AFTER ALL
Keping Duabelas
Genre : Romance , Hurt/Comfort,
Drama.
Rate : M
Cast : Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun,
Lee Sungmin as Lee Sungmin, Choi Siwon as Choi Siwon, Kim
Ryeowook as Kim Ryeowook, Kim Yesung as Kim Yesung, etc.
Pairing : Kyuhyun X Sungmin,
Siwon X Sungmin, Kyuhyun X Seohyun, and Yesung X Ryeowook,
the other only Friendship, Ada request untuk Slight lainnya silahkan PM.
Warning : Genderswitch, abal, geje,
aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain yang
membuat fic ini jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : Super Junior milik SME,
Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari
imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun.
Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!
.
"Ajik naegen neol naeryeonohneun
ge eoryeoungeol jogeumman siganeul jwo.
I can't live without you, My all is in you"
I can't live without you, My all is in you"
(Letting you go like this is still
difficult to me, Please Give me little more time. I can't live without you, My
all is in you) _ My all is in you-Super Junior_
.
"Mianhe, aku jadi
merepotkan kalian," ujar Sungmin, menatap menyesal pada Ryeowook yang
tengah membereskan obat-obatan milik Sungmin dan barang lainnya. Sementara
Siwon membereskan buah dan bunga hasil pemberian penjenguk untuk Sungmin.
"Kau ini, sudah kukatakan agar
tak perlu merasa seperti itu, kami bukan orang lain untukmu, benarkan
Wookie?"
"Eh? A-ah.. iya... benar Minnie noona...
jangan seperti itu," Sungmin tersenyum kecil melihat tingkah Ryeowook.
Tampaknya namja itu belum terbiasa dengan sikap Siwon yang mendadak
bersahabat.
"Oppa... bagaimana kalau
buah-buah dan bunga-bunganya kita berikan pada perawat dan pasien lain saja,
masih cukup baguskan?" Sungmin menatap banyaknya keranjang buah dan bunga
yang telah ditata Siwon. Huft... padahal dia cuma menginap semalam dirumah
sakit.
"Iya, ini masih bagus-bagus
semua, kau mau memberikannya?"
"Tak apakan? Supaya Oppa
tidak repot membawanya, lagi pula kulkasku tidak akan cukup menampung semua
itu," ujar Sungmin lagi.
"Apa ini juga mau
diberikan?" tanya Ryeowook sembari mengangkat boneka bunny milik Sungmin
yang dia bawa dari flat sungmin semalam. Yeoja itu mengeluh tak
bisa tidur, jadi Ryeowook membawakannya agar dia tidur, dan ternyata memang
bekerja dengan baik.
"Ish! Itu jangan."
Ryeowook tertawa menikmati raut kesal
Sungmin.
"Ya sudah, ayo...," ajak
Siwon, namja itu mengulurkan tangannya dan menyusupkannya ke belakang
lutut Sungmin. Sungmin pun mengalungkan lengannya ke leher namja itu
sebelum merasakan dirinya terangkat.
"Apa kami menginterupsi
sesuatu?"
Siwon refleks memutar tubuhnya
menghadap pintu tempat asal suara itu berada. Masih, dengan Sungmin yang berada
didekapannya.
"Heechullie Oppa?"
Sungmin membulatkan matanya menatap manager Super Junior yang super sibuk itu
berdiri di sana.
Siwon tersenyum tipis mendengar nama namja
itu dari bibir sungmin yang berarti Sungmin mengenali tamu itu. Namja tinggi
itu pun membawa Sungmin ke atas kursi roda tanpa bicara.
"Sebenarnya bukan hanya
aku...,"
"Annyeong,
Sungmin...," namja tinggi berambut kemerahan muncul dari belakang
Heechul dengan senyum lugunya yang begitu manis. Namja itu berjalan
kearah Sungmin dan memberikan buket Lily putih yang cantik. "Semoga lekas
sembuh, ne?"
"Gomawo, Hangeng-ssi,"
Sungmin membungkuk kecil dan tersenyum menerima bunga itu.
"Kalian sudah bersiap untuk
pulang? Ya! Minnie ya... kau jangan sampai masuk rumah sakit lagi, gara-gara
kau di rumah sakit aku terpaksa menunda jadwal latihan hari ini karena
anak-anak bodoh itu terus merengek meminta ke sini mengantarmu pulang,"
omel Heechul yang kemudian mendekat dan memberikan sebuah boneka bunny berwarna
pink kecil.
Sungmin tersenyum lebar mendapat
boneka itu. Tak banyak yang tahu kesukaannya, jadi tak banyak pula yang
memberikan boneka saat menjenguk sungmin. "Gomaw- eh, Mianhe
Oppa... aku tidak akan ceroboh lagi," ujar Sungmin, terlalu senang
untuk sekedar merasa bersalah dengan ucapan Heechul.
"Lalu ke mana mereka yang
merengek itu?" Ryeowook bertanya dari sudut ruangan tempatnya duduk di
atas sofa. Tampaknya baru membuat Heechul dan Hangeng sadar dengan
keberadaannya.
"Kami di sini!" itu suara
Eunhyuk, "Haha.. tadi kami mencari ini dulu, kemarinkan kami tidak sempat
membawa apapun," ujar Eunhyuk yang sebenarnya tidak terlalu diperhatikan
Sungmin karena yeoja itu tengah terpaku dengan senyum mengembang menatap
boneka bunny dengan ukuran luar biasa besar yang menutupi namja itu
sendiri. Di belakang namja itu, ikut masuk Yesung yang segera
menghampiri Ryeowook di pojok ruangan.
"Itu untukku?" Sungmin
bertanya dengan mata berbinar.
"Memangnya untuk siapa
lagi?" Eunhyuk meletakkan boneka itu di atas ranjang pasien. Dan tersenyum
lebar pada sungmin.
"Hyaaa! Gomawo
Hyukkie," seru Sungmin bersemangat dan merentangkan tangan mempersilahkan
Eunhyuk untuk memeluknya.
"Itu bukan darinya! Itu dari
kami," gumam suara besar Kang In, membuat gerakan Eunhyuk terhenti di
udara dan menatap sebal hyungnya yang berbadan besar itu.
"Gomawo Super
Junior!" Sungmin berseru dengan melakukan gerakan khas Super Junior yang
mengulurkan tangan dan memamerkan telapaknya dengan bangga.
"Kau mau kami menandatanganinya
juga?" Kang In bertanya dengan suara bassnya.
"Hajhima!" pekik
Sungmin, yeoja itu merentangkan tangan berusaha melindungi bunny besar
di atas tempat tidur pasien itu.
"Ya, kau ini... banyak orang
rela antri untuk tanda tangan salah satu dari kami," gumam Kang In, tak
terima tanda tangannya yang berharga ditolak mentah-mentah.
"Bukan begitu Oppa, ummm
bagaimana kalau kalian tanda tangan di sini saja?" Sungmin menunjuk perban
yang membalut kakinya.
"Itu bagus," celetuk Lee
Teuk, mencegah Kang In menggoda Sungmin lebih jauh lagi.
"Ke mana cincinmu?"
"Mwo?" Sungmin
menatap Hangeng yang baru saja melontarkan pertanyaan tak jelas itu.
"Cincinmu, cincin yang kemarin
aku lihat?" Hangeng bertanya dengan raut polosnya namun jelas, pandangan
matanya tak sepolos wajahnya.
"A-a... i-itu... hilang... aku
menghilangkannya," ujar Sungmin dengan suara berat. Entah mengapa, saat
itu matanya justru menuju kearah Kyuhyun yang berdiri paling belakang dan
tengah menatapnya juga.
"Hilang?"
"Tak apa, nanti biar aku yang
membelikannya, ne?" Ujar Siwon, namja itu mengusap bahu Sungmin
ketika melihat Sungmin yang menunduk sedih.
"Ahh begitu, apa itu artinya aku
juga punya kesempatan membelikannya— AAARGGHHH!" Hangeng menjerit keras
membuat semua mata jadi menatapnya. Namja itu meringis dan menggosok
pinggangnya dengan cepat, menahan rasa sakit di sebelah sana, sementara di
sampingnya, Heechul tersenyum manis.
"Apa semuanya sudah
ditata?" Lee Teuk segera mengambil perhatian mereka lagi.
"Eung! Tapi aku berniat memberi
semua buah dan bunga itu ke perawat dan pasien di sini karena sepertinya tak
akan mungkin kubawa pulang semuanya."
"Ya, sudah ayo..."
Sungmin melongo mendengar kalimat itu
keluar dari mulut Lee Teuk, sementara namja itu bergerak mengambil salah
satu keranjang buah. "Oppa... kau tidak berniat membuat rumah sakit
menjadi tempat huru-hara kan?"
"Tak apa, kita lakukan dengan
tenang dan cepat!" Lee Teuk meyakinkan dengan sebuah kerlingan nakal di
matanya. Membuat Sungmin menghela napas pasrah.
"Ayo!" Eunhyuk berseru
semangat dan ikut mengambil satu keranjang buah. "Apa itu juga?"
Eunhyuk bertaya menunjuk buket Lily di tangan sungmin.
Sungmin menggeleng. "Aniyo,
ini dari Hangeng-ssi. Satu-satunya chinguku yang berasal dari
China."
Member Super Junior lain,
Heechul, Hangeng dan Ryeowook pun ikut bergerak. Sementara Siwon mendorong
kursi roda Sungmin yang juga membawa satu keranjang buah. Satu kamar satu
orang, dan setiap orang mendapatkan dua kamar. Memang tak seheboh perkiraan
Sungmin karena begitu member Super Junior masuk, dia akan meletakkan
jari telunjuknya di bibir mengisyaratkan untuk tidak menjerit.
Namun juga tak setenang yang
dikatakan Lee Teuk, karena tak jarang terdengar pekikkan histeris dari sebuah
kamar. Dan dua kamar yang dikunjungi Kyuhyun adalah penghasil pekikkan
terkeras. Dan yang paling tenang adalah kamar-kamar Yesung, agaknya aura tenang
namja itu yang paling bisa mempengaruhi orang di sekitarnya.
Sungmin tersenyum sepanjang hari itu,
senyum yang menyembunyikan sebuah rasa. Karena sepanjang kebersamaan mereka
pula, Sungmin harus berusaha keras untuk tidak menatap Kyuhyun terlalu dalam.
Sementara hal sebaliknya terjadi, pandangan ganjil selalu dilayangkan namja
itu padanya.
.
.
"Kyunie... kau di mana?"
"Aku sedang di jalan Hyung,"
jawab Kyuhyun setengah berbohong.
"Cepatlah ke SME Building,
Heechul hyung mulai mencarimu," ujar Kang In dari seberang saluran
teleponnya.
"Ne, Hyung. Sepuluh menit
lagi aku di sana," gumamnya datar, kemudian mematikan ponselnya dan
melemparnya ke kursi di sampingnya yang kosong.
Dia menarik napas berat sementara
tangannya mencengkram roda kemudi kuat-kuat. Entah ini sudah hari keberapa
Kyuhyun menjalani profesi barunya sebagai seorang stalker. Konyol, ha?
Seorang Cho Kyuhyun, putra satu-satunya keluarga Cho yang juga seorang magnae
dari Boys Band yang mendunia, kini duduk bersembunyi di balik kaca
mobilnya hanya untuk bisa menatapi senyum manis seorang yeoja.
Dengan sebuah teropong hitam, Kyuhyun
terus mengamati setiap detil ekspresi yang ditampilkan wajah manis itu. Kadang
tersenyum, kadang merengut dan tak jarang menampilkan raut serius menatapi
laptop yang tergeletak di mejanya.
Di kejauhan sana yeoja itu
bangkit dari duduknya dibantu seorang namja tinggi dan mengenakan kruk
yang dua minggu terakhir terus berada di dekatnya. Lihat kan? Kruk itu bahkan
lebih beruntung dari Kyuhyun yang hanya bisa menatap Sungmin dari jarah yang
tak kurang dari dua puluh meter.
Kyuhyun mendecih kesal setiap kali
dia juga melihat sosok namja tinggi itu di samping Sungmin. Setahunya namja
bernama Choi Siwon itu hanya seonsaengnim yang membimbing Sungmin untuk
skripsinya. Tapi kenapa hampir setiap hari Sungmin bersamanya sih? Sebenarnya
bukan karena Kyuhyun tak tahu kalau sebulan sebelum sidang akhir, seluruh mata
kuliah memang harus telah diselesaikan. Dan sekarang saatnya Sungmin fokus pada
skripsinya, Kyuhyun tahu hal itu, hanya saja... mengetahui alasannya tetap saja
tidak membuat Kyuhyun jadi rela membiarkan mereka berdua-duaan tanpa
pengawasannya.
Setelah Sungmin tak terlihat lagi
karena yeoja itu telah masuk kedalam sebuah porsche hitam, Kyuhyun pun
menstater mobilnya. Melaju, menembus angin sunyi menuju SME Building.
Mencari kesibukan untuk mengalihkan semua rasa marah, kecewa dan menyesalnya
dalam tuntutan pekerjaan. Melakukan semuanya setotal mungkin hingga membuat
tubuhnya lelah dan terlelap hingga pagi.
.
.
Pagi hari selalu menjadi awal untuk
menjadikan hari yang lebih baik dari sebelumnya. Hal yang tak pernah Sungmin
luputkan ketika pagi adalah menyunggingkan senyumnya dan menyakinkan dirinya
bahwa hari ini semuanya akan semakin baik.
Yeoja manis itu tersenyum demi
sebuah harapan dan sebuah rasa yang perlahan tertutup. Sakit yang dulu terasa
sangat menyiksa kini tertutup perlahan dengan kehangatan yang hadir setiap
harinya. Perasaan sesak itu perlahan berkurang, seiring dengan penerimaan di
hati Sungmin bahwa Kyuhyun memang tak mungkin dimilikinya. Dan juga...
penerimaan pada perasaan yang baru.
"Ya!"
"Aa!" Sungmin melonjak
kaget merasakan tepukan keras di pundaknya. "Wookie-Ya! Kenapa
mengagetkanku?" Sungmin bersungut sambil memukul bahu Ryeowook pelan.
Ryeowook tersenyum puas. "Noona
melamun sih, jadi tidak merasakan aku datang," ujarnya seraya mencomot
piring kentang goreng yang tengah Sungmin tata dalam dua buah kotak bekal.
"Ya! Jangan memakannya
sembarangan Wookie, ini buat Siwon oppa," seru yeoja itu
merebut kembali piringnya.
"Ish!" Ryeowook mendesis,
lalu menatap dua kotak bekal yang terbuka di atas meja. "Jadi
bagaimana?"
"Mwo? Bagaimana
apanya?" Sungmin bertanya polos. Kalimat Ryeowook memang terdengar tak
jelas maksudnya bagi Sungmin.
"Tentu saja hubungan kalian,
Minnie noona-ku yang manis dan Choi Siwon yang menawan," ujar
Ryeowook dengan nada menggoda disertai sebuah towelan pelan di pipi Sungmin.
"Hubungan apa? Seperti biasa
saja, kami akan bertemu di tempat janjian, membahas aplikasiku lalu pulang.
Umm.. mungkin makan ice cream bersama sebelum dia mengantarku,"
jawab Sungmin datar.
"Aigo~ masa setiap hari
seperti itu terus? Kau harus bergerak Noona, jangan sampai ada yeoja
lain yang menyela lalu kau akan menyesal," kata Ryeowook, sambil terus
mencuri kentang goreng Sungmin satu per satu.
"Maksudmu aku harus menyatakan
cinta? Aigo~ aku ini yeoja, Wookie... aku tidak mau!"
Sungmin berujar sedikit keras.
"Aku tidak bilang menyatakan
cinta, tapi kalau kau memang mencintainya, itu bukan masalah... yeoja
juga boleh agresif..."
"WOOKIE!" Sungmin berteriak
saat merasakan tiupan yang cukup sensual di telinganya.
Ekspresi Sungmin sungguh membuat namja
itu puas dan tertawa keras-keras. Akibat keisengan namja bertubuh kecil
itu wajah Sungmin jadi memerah. Hah! Bisa-bisanya Ryeowook menggoda Sungmin
seperti itu.
'Teett.. teettt...'
Bell pintu menginterupsi tawa
Ryeowook sesaat, sebelum namja itu kembali tertawa lagi. Sungmin memukul
kaki Ryeowook dengan kruknya agak keras, membuat namja itu meringis
sakit. Masih kesal, Sungmin pun melemparkan kruk itu kearah Ryeowook, hingga namja
itu sedikit gelagapan menangkap lemparan benda panjang yang hampir menghantam
wajahnya.
"Awas saja kau!" Sungmin
bersungut dan bergerak melepas apron yang masih dipakainya. "Jangan
mengambil kentangku lagi!" kesalnya lalu melemparkan apron di tangannya ke
wajah Ryeowook yang kembali tersenyum-senyum menikmati tingkah Sungmin. Dan
kali ini apron itu mengenai wajahnya karena tangan Ryeowook masih memegang kruk
Sungmin.
Sungmin berjalan pelan dan sedikit
tertatih kearah pintu depan flatnya, saat melintasi ruang tengah dia
melirik jam di dindingnya. Masih setengah tujuh pagi, memangnya orang aneh mana
yang akan bertamu sepagi ini di flatnya? Umm... jangan hitung Ryeowook,
karena sudah jelas namja itu memang aneh, tak heran dia tahan berpacaran
dengan namja aneh lain seperti Yesung.
Sungmin membuka pintunya pelan dan...
membulatkan mata kelincinya. Tamu yang tak terduga... atau tamu yang
sepantasnya sudah Sungmin duga. Mana yang lebih pantas?
Sungmin mengerjapkan matanya cepat,
benarkan matanya tidak sedang menipunya? Apa ada yang salah di sini? Untuk apa
sosok itu berdiri di sana? Oh, ayolah... kalau hal ini terjadi tiga bulan yang
lalu mungkin bukan hal yang perlu Sungmin pikirkan.
"Boleh aku masuk
Minnie-...ya?"
Sungmin tersentak mendengar suara
bariton itu, lalu menangguk kaku. Sungmin tak tahu hal apa saja yang telah
terjadi pada namja itu selama tiga bulan belakangan. Tapi melihat wajah
pucat dan tatapan mata yang terkesan datar itu, Sungmin menebak ada hal buruk
yang menimpanya.
Setelah membiarkan namja itu masuk,
Sungmin menutup pintu flatnya pelan. Lalu berjalan kearah Kyuhyun yang
telah duduk di sofa panjang berlengan miliknya. Namja itu menyandarkan
kepalanya dan memejamkan matanya.
"Kyu... apa kau baik-baik
saja?" Sungmin bertanya pelan, menatap figur Kyuhyun yang terlihat lemah
di depannya.
Kyuhyun mengangguk pelan, tanpa
suara.
"Mau kubuatkan sesuatu? Kau
terlihat lelah," tanya Sungmin lagi, yeoja itu mempertahankan
posisi berdirinya di depan Kyuhyun dalam jarak cukup jauh.
Kyuhyun membuka matanya dan menatap
iris foxy milik Sungmin, lalu mengangguk. "Aku lapar," jawabnya
pelan.
Sungmin mengangguk lalu pergi
meninggalkan Kyuhyun menuju dapurnya. Sungmin merasa canggung dan kaku, hatinya
belum siap menerima kehadiran namja itu di flatnya. Entah untuk
alasan apa, Sungmin belum siap untuk menghadapi namja itu lagi.
"Siapa?" Ryeowook bertanya
sambil memasukkan lagi potongan kentang goreng ke dalam mulutnya.
"Kyunie," jawab Sungmin
singkat.
"Si brengsek itu, mau apa dia ke
sini!"
"Wookieya!" Sungmin meraih
lengan Ryeowook saat namja yang terlihat marah itu hendak keluar menemui
Kyuhyun dengan maksud tak baik. "Biarkan saja, sepertinya dia sedang tidak
sehat," ujar Sungmin menjelaskan.
"Lalu apa hubungannya denganmu?
Kau sudah tidak punya tanggung jawab apapun padanya, jadi jangan pernah biarkan
dia seenaknya datang padamu, kalau memang dia sakit kenapa tidak datang pada yeoja
itu saja, ha?" sergah Ryeowook dengan marah.
"Wookieya~ kau memang benar,
tapi aku juga tidak mungkin membiarkannya pergi dalam keadaan seperti itu, dia
benar-benar terlihat tidak baik," kata Sungmin berusaha meredamkan amarah
Ryeowook.
"Ya sudahlah," dengus
Ryeowook, lalu menatap sungmin hangat, "terserah Noona saja, maaf
aku sudah membentak Noona tadi," ujar Ryeowook dengan nada lembutnya
yang biasa. "Aku mau pulang saja, tidak tahan kalau terlalu lama bersama Crazy
Evil itu," tambahnya dengan mencomot piring kentang goreng milik
Sungmin yang tinggal setengah.
Sungmin hanya menggelengkan kepalanya
dan mulai meraih roti untuk membuat sandwich simple dan teh hijau hangat.
Meletakkannya dalam satu nampan dan membawanya keluar dari dapur.
.
Deg.
Sungmin bisa merasakan sentakan kecil
di dadanya saat mata kelincinya menangkap sosok itu. Kyuhyun telah berbaring di
sofanya dengan kaki yang masih menjuntai ke bawah. Wajah namja itu
semakin pucat saja.
"Kyun- Oh Tuhan!" Sungmin
tersentak saat menyentuh kulit Kyuhyun ketika hendak membangunkannya. Kulit itu
terasa panas, sangat panas. "Kyunieya~" rintih Sungmin saat merasakan
panas tubuh Kyuhyun di telapak tangannya yang menyentuh dahi namja itu.
Dengan langkah yang tertatih
terhambat luka di tulang keringnya, Sungmin bergegas kembali ke dapur. Sungmin
meraih kantong kompres dan mengisinya dengan air dan es, serta meraih obat
turun panas yang memang biasa dipakai Kyuhyun.
Sungmin bergegas kembali pada namja
itu, dengan sedikit kesusahan dia membenarkan posisi tidur Kyuhyun sebelum
meletakkan kantong kompresnya di kening Kyuhyun. Tak lupa dengan selimut untuk
tubuh Kyuhyun yang sedikit menggigil. Sungmin menghela napas berat saat menatap
sandwichnya... hufh... sepertinya dia harus membuat bubur.
.
"Kyunie... bangunlah, kau harus
makan sebelum minum obatnya," ujar Sungmin lembut, yeoja itu
mengusap-usap rahang kokoh Kyuhyun yang sedikit kasar, belum bercukur.
"Kyunieya~ bangunlah,"
panggilnya lagi, masih dengan mengusap rahang Kyuhyun.
"Enghhh..." Kyuhyun
melenguh dan menggerakkan tubuhnya sedikit. Kyuhyun membuka matanya sedikit dan
menatap Sungmin sayu. "Chagi~," ujarnya lirih.
Deg!
Sungmin memejamkan matanya merasakan
sentakan yang lebih kuat kali ini. Tidak-tidak, Kyuhyun hanya mengigau. Jangan
biarkan panggilan 'itu' membuatnya kembali berharap.
"Bangunlah, kau harus
makan," ujar Sungmin dengan tenggorokan tercekat.
Kyuhyun mengangguk pelan, Sungmin pun
membantu Kyuhyun untuk sedikit bersandar pada lengan sofa yang telah Sungmin
beri bantal untuk menyamankan. Kyuhyun tersenyum tipis saat melihat Sungmin
meraih mangkuk buburnya, namja itu pun membuka bibirnya sedikit. Namun
segera mengatupkannya lagi saat Sungmin menggangsurkan sendok kedepan mulutnya.
"Kenapa pakai sendok?"
Kyuhyun bertanya lirih dan sedikit kecewa.
"Kenapa? Kau mau pakai sumpit?
Atau pisau?" Sungmin menjawab sedikit ketus. Memangnya apa yang siharapkan
namja ini? menyuapi dengan bibir seperti biasanya saat dia sakit? Huh!
Jangan harap. "Buka saja mulutmu Kyunie, atau mau kupanggilkan Teuki Oppa?"
ancam Sungmin.
Tentu saja itu menjadi ancaman,
karena kalau Leader Super Junior itu sampai tahu keadaan Kyuhyun yang
seperti ini, tanpa ba-bi-bu dia akan langsung membawa Kyuhyun ke rumah sakit.
Dan Kyuhyun benci rumah sakit! Dia tidak akan pernah mau dirawat di rumah sakit
lagi kecuali dia benar-benar koma seperti dulu.
"Kejam sekali, aku ini
sakit," suara Kyuhyun masih lirih.
"Kenapa tidak ke rumah sakit
kalau begitu?" balas Sungmin dengan kembali menyodorkan sendoknya.
Dengan enggan, Kyuhyun pun membuka
bibirnya dan Sungmin segera memasukkan bubur itu kedalam mulutnya.
"Kunyah lalu telan,"
perintah Sungmin.
Kyuhyun menggerakkan rahangnya
sedikit untuk mengunyah... lalu menggeleng. "Thidak sha...
mhenehlang," gumamnya tak jelas.
"Ish! Manja, minum ini biar
gampang menelannya..." Sungmin menyodorkan gelas ke depan mulut Kyuhyun
dan membantu namja itu untuk meminum airnya. "Banyak-banyaklah
minum air pu—"
"Uhuk-huk.. ungh! Uhuk!"
Kyuhyun terbatuk saat menelan buburnya.
"Kyu!" pekik Sungmin saat
melihat wajah Kyuhyun yang tadinya pucat kini memerah cepat. Yeoja itu
menempuk-nepuk tengkuk bawah Kyuhyun dengan sedikit keras.
"Uh! Uhuk... Engh!" Kyuhyun
gelagapan sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri. "ANGH! Haaaa..."
"Kyunie.. kau baik-baik
saja?" Sungmin bertanya cemas saat terdengar suara Kyuhyun yang menarik
napas dalam dan batuk itu terhenti. Namja itu baru saja tersedak
buburnya dan menghalangi saluran napasnya.
"Kau mau membunuhku ya?"
sinis Kyuhyun dengan suara lemah. "Ish! Aku tak mau makan," kata
Kyuhyun masih dengan suara pelan. Sungmin yakin, kalau namja itu sehat,
yang tadi itu pasti berupa teriakan.
Sungmin mengeram merasakan
kesabarannya terkuras begitu cepat. Ingin sekali dia membekap dengan bantal namja
yang baru saja membuang muka darinya itu. Tapi melihat wajah Kyu yang kembali
memucat, membuat emosinya langsung surut begitu saja.
Sungmin menatap putus asa pada
mangkuk bubur yang masih utuh. Yeoja itu memang tak punya banyak pilihan
kalau menghadapi seorang Kyuhyun. Dengan cepat, dia pun menyuapkan bubur itu
kedalam mulutnya sendiri, lalu sedikit kasar meraih rahang Kyuhyun dan...
memutus jarak antara bibirnya dengan bibir panas namja itu.
Sesaat, tubuh keduanya sama-sama
menegang. Sungmin menarik napas dalam-dalam, lalu mulai memasukkan bubur itu
sedikit demi sedikit kedalam mulut Kyuhyun. Namja itu tersenyum tipis,
menerima bubur hangat dan bibir manis Sungmin yang masih memiliki rasa cherry
yang sama.
"Enghhh...," Sungmin
melenguh saat lidah Kyuhyun bergerak masuk kedalam mulutnya dan mengaduk bubur
itu dengan lidahnya sebelum menghisapnya sedikit demi sedikit.
Sungmin berusaha menjauh, namun
tangan Kyuhyun menahan tengkuknya dengan kuat. Bahkan hingga bubur itu telah
tak bersisa, Kyuhyun masih saja mengaduk mulut Sungmin. Tak mempedulikan
Sungmin yang memberontak, namja itu terus melumat bibir lembut itu.
Begitu rakus, seperti baru menemukan oase di tengah gurun.
'Prak'
Suara benturan keras agak menyentak
Kyuhyun, Sungmin baru saja membanting mangkuk buburnya di atas meja. Dan
lengahnya Kyuhyun buru-buru Sungmin manfaatkan untuk mengambil jarak dari namja
itu.
"YA! APA YANG KAU LAKUKAN!"
Sungmin berteriak marah, menatap Kyuhyun dengan emosi yang hampir membuat
kepalanya meledak.
"Min—"
"KELUAR DARI FLATKU!"
Sungmin masih berteriak dengan napasnya yang masih tersengal.
"Mianhe... jangan
mengusirku, jebal. A-aku hanya... aku... Mianhe... aku ingin di
sini," ujar Kyuhyun pelan dengan kepala yang menunduk menggambarkan
penyesalannya.
Sungmin mendengus, dia benar-benar
kesal dengan kelakuan Evil Magnae itu. Kemudian dengan langkah yang
menghentak, Sungmin masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Kyuhyun yang
tersenyum kecut menatap punggungnya.
Kyuhyun menarik napas panjang,
kemudian membaringkan tubuhnya di sofa itu lagi dan memejamkan matanya. Ugh!
Ini pasti karena belakangan dia terlalu keras bekerja, kepalanya jadi terasa
kian pening saja. Kyuhyun membuka sedikit matanya saat mendengar langkah Sungmin
yang mendekat.
Alis namja itu sedikit
berkerut saat melihat penampilan Sungmin yang telah rapi dengan mantel panjang,
rok di atas lutut dan boot rendahnya.
"Kau mau ke mana?" Kyuhyun
bertanya was-was, namja itu bangkit dari pembaringannya.
"Ketempat manapun asal tidak ada
kau di sana!" Sungmin menjawab dengan ketus.
"Jangan pergi!" seru namja
itu, dengan mengumpulkan seluruh tenaganya dia berdiri menghalau pintu.
"Siapa kau sampai berani
melarangku?" yeoja itu bertanya sarkatik.
"Kenapa kau begitu marah? Aku
hanya menciummu, kalau kau tidak suka aku tidak akan melakukannya lagi,"
ujar Kyuhyun lirih.
"Kalau kau butuh ciuman kau bisa
mendapatkannya dari ribuan yeoja di luar sana, tapi bukan aku! Aku bukan
yeoja yang bisa dicium oleh sembarang namja yang—"
"Aku bukan sembarang namja!"
sergah Kyuhyun, matanya menyipit menatap Sungmin tegas.
"Tetap saja kau bukan namja
yang berhak menciumku!"
"..." Kyuhyun diam, kalimat
Sungmin baru saja menyadarkannya akan rasa sakit yang belakangan terus bercokol
di dadanya. Namja itu memejamkan matanya sebelum menarik napas panjang
dan... menatap iris foxy itu dalam-dalam. "Kau benar, aku tidak berhak. Mianhamnida,"
gumamnya sungguh-sungguh dan tanpa menyembunyikan rasa sakit yang terpancar di
matanya. "Tapi kumohon jangan pergi, jangan meninggalkanku."
Sungmin diam. Ada sesuatu yang
menganggu dadanya saat menatap iris kecoklatan itu. Yeoja itu pun
menghela napas berat. "Dengan syarat. Jaga jarakmu, turuti semua
perintahku atau salah satu dari kita akan keluar dari sini, Arra?"
Kyuhyun mengangguk pelan dan
tersenyum tipis guna melembutkan tatapan mata Sungmin yang mengeras.
"Kembali ketempatmu, makan bubur
itu dan minum obatmu sendiri lalu tidurlah di kamar," perintah Sungmin
tegas.
"Arra," gumamnya
setelah berpikir agak lama.
Sungmin kembali menghela napas berat,
sebelum berbalik dari arah pintu di mana Kyuhyun masih berdiri menghalaunya.
"Kau mau ke mana?" suara
Kyuhyun terdengar lemah.
"Mengerjakan aplikasiku di meja
makan, kalau butuh sesuatu ambil saja sendiri, kalau tak bisa ketokkan
sendoknya ke meja untuk memanggilku. Jangan banyak bicara, aku muak mendengar
suaramu," ujar Sungmin dengan nada kejamnya.
Diapun melangkah masuk, tanpa mau
berbalik dan memandang wajah itu lagi.
Andai saja yeoja itu mau
berbalik sedetik saja, dia pasti akan terkejut melihat bagaimana kalimatnya
baru saja menggores dalam di dada namja di belakangnya. Tak ada lagi
gurat angkuh dan arogan di mata itu, hanya ada rintihan sakit dan penyesalan
yang terlalu dalam.
Kyuhyun memejamkan matanya dan
menarik napas dengan berat. Dadanya benar-benar sesak oleh rasa nyeri, matanya
yang telah panas semakin panas saja sekarang. "Minnie chagi,"
lirihnya, terlalu lirih bahkan untuk didengar telinganya sendiri. Namja
itu meraba dadanya yang terasa sakit, hatinya berdenyut perih, "aku masih
di sana, kan? Seharusnya aku masih di sana. Karena kau juga terus ada di
sini."
Inikah yang disebut karma? Inikah
yang dulu selalu Sungmin rasakan karena sikapnya yang sering menggores luka di
hati yeoja itu?
Sakit. Rasanya benar-benar sakit
hingga Kyuhyun tak bisa membayangkan bagaimana Sungmin bisa bertahan dengan
rasa seperti ini selama ini.
Kyuhyun mengusap setitik air mata di
pipinya dan tersenyum tipis. Kalau Sungmin saja bisa kuat, kenapa dia harus
lemah? Dia akan menunjukkan pada yeoja itu, bahwa dia telah banyak
belajar darinya. Dia belajar rasa sakit, dia belajar rasa menyesal, dia belajar
rasa kehilangan, dia belajar rasa tak diacuhkan, dia belajar semuanya. Belajar
dari satu yeoja. Lee Sungmin.
'Aku akan bertahan, dan
mendapatkanmu lagi, Chagiya.'
.
.
Sungmin menatap Kyuhyun yang masih
duduk menunduk di sofa ruang tamunya. Sudah setengah jam dan namja itu
masih saja menunduk dengan sendok bubur di tangannya. Sungmin perhatikan, baru
sekitar empat suap bubur yang masuk kedalam mulut namja itu.
Kalau tidak salah ingat, tadi namja
itu bilang 'tidak bisa menelan' apa ada masalah dengan tenggorokannya
ya? Ish... sudahlah, jangan terlalu memikirkan namja itu... kalau pun
dia memang benar-benar sakit dan membutuhkan perawatan serius kenapa tidak
pergi ke rumah sakit atau klinik saja sih?
Sungmin menggeleng-gelengkan
kepalanya pelan, sejurus kemudian yeoja manis itu mengangkat ponsel di
mejanya dan menekan sebuah kontak, lalu menunggu...
"Yeoboseo Minnieya, Waeyo?"
sapa seseorang di seberang sana.
"Oppa... bisa tidak hari
ini bimbinganku di flatku saja? Aku tidak bisa keluar untuk hari
ini," Sungmin berkata dengan nada sedikit manja.
"Ummm... tentu saja bisa, tapi
agak sore ne? Aku ada beberapa jam mengajar, sekitar jam empat aku
ketempatmu, arra?"
"Um!" Sungmin mengangguk,
lupa kalau Siwon tidak bisa melihatnya. "Gomawo Oppa,"
gumamnya sambil tersenyum dan yakin bahwa di seberang sana Siwon pun tengah
tersenyum untuknya.
Sungmin menutup sambungan teleponnya
dan meletakkan ponsel itu di atas meja makan lagi. Kembali memandang Kyuhyun
yang masih menunduk dengan sendok di tangannya. Sungmin bangkit dari tempatnya
duduk dan berjalan mendekat ke arah Kyuhyun.
"Kenapa kompresnya dilepas? Kau
tidak mau sembuh? Biar bisa merepotkanku terus?" Sungmin mengomel saat
melihat kantong kompres yang malah tergeletak di mejanya.
"Ung!" Kyuhyun menggeleng,
lalu mengambil kantong kompres itu dan menekankannya di dahi dengan menggunakan
tangan kirinya.
"Ish! Itu pasti sudah tidak
dingin. Berikan padaku, biar kuganti isinya lagi."
Kyuhyun mengangguk dan menyerahkan
kantong kompres yang memang tak lagi dingin. Sungmin menerimanya dengan sedikit
hentakkan.
"Cepat habiskan buburnya,"
ujarnya singkat, lalu pergi menuju dapur setelah mendapati anggukan dari
Kyuhyun lagi.
Sungmin tersenyum tipis. Tumben
sekali namja itu begitu penurut saat sakit, padahal biasanya justru jadi
makin banyak maunya saat sakit. Sungmin jadi berpikir kemungkinan kalau
penyakit itu menyerang otak namja itu. Hah, biarkan sajalah, kalaupun
menyerang otak asalkan hasilnya jadi lebih baik seperti ini.. kenapa harus
dibasmi? Justru lebih baguskan.
_TBC_
Wah... ini chaps terpanjang untuk fic
ini, dengan jumlah word 4k+. Scene di flat Sungmin ini bakal panjang,
sesi Siwon datang saja belon... jadi Lhyn potong di sini aja ya? Kepanjangan
ga? Ngebosenin ga bacanya?
Ngomong-ngomong, banyak reader labil
ya.. *dibantai* padahal dulu semangat-semangat banget minta Lhyn nyiksa
KyuPpa... tapi kemaren malah pada nyerah... Ayolah Chiguuuu... belom cukup
siksaan buat Kyuppanyaa... Sabar Y... terus dukung Lhyn buat nyiksa Kyuppa
ya... nanti Lhyn colongin topi bunny pink dari lemari MinPpa deh...*diVoodoo
SparKyu* #Dorm Suju udah ga aman.
MAKASIH BANGET BUAT YANG RIFYU CHAPS
KEMAREN :
Siticho, cho sera, KarooMinnie,
JungNhurra, naeminnie, Evilevigne, KyuLie Minnie, Matsuka99, leeyoungmin,
VainVampire, MinnieGalz, sierradew, sarangchullpa92, hie, Dina LuvKyumin,
Hyeri, kyumin, Suci, jinki93, Rima KyuMin Elf, JoYoungminnie, Shana Elfishy
KyuminAegya, Myeolchi's wife, Princess Chintya, Park HyunRa, ndoek, Yanna, Cho
Hyun Jin, dhian kyuhae elf, BarbeKyu, Ka Hime Shiseiten, Kyuminshipper, Ms.
KMS, choi hyekyung, Perisai Suju, KimHanKyu, Evilkyu Vee, lee hyuri, jojojooo,
AIDASUNGJIN, hana, Perisai Suju, ChoZhouHyun, dian, MegaKyu, takara-hoshi,
diitactorlove, SungMinnie, KyuHyunJiYoon, minnienyaevil9tha, Kim hyunie,
eunhae25, Pumpkin01, kyokyorae, 2093, Soldier of Light, Kyu Anarchy.
Maaf kalo ada yang kelewat atau
kesalahan tulis nama akibat efek mata jereng Author.
Jawaban pertanyaan Rifyu :
# Q : Udahan siksa Kyunya?
A : Gyah! Ga bisa-Ga bisa... Pan Lhyn
pernah bilang Lhyn punya kecenderungan nyiksa Cast cowok! Sabar aja ya... nanti
ada waktunya Kyu bahagia lagi... Liat aja perjuangan Kyuppa dalam merebut
Minppa.
# Q : Endingnya Kyumin ato Simin?
A : Jelas Kyumin kok...
# Q : Kibum cepetin munculnya...
A : Ini juga ga bisaaa... Kibum bakal
Lhyn munculin di akhir aja...
# Q : 20 chaps? Kebanyakan.. nanti
bosen...
A : Yah... jangan bosen donk... Lhyn
kasih kaos kaki natal punya KyuPpa deh... #dorm suju beneran udah ga
aman.
# Q : Gada adegan NC YeWook?
A : Aduh! Lhyn ga bisa bikin NC
BxB... whehehe jujur dah, Lhyn beneran ga bisa bayangin... tar kalo BxB apa
yang mereka lakuin? Lhyn suka nyekip kalo baca NC BxB sih... ga bisa
bayanginnya... hahaha... Mianhamnidaaaaa
# Q : Minnie ga jatuh cinta ama Siwon
kan? Masa semudah itu ngelupain Kyu?
A : Jadi... Kan saat itu kondisi
Minppa lagi labil tuh, butuh banget pegangan.. dan saat itu Siwon datang,
dengan hangat dan lembut... masa Minppa ga luluh.. pasti luluh dong soalnya
kalo Lhyn... udah lumer! #dicincang. Tapi, Min masih cinta kok ama Kyu... nah
kenapa Min ga mau ama Kyu... itu ada alesannya... bakal Lhyn bahas sedikit demi
sedikit nanti.
Cuplikan Chaps depan :
"Kau benar. Aku terlalu banyak
melewatkan waktu untuk belajar mengerti dan memahamimu. Tapi setelah ini, aku
tidak akan melewatkan seditikpun lagi."
.
"Tidak. Dengar... dengar Lee
Sungmin, aku mencintaimu... kau dengar.. jangan mencintai namja lain,
kau hanya boleh mencintaiku!"
.
.
Sekali lagi Lhyn berterimakasih untuk
semua dukungannya... Untuk yang nge Fav ato Alert Story
atopun Author... GAMSAHAMNIDA! jangan bosan untuk Rifyu ya, karena hanya
Rifyu yang bisa bikin Lhyn tetep ngelanjutin fic ini... Saranghaeyo!
_01_03_2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar