang kokoh Kyuhyun yang sedikit kasar, belum bercukur.
"Kyunieya~ bangunlah," panggilnya lagi, masih dengan mengusap rahang Kyuhyun.
"Enghhh..." Kyuhyun melenguh dan menggerakkan tubuhnya sedikit. Kyuhyun membuka matanya sedikit dan menatap Sungmin sayu. "Chagi~," ujarnya lirih.
Deg!
Sungmin memejamkan matanya merasakan sentakan yang lebih kuat kali ini. Tidak-tidak, Kyuhyun hanya mengigau. Jangan biarkan panggilan 'itu' membuatnya kembali berharap.
"Bangunlah, kau harus makan," ujar Sungmin dengan tenggorokan tercekat.
Kyuhyun mengangguk pelan, Sungmin pun membantu Kyuhyun untuk sedikit bersandar pada lengan sofa yang telah Sungmin beri bantal untuk menyamankan. Kyuhyun tersenyum tipis saat melihat Sungmin meraih mangkuk buburnya, namja itu pun membuka bibirnya sedikit. Namun segera mengatupkannya lagi saat Sungmin menggangsurkan sendok kedepan mulutnya.
"Kenapa pakai sendok?" Kyuhyun bertanya lirih dan sedikit kecewa.
"Kenapa? Kau mau pakai sumpit? Atau pisau?" Sungmin menjawab sedikit ketus. Memangnya apa yang siharapkan namja ini? menyuapi dengan bibir seperti biasanya saat dia sakit? Huh! Jangan harap. "Buka saja mulutmu Kyunie, atau mau kupanggilkan Teuki Oppa?" ancam Sungmin.
Tentu saja itu menjadi ancaman, karena kalau Leader Super Junior itu sampai tahu keadaan Kyuhyun yang seperti ini, tanpa ba-bi-bu dia akan langsung membawa Kyuhyun ke rumah sakit. Dan Kyuhyun benci rumah sakit! Dia tidak akan pernah mau dirawat di rumah sakit lagi kecuali dia benar-benar koma seperti dulu.
"Kejam sekali, aku ini sakit," suara Kyuhyun masih lirih.
"Kenapa tidak ke rumah sakit kalau begitu?" balas Sungmin dengan kembali menyodorkan sendoknya.
Dengan enggan, Kyuhyun pun membuka bibirnya dan Sungmin segera memasukkan bubur itu kedalam mulutnya.
"Kunyah lalu telan," perintah Sungmin.
Kyuhyun menggerakkan rahangnya sedikit untuk mengunyah... lalu menggeleng. "Thidak sha... mhenehlang," gumamnya tak jelas.
"Ish! Manja, minum ini biar gampang menelannya..." Sungmin menyodorkan gelas ke depan mulut Kyuhyun dan membantu namja itu untuk meminum airnya. "Banyak-banyaklah minum air pu—"
"Uhuk-huk.. ungh! Uhuk!" Kyuhyun terbatuk saat menelan buburnya.
"Kyu!" pekik Sungmin saat melihat wajah Kyuhyun yang tadinya pucat kini memerah cepat. Yeoja itu menempuk-nepuk tengkuk bawah Kyuhyun dengan sedikit keras.
"Uh! Uhuk... Engh!" Kyuhyun gelagapan sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri. "ANGH! Haaaa..."
"Kyunie.. kau baik-baik saja?" Sungmin bertanya cemas saat terdengar suara Kyuhyun yang menarik napas dalam dan batuk itu terhenti. Namja itu baru saja tersedak buburnya dan menghalangi saluran napasnya.
"Kau mau membunuhku ya?" sinis Kyuhyun dengan suara lemah. "Ish! Aku tak mau makan," kata Kyuhyun masih dengan suara pelan. Sungmin yakin, kalau namja itu sehat, yang tadi itu pasti berupa teriakan.
Sungmin mengeram merasakan kesabarannya terkuras begitu cepat. Ingin sekali dia membekap dengan bantal namja yang baru saja membuang muka darinya itu. Tapi melihat wajah Kyu yang kembali memucat, membuat emosinya langsung surut begitu saja.
Sungmin menatap putus asa pada mangkuk bubur yang masih utuh. Yeoja itu memang tak punya banyak pilihan kalau menghadapi seorang Kyuhyun. Dengan cepat, dia pun menyuapkan bubur itu kedalam mulutnya sendiri, lalu sedikit kasar meraih rahang Kyuhyun dan... memutus jarak antara bibirnya dengan bibir panas namja itu.
Sesaat, tubuh keduanya sama-sama menegang. Sungmin menarik napas dalam-dalam, lalu mulai memasukkan bubur itu sedikit demi sedikit kedalam mulut Kyuhyun. Namja itu tersenyum tipis, menerima bubur hangat dan bibir manis Sungmin yang masih memiliki rasa cherry yang sama.
"Enghhh...," Sungmin melenguh saat lidah Kyuhyun bergerak masuk kedalam mulutnya dan mengaduk bubur itu dengan lidahnya sebelum menghisapnya sedikit demi sedikit.
Sungmin berusaha menjauh, namun tangan Kyuhyun menahan tengkuknya dengan kuat. Bahkan hingga bubur itu telah tak bersisa, Kyuhyun masih saja mengaduk mulut Sungmin. Tak mempedulikan Sungmin yang memberontak, namja itu terus melumat bibir lembut itu. Begitu rakus, seperti baru menemukan oase di tengah gurun.
'Prak'
Suara benturan keras agak menyentak Kyuhyun, Sungmin baru saja membanting mangkuk buburnya di atas meja. Dan lengahnya Kyuhyun buru-buru Sungmin manfaatkan untuk mengambil jarak dari namja itu.
"YA! APA YANG KAU LAKUKAN!" Sungmin berteriak marah, menatap Kyuhyun dengan emosi yang hampir membuat kepalanya meledak.
"Min—"
"KELUAR DARI FLATKU!" Sungmin masih berteriak dengan napasnya yang masih tersengal.
"Mianhe... jangan mengusirku, jebal. A-aku hanya... aku... Mianhe... aku ingin di sini," ujar Kyuhyun pelan dengan kepala yang menunduk menggambarkan penyesalannya.
Sungmin mendengus, dia benar-benar kesal dengan kelakuan Evil Magnae itu. Kemudian dengan langkah yang menghentak, Sungmin masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Kyuhyun yang tersenyum kecut menatap punggungnya.
Kyuhyun menarik napas panjang, kemudian membaringkan tubuhnya di sofa itu lagi dan memejamkan matanya. Ugh! Ini pasti karena belakangan dia terlalu keras bekerja, kepalanya jadi terasa kian pening saja. Kyuhyun membuka sedikit matanya saat mendengar langkah Sungmin yang mendekat.
Alis namja itu sedikit berkerut saat melihat penampilan Sungmin yang telah rapi dengan mantel panjang, rok di atas lutut dan boot rendahnya.
"Kau mau ke mana?" Kyuhyun bertanya was-was, namja itu bangkit dari pembaringannya.
"Ketempat manapun asal tidak ada kau di sana!" Sungmin menjawab dengan ketus.
"Jangan pergi!" seru namja itu, dengan mengumpulkan seluruh tenaganya dia berdiri menghalau pintu.
"Siapa kau sampai berani melarangku?" yeoja itu bertanya sarkatik.
"Kenapa kau begitu marah? Aku hanya menciummu, kalau kau tidak suka aku tidak akan melakukannya lagi," ujar Kyuhyun lirih.
"Kalau kau butuh ciuman kau bisa mendapatkannya dari ribuan yeoja di luar sana, tapi bukan aku! Aku bukan yeoja yang bisa dicium oleh sembarang namja yang—"
"Aku bukan sembarang namja!" sergah Kyuhyun, matanya menyipit menatap Sungmin tegas.
"Tetap saja kau bukan namja yang berhak menciumku!"
"..." Kyuhyun diam, kalimat Sungmin baru saja menyadarkannya akan rasa sakit yang belakangan terus bercokol di dadanya. Namja itu memejamkan matanya sebelum menarik napas panjang dan... menatap iris foxy itu dalam-dalam. "Kau benar, aku tidak berhak. Mianhamnida," gumamnya sungguh-sungguh dan tanpa menyembunyikan rasa sakit yang terpancar di matanya. "Tapi kumohon jangan pergi, jangan meninggalkanku."
Sungmin diam. Ada sesuatu yang menganggu dadanya saat menatap iris kecoklatan itu. Yeoja itu pun menghela napas berat. "Dengan syarat. Jaga jarakmu, turuti semua perintahku atau salah satu dari kita akan keluar dari sini, Arra?"
Kyuhyun mengangguk pelan dan tersenyum tipis guna melembutkan tatapan mata Sungmin yang mengeras.
"Kembali ketempatmu, makan bubur itu dan minum obatmu sendiri lalu tidurlah di kamar," perintah Sungmin tegas.
"Arra," gumamnya setelah berpikir agak lama.
Sungmin kembali menghela napas berat, sebelum berbalik dari arah pintu di mana Kyuhyun masih berdiri menghalaunya.
"Kau mau ke mana?" suara Kyuhyun terdengar lemah.
"Mengerjakan aplikasiku di meja makan, kalau butuh sesuatu ambil saja sendiri, kalau tak bisa ketokkan sendoknya ke meja untuk memanggilku. Jangan banyak bicara, aku muak mendengar suaramu," ujar Sungmin dengan nada kejamnya.
Diapun melangkah masuk, tanpa mau berbalik dan memandang wajah itu lagi.
Andai saja yeoja itu mau berbalik sedetik saja, dia pasti akan terkejut melihat bagaimana kalimatnya baru saja menggores dalam di dada namja di belakangnya. Tak ada lagi gurat angkuh dan arogan di mata itu, hanya ada rintihan sakit dan penyesalan yang terlalu dalam.
Kyuhyun memejamkan matanya dan menarik napas dengan berat. Dadanya benar-benar sesak oleh rasa nyeri, matanya yang telah panas semakin panas saja sekarang. "Minnie chagi," lirihnya, terlalu lirih bahkan untuk didengar telinganya sendiri. Namja itu meraba dadanya yang terasa sakit, hatinya berdenyut perih, "aku masih di sana, kan? Seharusnya aku masih di sana. Karena kau juga terus ada di sini."
Inikah yang disebut karma? Inikah yang dulu selalu Sungmin rasakan karena sikapnya yang sering menggores luka di hati yeoja itu?
Sakit. Rasanya benar-benar sakit hingga Kyuhyun tak bisa membayangkan bagaimana Sungmin bisa bertahan dengan rasa seperti ini selama ini.
Kyuhyun mengusap setitik air mata di pipinya dan tersenyum tipis. Kalau Sungmin saja bisa kuat, kenapa dia harus lemah? Dia akan menunjukkan pada yeoja itu, bahwa dia telah banyak belajar darinya. Dia belajar rasa sakit, dia belajar rasa menyesal, dia belajar rasa kehilangan, dia belajar rasa tak diacuhkan, dia belajar semuanya. Belajar dari satu yeoja. Lee Sungmin.
'Aku akan bertahan, dan mendapatkanmu lagi, Chagiya.'
.
.
Sungmin menatap Kyuhyun yang masih duduk menunduk di sofa ruang tamunya. Sudah setengah jam dan namja itu masih saja menunduk dengan sendok bubur di tangannya. Sungmin perhatikan, baru sekitar empat suap bubur yang masuk kedalam mulut namja itu.
Kalau tidak salah ingat, tadi namja itu bilang 'tidak bisa menelan' apa ada masalah dengan tenggorokannya ya? Ish... sudahlah, jangan terlalu memikirkan namja itu... kalau pun dia memang benar-benar sakit dan membutuhkan perawatan serius kenapa tidak pergi ke rumah sakit atau klinik saja sih?
Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, sejurus kemudian yeoja manis itu mengangkat ponsel di mejanya dan menekan sebuah kontak, lalu menunggu...
"Yeoboseo Minnieya, Waeyo?" sapa seseorang di seberang sana.
"Oppa... bisa tidak hari ini bimbinganku di flatku saja? Aku tidak bisa keluar untuk hari ini," Sungmin berkata dengan nada sedikit manja.
"Ummm... tentu saja bisa, tapi agak sore ne? Aku ada beberapa jam mengajar, sekitar jam empat aku ketempatmu, arra?"
"Um!" Sungmin mengangguk, lupa kalau Siwon tidak bisa melihatnya. "Gomawo Oppa," gumamnya sambil tersenyum dan yakin bahwa di seberang sana Siwon pun tengah tersenyum untuknya.
Sungmin menutup sambungan teleponnya dan meletakkan ponsel itu di atas meja makan lagi. Kembali memandang Kyuhyun yang masih menunduk dengan sendok di tangannya. Sungmin bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan mendekat ke arah Kyuhyun.
"Kenapa kompresnya dilepas? Kau tidak mau sembuh? Biar bisa merepotkanku terus?" Sungmin mengomel saat melihat kantong kompres yang malah tergeletak di mejanya.
"Ung!" Kyuhyun menggeleng, lalu mengambil kantong kompres itu dan menekankannya di dahi dengan menggunakan tangan kirinya.
"Ish! Itu pasti sudah tidak dingin. Berikan padaku, biar kuganti isinya lagi."
Kyuhyun mengangguk dan menyerahkan kantong kompres yang memang tak lagi dingin. Sungmin menerimanya dengan sedikit hentakkan.
"Cepat habiskan buburnya," ujarnya singkat, lalu pergi menuju dapur setelah mendapati anggukan dari Kyuhyun lagi.
Sungmin tersenyum tipis. Tumben sekali namja itu begitu penurut saat sakit, padahal biasanya justru jadi makin banyak maunya saat sakit. Sungmin jadi berpikir kemungkinan kalau penyakit itu menyerang otak namja itu. Hah, biarkan sajalah, kalaupun menyerang otak asalkan hasilnya jadi lebih baik seperti ini.. kenapa harus dibasmi? Justru lebih baguskan.
_TBC_
Wah... ini chaps terpanjang untuk fic ini, dengan jumlah word 4k+. Scene di flat Sungmin ini bakal panjang, sesi Siwon datang saja belon... jadi Lhyn potong di sini aja ya? Kepanjangan ga? Ngebosenin ga bacanya?
Ngomong-ngomong, banyak reader labil ya.. *dibantai* padahal dulu semangat-semangat banget minta Lhyn nyiksa KyuPpa... tapi kemaren malah pada nyerah... Ayolah Chiguuuu... belom cukup siksaan buat Kyuppanyaa... Sabar Y... terus dukung Lhyn buat nyiksa Kyuppa ya... nanti Lhyn colongin topi bunny pink dari lemari MinPpa deh...*diVoodoo SparKyu* #Dorm Suju udah ga aman.
MAKASIH BANGET BUAT YANG RIFYU CHAPS KEMAREN :
Siticho, cho sera, KarooMinnie, JungNhurra, naeminnie, Evilevigne, KyuLie Minnie, Matsuka99, leeyoungmin, VainVampire, MinnieGalz, sierradew, sarangchullpa92, hie, Dina LuvKyumin, Hyeri, kyumin, Suci, jinki93, Rima KyuMin Elf, JoYoungminnie, Shana Elfishy KyuminAegya, Myeolchi's wife, Princess Chintya, Park HyunRa, ndoek, Yanna, Cho Hyun Jin, dhian kyuhae elf, BarbeKyu, Ka Hime Shiseiten, Kyuminshipper, Ms. KMS, choi hyekyung, Perisai Suju, KimHanKyu, Evilkyu Vee, lee hyuri, jojojooo, AIDASUNGJIN, hana, Perisai Suju, ChoZhouHyun, dian, MegaKyu, takara-hoshi, diitactorlove, SungMinnie, KyuHyunJiYoon, minnienyaevil9tha, Kim hyunie, eunhae25, Pumpkin01, kyokyorae, 2093, Soldier of Light, Kyu Anarchy.
Maaf kalo ada yang kelewat atau kesalahan tulis nama akibat efek mata jereng Author.
Jawaban pertanyaan Rifyu :
# Q : Udahan siksa Kyunya?
A : Gyah! Ga bisa-Ga bisa... Pan Lhyn pernah bilang Lhyn punya kecenderungan nyiksa Cast cowok! Sabar aja ya... nanti ada waktunya Kyu bahagia lagi... Liat aja perjuangan Kyuppa dalam merebut Minppa.
# Q : Endingnya Kyumin ato Simin?
A : Jelas Kyumin kok...
# Q : Kibum cepetin munculnya...
A : Ini juga ga bisaaa... Kibum bakal Lhyn munculin di akhir aja...
# Q : 20 chaps? Kebanyakan.. nanti bosen...
A : Yah... jangan bosen donk... Lhyn kasih kaos kaki natal punya KyuPpa deh... #dorm suju beneran udah ga aman.
# Q : Gada adegan NC YeWook?
A : Aduh! Lhyn ga bisa bikin NC BxB... whehehe jujur dah, Lhyn beneran ga bisa bayangin... tar kalo BxB apa yang mereka lakuin? Lhyn suka nyekip kalo baca NC BxB sih... ga bisa bayanginnya... hahaha... Mianhamnidaaaaa
# Q : Minnie ga jatuh cinta ama Siwon kan? Masa semudah itu ngelupain Kyu?
A : Jadi... Kan saat itu kondisi Minppa lagi labil tuh, butuh banget pegangan.. dan saat itu Siwon datang, dengan hangat dan lembut... masa Minppa ga luluh.. pasti luluh dong soalnya kalo Lhyn... udah lumer! #dicincang. Tapi, Min masih cinta kok ama Kyu... nah kenapa Min ga mau ama Kyu... itu ada alesannya... bakal Lhyn bahas sedikit demi sedikit nanti.
Cuplikan Chaps depan :
"Kau benar. Aku terlalu banyak melewatkan waktu untuk belajar mengerti dan memahamimu. Tapi setelah ini, aku tidak akan melewatkan seditikpun lagi."
.
"Tidak. Dengar... dengar Lee Sungmin, aku mencintaimu... kau dengar.. jangan mencintai namja lain, kau hanya boleh mencintaiku!"
.
.
Sekali lagi Lhyn berterimakasih untuk semua dukungannya... Untuk yang nge Fav ato Alert Story atopun Author... GAMSAHAMNIDA! jangan bosan untuk Rifyu ya, karena hanya Rifyu yang bisa bikin Lhyn tetep ngelanjutin fic ini... Saranghaeyo!
_01_03_2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar