AFTER ALL
Keping Sepuluh
Genre : Romance , Hurt/Comfort,
Drama.
Rate : M
Cast : Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun,
Lee Sungmin as Lee Sungmin, Choi Siwon as Choi Siwon, Kim
Ryeowook as Kim Ryeowook, Kim Yesung as Kim Yesung, etc.
pairing : Kyuhyun X Sungmin,
Siwon X Sungmin, Kyuhyun X Seohyun, and Yesung X Ryeowook,
the other only Friendship, Ada request untuk Slight lainnya silahkan PM.
Warning : Genderswitch, abal, geje,
aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain yang
membuat fic ini jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : Super Junior milik SME,
Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari
imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun.
Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!
.
"Nunmantteumyeon ni saenggak
-Hey girl- Janakkaena sasil neo hana bakke anboyeo."
(When I open my eyes I think of you
(Hey girl) Assleep or awake the truth is I can only see you) _Sorry,
Sorry-Super Junior_
.
"Huaahhh... capeknya~,"
keluh Ryeowook sembari membaringkan tubuhnya di atas sofa berlengan panjang dan
menyandarkan kepalanya di pangkuan Yesung yang duduk di ujung sofa.
"Ya, yang baru selesai show
itu aku," protes Yesung, pelan. Lalu membiarkan jemari kecilnya menyusup
di helai kecokelatan namja yang berbaring di pangkuannya.
"Aku kan mencintaimu Hyung,
jadi kalau Hyung lelah aku juga lelah," komentar Ryeowook kocak yang
membuahkan satu cubitan halus di pipinya. "Ngomong-ngomong, kenapa si Evil
itu tidak pulang bersama kita tadi?"
Yesung meraih remote dan menyalakan
TV di depannya sebelum menatap namjachingunya yang tengah memainkan
rumbai-rumbai di tepian bantal sofa. "Dia pulang lebih dulu jadi tidak
ikut latihan untuk perform besok."
"Oh... tapi dia tidak di
sinikan? Uff... pasti menemui yeoja itu lagi, kenapa makin hari dia
makin menyebalkan sih?" Ryeowook menggerutu, gerutuan yang telah acap kali
Yesung dengar akhir-akhir ini.
Yesung bisa mengerti dan paham dengan
sikap mengibarkan bendera perang dari Ryeowook untuk magnaenya. Dan
Yesung sudah cukup makan rasa pahitnya kalau dia ikut menanggapi hal itu. Kalau
saja dia tidak melihat seberapa dekat hubungan namjachingunya itu dengan
yeoja bernama Lee Sungmin, sudah pasti Yesung akan menjadikan 'pembelaan
berlebihan' ini sebagai masalah besar.
'Teeettttt... Teeettttt...'
Ryeowook menghentikan sumpah
serapahnya saat mendengar pintu dorm Super Junior yang berbunyi, namja
itu menatap Yesung sesaat sebelum bangkit dan berjalan menuju pintu. Kembali
menggerutu.. "...pasti si Evil itu, awas saja kalau dia membawa yeoja
itu ke sini."
Namja itu membuka pintu dan
terpaksa harus menelan kembali kalimat 'manis' yang hampir tercetus dari
bibirnya, karena dia melihat namja imut yang asing baginya. "Siapa?
Mencari siapa?"
"Sillehamnida," namja
itu membungkuk dan tersenyum manis, wajahnya sangat imut dengan rambut pirang
menyerupai jamur yang dengan sukses manambah kesan lucu di sana. "Saya
mencari Kim Yesung, apa benar dia tinggal di sini?"
"Mwo?" Ryeowook
sedikit terkejut mendengar tujuan namja itu. "Ne, Kim Yesung
memang tinggal di sini. Boleh tahu kau ada perlu apa?" Ryeowook bertanya
tanpa dapat menekan rasa penasarannya.
"Siapa Wookie?" Yesung
muncul sebelum namja itu menjawab, setelah menatap Ryeowook sesaat
Yesung pun mengalihkan pandangannya pada namja imut itu.
"Dia mencarimu Hyung,"
ujar Ryeowook dengan nada penasaran yang masih sama.
"Kim Yesung? Lee Taemin imnida,
aku baru tiba dari Jepang dan Jong Shi Ajusshi menyuruhku untuk
menemuimu di sini," ujar namja itu dengan senyumnya yang –demi
apapun– membuat Ryeowook merasa sangat khawatir, dan... mendengar nama Appa
Yesung disebut, dengan segala keajaibannya itu mampu membuat lutut Ryeowook
terasa bergetar.
Firasatnya mengatakan akan ada hal
buruk yang terjadi.
"Appa yang mengirimmu ke
sini?" Yesung bertanya dengan telah kehilangan empatinya.
Namja imut itu mengangguk,
masih dengan senyum manisnya yang... menakutkan bagi Ryeowook.
"Apa hubunganmu dengan Appa?
Apa dia menyuruhmu untuk menjadikanku baby sittermu?" Yesung
tersenyum sinis dan berkata dengan sarkatis.
"Ani...," dia
menggeleng polos, "aku yeghonnyeomu, Yesung hyung."
"MWO?" Ryeowook
membelalakan matanya lebar-lebar, sementara lututnya benar-benar melemas
seketika. Dia benar-benar tidak suka melihat senyum imut nan polos di bibir
itu.
.
.
"Apa tidak apa-apa?"
Sungmin bertanya sekali lagi dengan pandangan mata yang mengarah pada Siwon dan
dua lembar tiket di tangannya bergantian.
"Sudah kukatakan aku tidak tahu
lagi siapa yang bisa kuajak, Minnie," jawab Siwon, masih dengan tenang
membawa porschenya tetap melaju.
"Tapi ini... theater ini kan sangat
mahal, aku tidak pernah nonton di sana sebelumnya."
"Yah, kuharap kau suka."
Sungmin mengangguk menghadapi senyum
Siwon, lagi pula tak ada lagi kesempatan untuknya menolak karena mobil yang
mereka tumpangi baru saja masuk basement parkiran gedung theater itu.
"Tak jauh dari sini ada restoran
kecil," Siwon berkata sembari membukakan pintu penumpang untuk Sungmin.
"Selesai dari sini kita kesana, Ne?"
"Omooo? Tidak usah, aku tidak
mau terlalu merepotkan Oppa," tolak Sungmin, yeoja itu
menerima uluran tangan Siwon dan balas menggenggamnya erat.
"Aku yang mau, kau menemaniku
saja. Tapi, kalau kau mau berbaik hati menemaniku, aku akan mentraktirmu,"
ujar Siwon berbelit, membuat Sungmin menggembungkan pipinya.
Siwon membawa Sungmin memasuki gedung
theater itu. Suasana klasik dengan siraman cahaya keemasan menyambut Sungmin di
sana. Sebuah ruangan berbentuk bulat dengan sebuah panggung yang masih tertutup
tirai merah ada di sana. Ruangan itu cukup besar, namun tak banyak kursi yang
disediakan. Sungmin menduga bahwa tempat itu hanya menampung sekitar seratus
orang sekali tampil.
Udara AC dan aroma terapi lavender
menyapa lembut, sementara kursi-kursi berbeludru merah telah cukup terisi.
"Ladies first...,"
gumam Siwon saat namja itu telah menemukan barisan nomor kursi mereka.
Berada diurutan kedua di depan dan
ada disudut tengah yang cukup strategis. Sungmin duduk dengan gugup setelah
mengambil sebuah buku alur cerita yang tergeletak di kursinya. Ini pertama
kalinya dia menyambangi tempat seperti ini.
"Kau tak suka?" Siwon
bertanya pelan saat menatapi raut wajah Sungmin.
"Ani, aku suka kok,"
jawab Sungmin, dengan mengambangkan senyum tipisnya.
"Aku tak mau memaksamu, kita
keluar saja kalau di sini memang tidak membuatmu nyaman," tawar Siwon
dengan sebuah pandangan yang menyiratkan pengertiannya.
"Aku suka kok, Oppa..."
"Kau yakin? Kalau pertunjukannya
sudah dimulai, kita tidak bisa keluar sampai pertunjukannya selesai."
Sekali lagi Sungmin menggeleng dan
tersenyum tipis. Bagaimanapun dia tak mau merepotkan Siwon lebih jauh lagi,
biarpun tiket itu didapat gratis dari kenalan Siwon yang Sungmin tak tahu
seberapa kenalnya mereka. Tapi, Sungmin cukup tahu diri untuk tidak
menyia-nyiakannya. Hah! Appanya pasti akan menceramahinya habis-habisan
kalau dia membeli tiket ini sendiri dengan sengaja.
"Duduklah," sebuah suara
yang sangat akrab di telinga Sungmin terdengar. Bukan... bukan suara Siwon
melainkan suara...
"Kyunie?" Sungmin berujar
saat matanya menangkap sosok itu, sama sekali tidak ada nada menegur dalam
suaranya.
"Minnie?" Kyuhyun juga
tampak terkejut saat mendapati Sungmin yang duduk kursi yang berada tepat di
samping nomor kursinya.
Sungmin tersenyum lembut namun cukup simple
dan memilih untuk tak terlibat pembicaraan lebih jauh dengan Kyuhyun atau pun yeoja
yang bersama dengan Kyuhyun, Seohyun.
Sungmin diam dan menunduk, mulai
membuka-buka bukunya dan mulai membaca alur cerita yang akan dipertunjukkan
sekitar lima menit lagi, dia sedang mencoba mengalihkan perhatian. Sebuah
cerita klasik, tentang saat di mana keberadaan vampire masih dipercaya. Seorang
vampire yang jatuh cinta pada pemburunya sendiri, mengenaskan menurut Sungmin.
Ada sedikit intrik dan kekuatan politik yang tersaji didalamnya, entah mengapa
Sungmin jadi membayangkan bahwa drama itu adalah gabungan antara Romeo Juliet
dengan Van Helsing.
Tak lama kemudian tirai merah itu di
buka perlahan di iringi sebuah alunan musik berdominasi violin yang terdengar
antara kebahagiaan namun menyayat.
"Kita tetap bisa keluar kalau
kau mau, Minne?" Siwon berbisik pelan di telinganya.
Sungmin hanya menggeleng dengan
gelengan pelan.
"Minnie—"
"Gwenchana, aku
benar-benar tidak apa-apa, Oppa. Tak perlu terlalu cemas," gumam
Sungmin dalam bisikan yang hanya bisa di dengar Siwon.
Yah, Sungmin tak apa-apa... atau
setidaknya, berusaha untuk tidak apa-apa. Hanya perlu untuk tidak memandang
mereka, hanya perlu untuk tidak menganggap mereka berada di sana dan dia tidak
akan apa-apa. Lagi pula, ada Siwon di sana... Sungmin yakin bahwa namja
itu akan berusaha untuk menenangkan hatinya saat Sungmin merasa mulai kacau.
Tak perlu banyak usaha, Sungmin hanya
perlu menggenggam tangan Siwon dan semua rasa itu akan mereda. Seperti biasa.
Lalu rasa nyaman itu akan menyebar lewat sentuhan jemari besar itu, menenangkan
dan menghangatkan.
Yah! Hanya seperti itu dan semuanya
sudah cukup untuk Sungmin.
.
.
.
Well, silahkan nikmati waktu bebas
yang kau ajukan dengan susah payah pada Heechul, Kyuhyun. Ya! Kau harus
benar-benar menikmati hasil kerja kerasmu yang telah merengek-rengek hanya
untuk dibebaskan dari jadwal latihan sore ini. Untuk tidak menyiakan ajakan
kencan dari yeoja itu, yeoja yang kini duduk di sisi kananmu.
Lalu kenapa? Kenapa perhatianmu
justru tertuju pada yeoja lain di sisi kirimu, yeoja yang bahkan
terkesan sedang mencoba tak mengacuhkanmu? Kenapa, kau harus memperhatikan raut
senang itu, kenapa kau harus menimati pertunjukan yang disajikan bibir plum
kala melengkung ke atas itu?
Lihat Kyuhyun... Lihat senyum itu,
tawa kecil yang bahkan terdengar begitu merdu diantara tawa puluhan orang lain
di sekitarmu. Membuat tangan jadi terasa gatal untuk tidak menyentuh pipi
lembut itu dan membuatnya menampikan senyum itu tepat kearahmu. Kearahmu,
Kyuhyun.
"Waeyo? Kenapa menatapku
seperti itu?" gertakan pelan terdengar dari Sungmin yang wajahnya kini
dihiasi semburat merah.
Namun sayangnya... dan sialnya,
gertakan itu bukan untuk Kyuhyun, melainkan untuk sosok yang berada di sisi
lain yeoja itu. Tanpa sadar, Kyuhyun meremas kepalan tangannya,
merasakan sesuatu yang bergolak liar di dalam perutnya. Seperti api yang
menjalar pelan, namun pasti. Membakar sedikit demi sedikit.
"Ani...," Kyuhyun
melihatnya, bagaimana namja di sana tampak salah tingkah dengan
menggaruk belakang kepalanya. Memuakkan!
"Minnie-ya, kau—"
"Shhh!" Kyuhyun mendesis
tajam saat melihat gerakan tangan namja itu yang hendak mengusap pipi
Sungmin.
Sungmin berbalik, melemparkan
pandangan bertanya dari mata kelinci itu. Mata kelinci yang... –Kyuhyun tak
tahu– seakan sesuatu telah hilang dari sana.
"Jangan berisik!" Kyuhyun
menjawab pandangan tanya itu dengan desisan pelan, lalu mengalihkan
pandangannya kembali ke arah panggung.
Ada yang hilang dipandangan iris foxy
itu, entah apa Kyuhyun tak tahu... namun dia ingin tahu. Sesuatu yang lenyap,
sesuatu yang seharusnya tak boleh lenyap. Namja itu menunduk, merasakan
sebuah kesenyapan yang merayapi dadanya.
"Hiks..." isakan yang
tertahan menyentak Kyuhyun.
Dengan cepat namja itu
mengalihkan pandangannya pada Sungmin, yeoja yang tengah mengusap air
matanya dengan asal. Kyuhyun tersenyum, yeoja itu masih saja cengeng
dengan hal-hal berbau drama picisan seperti yang kini tengah di tampilkan di
atas panggung. Biasanya, saat nonton bersama bersama, Kyuhyun selalu
menyediakan sekotak tissu atau sekedar sapu tangan. Ah! Sepertinya dia membawa
sapu tangan di...
"Pakailah."
"Gomawo, Oppa~
hiks...," ujar Sungmin yang sekali lagi menyentak Kyuhyun. Kyuhyun menatap
yeoja manis itu yang baru saja menerima sebuah sapu tangan dari...
lagi-lagi, sosok namja di sisi lainnya.
"Sssttt... sudah-sudah Minnie,"
gumam namja itu dengan nada yang begitu lembut. Dan Kyuhyun benar-benar
ingin mematahkan lehernya saat itu juga, saat tangan besar itu dengan seenaknya
menarik kepala Sungmin ke dadanya.
Dia... benar-benar sudah tak tahan!
Tidak seharusnya, mereka melakukan itu, karena seharusnya Sungmin hanya bisa
menyadarkan dirinya di dada Kyuhyun! Tidak ada yang lain!
"Jangan lakukan itu,
Kyunie!"
Kyuhyun tersentak saat merasakan
sebuah sentuhan hangat di tangannya yang terkepal. Namja itu mengerjap,
lalu menatap yeoja berambut pirang lurus yang menatapnya dengan
khawatir.
"Seonie...," ujar Kyuhyun
linglung.
Namja itu segera melemaskan
kepalan tangannya yang terasa amat kaku, entah kenapa. Kyuhyun tersenyum, dan
mengusap rambut Seohyun lembut. Lalu diam dan kembali menatap panggung. Di mana
lakon-lakon tengah memainkan sandiwara mereka dengan apik. Memontang-pantingkan
perasaan penonton.
Namun tak menyentuh perasaan namja
itu. Kyuhyun tetap diam saat semuanya tertawa, dia juga diam saat yang lain
diam. Iris kecoklatannya menerawang entah kemana, menyusuri jejak-jejak yang
terhapus dalam sekejap mata.
Sesuatu di dadanya tengah bergolak,
memperjuangkan sesuatu yang terasa penting... dan dia tak tahu itu apa.
.
.
Sungmin masih sibuk mengusapi lelehan
air matanya yang belum berhenti saat Siwon membawanya keluar dari gedung
theater. Genggaman tangan Siwon semakin mengerat saat mereka berjalan membelah
jalanan padat pejalan kaki di kawasan itu.
Sungmin memasukkan sapu tangan Siwon
ke dalam saku mantelnya, lalu merapatkan mantel itu sesaat sebelum kembali
memusatkan perhatian pada jalanan di depan mereka. Sungmin menengadah,
membiarkan cahaya keemasan lampu kota menghujani wajahnya dan menembus iris
kelinci itu.
Deg!
Sebuah sengatan listrik tiba-tiba
saja terasa di dadanya saat Siwon dengan lembut membawa tangan Sungmin masuk
kedalam saku mantel namja itu. Dada Sungmin berdebar merasakan aroma
intim yang tiba-tiba menguar diantara mereka. Udara memang dingin, dan usaha
Siwon untuk menghangat tangan Sungmin benar-benar berhasil. Bahkan bukan hanya
tangannya saja yang menghangat, karena wajah yeoja itu pun jadi terasa
memanas.
Sungmin tersenyum tipis, hal ini...
hal sepele seperti berjalan di tengah kerumunan dengan bergandengan tangan
dengan sang kekasih adalah hal yang sering kali Sungmin impikan. Impian yang
mungkin takkan pernah mampir di pikiran orang lain.
Karena Kyuhyun tak pernah bisa
melakukan hal-hal sesepele ini bersama Sungmin. Karena Kyuhyun selalu
membawanya ketempat-tempat dengan aura privasi yang sangat tinggi. Dan karena
Kyuhyun... tak pernah membawa telapak tangan Sungmin masuk kedalam saku
mantelnya.
Sungmin menengadah dan menatap wajah
Siwon yang beberapa centi berada di atas kepalanya. Wajah itu tetap tenang
seperti biasa, membuat Sungmin merasa miris. Kalau saja wajah di sana berbeda,
seandainya sosok itu adalah Kyuhyun pasti akan sangat membahagiakan. Kalau saja,
Kyuhyun bisa bersikap sehangat ini padanya, kalau saja... AKH! Hentikan Lee
Sungmin! Kau tidak boleh lagi mengharapkannya.
Sudah terlalu lama, tiga bulan adalah
waktu yang cukup untuk seorang Cho Kyuhyun menentukan pilihannya. Dan bila
nyatanya sampai saat ini dia belum juga kembali padanya, bukankah itu berarti
bahwa dia tidak memilihnya? Bukankah semuanya cukup jelas?
"Kita duduk di sana saja, ne?
Sepertinya hanya itu meja yang tersisa," ajakan Siwon membuat Sungmin
kembali ke dirinya lagi, yeoja itu mengangguk sebagai jawaban dan
mengikuti langkah Siwon yang masih menggenggam tangannya.
Kafe itu memang terkenal dengan
menunya yang memiliki rasa lebih, jadi meski hari ini bukan akhir pekan tempat
itu tetap saja ramai. Siwon menarikkan salah satu kursi dan dengan senyum
kecilnya dia meminta Sungmin untuk duduk.
"Hah! Sepertinya tak ada tempat
lagi, kita bergabung saja. Gwenchanayo, Seonie?"
Belum juga Sungmin meletakkan
bokongnya di atas kursi, sebuah suara tak asing mengalihkan perhatiannya. Dia
menghela napas saat mata kelincinya menatap dua sosok itu. Namja dan yeoja
yang mengenakan pakaian terlalu tertutup. Kyuhyun memakai mantel panjang dengan
masker dan topi sementara Seohyun mengenakan mantel dan syal yang terlalu
tinggi hingga hampir mencapai hidungnya dan sebuah kacamata besar.
"Kalian tak keberatankan?"
Kyuhyun bertanya dengan pandangan mata ganjil yang menatap Sungmin.
Sungmin mendengus tak menjawab, dia
tahu Kyuhyun sengaja melakukan hal itu. Namja itu mengikutinya, entah
untuk alasan apa. Sementara Siwon justru menjawab dengan sopan, yang menurut
Sungmin terlalu sopan untuk diberikan pada namja seukuran Kyuhyun.
Sungmin pun duduk dengan mencoba tak
memperdulikan emosi yang sempat tertangkap matanya di iris kecoklatan itu. Ada
kilat api yang dia tak mengerti dan dia tak ingin mencoba mengerti meskipun dia
tahu Kyuhyun menunjukkan rasa dalam mata itu untuknya.
"Sudah siap memesan?"
seorang Maid datang menghampiri mereka dengan senyum simpulnya.
"Ne, Bibimbab dua dan—"
Siwon dan Kyuhyun berpandangan, karena mereka baru saja mengucapkan hal yang
sama. Makanan favorite Sungmin.
"Satu ekspreso, kau mau minum
apa Minnie?" Siwon lebih dulu mengacuhkan hal 'aneh' itu dan
menatap Sungmin yang masih mencoba menganggap hal tadi adalah ketidaksengajaan
saja. Mungkin Seohyun juga suka dengan Bibimbab? Mungkin.
"Aku mau Ice cream ini, Oppa,"
jawab Sungmin sambil membolak-balik buku menu di bagian yang menampilkan
pilihan menu ice cream.
"Teh hijau hangat dan zangrandi ice
cream," lanjut Siwon pada Maid yang dengan cepat mencatat pesanan
mereka. "Ice creamnya untuk dessert saja ya, Minnie,"
ujar Siwon pelan yang dijawab dengan anggukan kecil oleh Sungmin.
"Oppa, lain kali kita
nonton lagi, ne?" Sungmin bertanya dengan suara pelan dengan maksud
agar hanya Siwon yang mendengarnya, dia sempat melirik Kyuhyun yang sedang
menyebutkan pesanan minumannya sesaat saja tadi.
Siwon mengangguk. "Kau akhirnya
suka juga? Nanti kita nonton lagi setelah kau lulus sidang akhirmu,
bagaimana?"
"Euh... sebulan lagi dong Oppa...
bagaimana kalau minggu depan saja?"
"Ani-aniyo. Kau harus
mengurangi waktu menyenangkan dirimu untuk sementara dan benar-benar berpusat
pada sidang akhirmu, oke?"
Sungmin berpikir sejenak, lalu
akhirnya mengangguk mengiyakan. "Kalau aku lulus, aku mau seharian di
taman hiburan, lalu berteriak di tepi pantai sore harinya dan menghabiskan
malam di atas Seoul tower," ujar Sungmin dengan menampilkan raut berpikir
imutnya.
"Haha, itu akan jadi hari yang
melelahkan," ujar Siwon mengacak rambut Sungmin pelan.
"Sangat tidak mengasikkan,"
celetuk Kyuhyun dengan nada sarkatis.
"Mwo?" Sungmin
menatap kejam namja yang menatapnya malas-malasan.
"Kubilang sangat tidak
mengasikkan," kali ini Kyuhyun berkata dengan nada menantang.
"Apanya yang tidak mengasikkan?
Kau pikir merayakan kelulusan dengan membuat Heebum hampir memakan Ddangkoma
itu mengasikkan?" Sungmin bertanya dengan delikannya yang sama sekali
tidak menyeramkan. Tanpa disadarinya, iris foxy yang terlihat penuh itu justru
membuat jantung Kyuhyun berdebar semakin kencang.
"Setidaknya itu tidak
membosankan," Kyuhyun berbicara rendah tanpa menatap Sungmin.
"Heebum memakan Ddangkoma?"
Seohyun bertanya heran dan Siwon juga menatap penasaran pada Sungmin.
"Ne, dia menculik Heebum dari
Heechul oppa dan menyembunyikannya di kamar Yesung oppa tanpa
memberinya makan. Sepanjang siang SME building gempar mencari Heebum, dan
Yesung oppa berteriak gila saat menemukan Ddangkoma hampir dimakan
Heebum malam harinya," cerita Sungmin dengan semangat sambil
menunjuk-nunjuk Kyuhyun dengan kejam.
"Ish, itu yang dinamakan
seru," ujar Kyuhyun dengan dengus kesalnya.
"Itu keterlaluan!" Sungmin
berujar agak keras, kesal dengan sikap Kyuhyun yang terlihat biasa saja.
"Biar saja keterlaluan, meski
begitu kau juga tetap—" Kyuhyun menghentikan ucapannya tiba-tiba.
Membuat Seohyun dan Siwon menatapnya
bertanya, sementara Sungmin membulatkan matanya dan menatap Kyuhyun. Pandangan
keduanya bertemu, hanya sesaat karena Sungmin segera mengalihkannya pada hal
lain. Kyuhyun mendecih melihat sikap yeoja itu, sikap yang terkesan
menolak.
Pesanan mereka datang, membuat
suasana yang mendadak kaku bisa sedikit teralihkan oleh kegiatan personal
mereka di atas meja. Sungmin terus menunduk menyantap makan malamnya tanpa
berani mengangkat wajah memandang Kyuhyun yang berada tepat di depannya.
"Oppa... Gomawo,
ne?" Sungmin berujar pelan, berharap kali ini Kyuhyun benar-benar tidak
akan mendengarnya.
"Untuk?" Siwon balas
berbisik dengan mendekatkan tubuhnya pada Sungmin.
"Semua yang Oppa berikan
dan lakukan untukku, mulai dari menjadi pembimbingku hingga menjadi sahabat
yang sangat baik untukku," ujar Sungmin, masih dengan berbisik dan kali
ini matanya sengaja menatap mata Siwon, agar namja itu tahu seberapa
sungguh-sungguhnya ucapan Sungmin kali ini.
"Semua itu kan memang tugasku,
tak perlu berterimakasih terlalu berlebihan. Aku senang bisa membuatmu bahagia,
untuk itu tetaplah semangat," balas Siwon dengan senyum lebar yang
menampilkan lesung pipi manisnya.
"Ne! Hwanting!" ujar
Sungmin dengan sedikit penekanan untuk menunjukkan rasa semangatnya. "Gomawo
anak baik," canda Sungmin dengan mengacak rambut Siwon, persis seperti
yang biasa Siwon lakukan padanya.
"Haha... kau ini...," gemas
akan tingkah Sungmin, Siwon pun mencubit kedua pipi Sungmin dengan lembut.
"YA!"
'Brag!'
Sebuah teriakan keras dan pukulan di
meja mereka membuat Siwon dan Sungmin melonjak terkejut. Keduanya pun menatap
si pelaku yang kini berdiri dengan amarah yang terpancar di matanya.
"Jangan berbisik-bisik di
depanku! Ish! Kalian benar-benar kekanakan! Seoni, kita pergi saja dari
sini!" Kyuhyun berkata dengan keras, dengan sentakan kasar namja
itu mengeluarkan lembar Won dari dompetnya dan menarik Seohyun dengan kasar.
Kyuhyun melangkah cepat, diikuti
Seohyun yang terbopoh di belakangnya, keluar dari kafe padat pengunjung itu.
Meninggalkan Sungmin yang masih mengerjapkan mata kelicinya akibat terlalu
kaget tadi, sementara Siwon... dengan mata yang berkilat ganjil namja
itu tersenyum simpul.
Senyum misterius yang tak satupun
orang mampu mengartikannya.
.
.
"Ani...," Lee Taemin
menggeleng polos, "aku yeghonnyeomu."
"MWO?" Ryeowook
membelalakan matanya lebar-lebar, sementara lututnya benar-benar melemas
seketika. Dia benar-benar tidak suka melihat senyum imut nan polos di bibir
itu.
Sementara Yesung justru terlihat
biasa dan masih bertahan dengan sikap sinisnya yang mendadak muncul tadi.
"Katakan pada Appa itu tidak akan berhasil, aku sudah menikah
dengan Wookie-ku," Yesung merangkul Ryeowook saat mengatakan ini.
Namja itu terdiam dan menunduk
dengan raut bingung dan khawatirnya. Raut yang Ryeowook tahu... bahwa tidak ada
seorang pun yang mampu mengabaikan kekecewaan di sana.
"Kenapa kau masih di sini? Kau
menungguku mengusirmu secara langsung?" bahkan Ryeowook dapat merasakan
hilangnya kadar sinis dalam suara Yesung kali ini.
"Aniyo, ponselku tidak
berfungsi di sini," namja itu menggeleng pelan, masih belum
mengangkat wajahnya.
"Lalu? Kau kan bisa menggunakan
telepon umum di luar sana," saran Yesung bahkan terdengar ragu kali ini.
"Hai, Arigatou Gozaimazu..."
namja itu membungkuk dan tanpa mengangkat wajahnya, dia berjalan pergi.
Seharusnya Ryeowook membiarkan namja
itu pergi dan tak membiarkan sisi kemanusiannya menang dengan bertanya...
"kau mau kemana?"
Namja itu menghentikkan
langkahnya dan berbalik pelan, lalu tersenyum tipis seakan mengerti
kekhawatiran Ryeowook. "Ke tempat penukaran uang, lalu mencari
penginapan," jawabnya lalu membungkuk lagi dan kembali berjalan.
"Apa kau tidak punya saudara
atau teman di Korea?" Yesung yang bertanya kali ini.
"Keluarga Kim satu-satunya yang Kaa-san
kenal di Korea, tapi tak apa, aku bisa menjaga diriku. Kalian tak perlu
cemas."
Yesung dan Ryeowook sama-sama terdiam
dan saling memandang.
"Hei, tinggallah di sini
sementara waktu sampai kau mendapatkan penginapan yang bagus," ucap Yesung
dengan cukup cepat. "Tak apakan, Wookie?"
Ryeowook mengangguk bimbang. Antara
cemas pada hatinya sendiri dan prihatin pada namja itu. "Dia
sepertinya masih belasan tahun," gumamnya saat menatap raut kekanakan di
wajah yang tersenyum dengan binar itu.
_TBC_
Haha.. dan ternyata.. Taemin gada
hubungan apapun ama Sungmin Hahaha *garing, ga lucu, dijitak reader*
Kyu udah cemburu tingkat akhir tuh..
Puas Reader terhormat? *smirk*
Kamus kecil : Sillehamnida (Permisi),
Ajusshi (Paman), yeghonnyeo (Tunangan), Arigatou Gozaimazu (Terimakasih
Banyak), Kaa-san (Ibu). Kalo ga salah, bahasa korea dan jepangnya
itu doank kan? Yang lain di liat chap sebelumnya ya...
Makasih banyak buat :
Cho Sera, PrincessChintya,
KarooMinnie, KyuLie Minnie, Sugar Rin, JoYoungminnie, Parkyoonha Evil Princess,
E.L.F, SparkyUntil dead, E.L.F, LienaJoYers95, VainVampire, Kyumin,
VainVampire, Shana Elfishy, Ka Hime Shiseiten, Ikkimassu, Lalapop, BarbeKyu,
Hyeri, Caxiebum, Ms. KMS, Nam Seulmi, Cho Hyun Jin, Kyu Anarchy, KimHanKyu,
Hyukieyes, Takara-hoshi, Kanaya, Qminhee, Sarangchullpa92,Queen of
Tears,Diitactorlove,Dian, 2093, SungMinnie, WindaaKyuMin, KyuHyunJiYoon 'masih'
Males Log In, hana, Cha, MinnieGalz, Eunhae25, Evilkyu Vee, Melani KyuminElf,
Cho Kyutmin1322, Evilevigne, Kim hyunie, AIDASUNGJIN, Rima KyuMin Elf, Siticho,
Fujiwara Roronoa, Phirre15, Jojojoooo, Soldier Of Light, lee hyuri, chi-kimchi,
Baby Pumpkin
Maaf kalo ada yang kelewat atau
kesalahan tulis nama akibat efek mata jereng Author.
Jawaban pertanyaan Rifyu :
# Q : Siksa Kyu lebih kejam lagi, dan
buat lebih cemburu lagi!
A : Siip Beres! Semakin lama Kyu
bakal semakin kesiksa kok...
# Q : Chapnya pendek, kurang
panjang... balesan rifyu malah lebih panjang!
A : Hwaa maaf... Lhyn emang suka
banyak bacot... chap kemarin ada 2800+ word only story kok... emang sih
biasanya 3k+ sih, jadi buat nutup chap kemaren ini Lhyn bikin 3200+ word only
story. Mianhe... balesan Rifyunya juga Lhyn buat pendek. Ga banyak ngomong
lagi. Mianhe.
# Q : Kapan KyuMin moment lagi?
A : Di atas banyak tuh... wkwkw...
ada Wonppa ama Seo sih...
# Q : Endingnya Kyumin
A : ini udah di pastikan kok... jadi
tenang aja ya... tetep baca dan rifyu.. :) *maumu!*
# Q : Banyakin SiMin momen kalo perlu
WonPpa nembak Minnie?
A : Simin banyak kok... kalo
nembak... Liat aja entar ya... *Smirk* #dikelelepin KyuPpa.
# Q : Munculin Kibum?
A : Yap! Nanti Lhyn munculin deh...
tapi akhiran ya...
Cuplikan Chaps depan :
"Saya Choi Siwon, ada kabar
buruk... Minnie kecelakaan dan sekarang—"
"MWO? KECELAKAAN?"
.
"Minnie chagi, apa kau
merindukanku? Aku sangat merindukanmu, meskipun saat ini kau ada didepanku tapi
aku tetap rindu... karena rasanya, kau seperti begitu jauh, Min—"
.
.
Sekali lagi Lhyn berterimakasih untuk
semua dukungannya... jangan bosan untuk Rifyu ya, karena hanya Rifyu yang bisa
bikin Lhyn tetep ngelanjutin fic ini...
_24_02_2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar