Rabu, 06 Juni 2012

AFTER ALL Keping Enam


AFTER ALL
Keping Enam
.
JUST COPAS FROM FFN
.
Genre : Romance , Hurt/Comfort, Drama.
Rate : M
Cast : Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun, Lee Sungmin as Lee Sungmin, Lee Donghae as Lee Donghae, Choi Siwon as Choi Siwon, Kim Heechul as Kim Heechul, etc.
pairing : Kyuhyun X Sungmin, Siwon X Sungmin, Kyuhyun X Seohyun, and Yesung X Ryeowook, the other only Friendship, Ada request untuk Slight lainnya silahkan PM.
Warning : Genderswitch, abal, geje, aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain yangmembuat fic ini jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : Super Junior milik SME, Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun. Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
Sungmin menggeliatkan tubuhnya, sementara matanya masih mengerjap pelan. Tangannya mencoba meraih sebuah benda yang dengan lancang mengganggu tidurnya. Menggapai-gapai hingga akhirnya benda pink yang terus bergetar itu berhasil mampir ke tangan putih bersih itu.
"Yeoboseyo," sapanya setelah –dengan asal– menekan tombolnya.
"Minnie chagi~ selamat pagi~."
"Eomma?" mata kelinci itu membulat mendengar suara yang keluar dari benda elektronik itu, dengan cepat diintipnya nama kontak yang tertera di layar ponsel sesaat sebelum kembali menjawab. "Ne, Eomma, selamat pagi."
"Chagi, kami baru saja tiba dari Nowon. Bisa kau buka pintunya Chagi~"
"Mwo?"
"Kami di depan flatmu Chagiya~"
"MWOOOO? Ne... Eomma!" sadar dengan kebodohannya, Sungmin segera berlari tanpa babibu lagi menuju pintu depan flatnya dan menemukan duo senior Cho di sana.
"Eomma, Appa, Annyeonghaseyo..." ujar Sungmin dengan membungkuk rendah. "Mian, Minnie baru bangun," ujarnya salah tingkah.
Namun sepertinya hal itu sama sekali tak menjadi masalah bagi kedua senior Cho itu karena kini nyonya Cho telah memeluk yeoja manis itu dan mengusap punggung Sungmin dengan hangat.
"Bagaimana kabarmu Nak?" tanyanya seraya mengusap pipi chubby Sungmin yang masih kusut.
"Baik Eomma, Eomma dan Appa—"
"Minnie Chagiya, Kena—Hoo? Eomma? Appa?" sama halnya dengan Sungmin, Kyuhyun juga tampak terkejut dengan keberadaan dua senior Cho itu di flat Sungmin. "Kapan kalian datang?"
Entah memang pada dasarnya Kyuhyun tak punya malu, atau urat kemaluan namja itu telah terputus atau –hal yang agak mustahil– namja itu telah menjadi Babo ter-babo di dunia hingga sama sekali tidak menyadari wajah Sungmin yang telah memerah atau tatapan speachless dari dua senior Cho itu? Ayolah! Apa yang akan kau pikirkan ketika melihat seorang namja keluar dari kamar yeoja di pagi hari hanya dengan memakai celana pendek yang bahkan tak menyentuh lutut namja itu?
Meski kenyataannya mereka hanya tidur bersama –harap gunakan italic, bold, underline untuk kata 'hanya'– tapi bukan berarti hal itu tidak akan memancing pemikiran-pemikiran 'lain' dari orang lain yang melihatnya kan? Dan menyadari hal itu, dengan sukses wajah Sungmin telah mampu menyamai kepiting saus tar-tar di atas piring.
"Kyu? Kemana pakaianmu?" Tuan Cho lah yang pertama kali sadar. Mungkin karena tidak terpengaruh oleh perut six pack dari namja itu.
"Aish! Hehehe..." namja itu hanya tertawa menyadari kebodohannya sendiri dan berlalu, masuk kembali kedalam kamar Sungmin.
Uh! Benar-benar tak tahu sopan santun! Sungmin jadi tak habis pikir, bagaimana bisa dia jatuh cinta pada namja yang bahkan tak bisa bersikap sopan di depan orang tuanya sendiri?
Beberapa saat setelah Kyuhyun menghilang, Sungmin baru mempersilahkan keduanya masuk –hah! Sepertinya dia ketularan penyakit tidak sopannya Kyuhyun– dan membuatkan teh hangat untuk keduanya. Kunjungan hari ini agak mengejutkan, karena biasanya mereka akan menelefon minimal sehari sebelum mereka datang, bukan tiba-tiba menelepon setelah lama mereka mengetuk pintu hingga tak ada yang membukanya.
Sungmin tersenyum kaku saat Kyuhyun muncul kembali dengan pakaian lengkapnya, mengingatnya Sungmin jadi bersyukur dia mengenakan pakaian lengkap saat bangun tidur. Dan melihat Kyuhyun yang telah rapi dengan rambut sedikit basah dan aroma sabun yang masih menguar, Sungmin juga jadi ingin mandi. Untuk itu dia berpamitan dengan sopan pada kedua orang tua Kyuhyun yang sebenarnya masih punya banyak pertanyaan untuk Sungmin.
Sungmin tak banyak membuang waktu, begitu selesai mandi yeoja yang telah tampak jauh lebih baik –dari pada sebelum mandi– itu segera kembali menemui dua senior Cho yang masih asik menikmati cangkir teh dan kue-kue kering buatan Sungmin.
"...biar nanti kami yang putuskan sendiri Eomma!" seru Kyuhyun dengan sedikit keras.
Sungmin mengangkat alisnya, penasaran dengan topik pembicaraan yang membuat Kyuhyun berbicara agak keras di depan kedua orang tuanya.
"AH! Sepertinya tak ada gunanya bicara denganmu, Eomma mau bicara dengan Minnie chagi saja," seru nyonya Cho begitu melihat Sungmin yang telah muncul.
"Gwenchanayo?" Sungmin semakin penasaran begitu melihat raut kesal Kyuhyun.
"Gwenchana Minnie, duduklah. Kami sedang membicarakan rencana pernikahan kalian,"
"Mwo?" bola mata foxy itu membulat.
"Eomma! Sudah kubilangkan, kalau masalah pernikahan kami akan memutuskan sendiri," sergah Kyuhyun.
"Kalian sudah cukup lama menyandang status yaghonnyeo, dan Eomma sudah semakin tak sabar untuk mendengar tangisan bayi Kyu! Eomma dan Appamu sudah semakin tua."
"Ahra noona akan melahirkan tujuh bulan lagi!" Kyuhyun masih mencoba bertahan. Dan apa yang dikatakannya itu memang benar, sekitar dua bulan yang lalu Sungmin mendengar kabar kehamilan Ahra.
"Ahra di London Kyunie, masa Eomma harus bolak-balik ke London cuma untuk mendengar tangis bayi?"
"Kenapa kalian tidak mencoba mendengarkan pendapat Minnie?" Appa Kyuhyun mencoba menengahi pertengkaran itu. Yang sialnya, hal itu malah di lemparkan pada Sungmin yang bahkan masih belum bisa menenangkan detak jantungnya mendengar kabar rencana pernikahan ini. Pernikahannya dengan Kyuhyun.
"Eummm...," yeoja itu gugup, "Minnie... Minnie masih ingin kuliah Eomma," damn! Kenapa malah itu yang keluar?
"Minnie Chagi, kami juga tidak meminta kalian menikah bulan ini, rencana Eomma dan Appa juga sekitar lima-enam bulan lagi setelah kamu wisuda Nak, agar persiapannya lebih matang."
"Eomma, itu terlalu cepat!" Kyuhyun kembali menyergah.
Entah kenapa, Sungmin merasa kecewa dengan penolakan Kyuhyun itu.
"Ada banyak hal yang perlu di persiapkan, Aku juga belum cukup mapan untuk bisa menghidupi Sungmin dan anak-anak kami nanti,"
"Aish! Kyunie, kau banyak beralasan! Minnie chagi, kau tinggalkan saja dia dan menikah dengan namja lain, Eomma sudah tak sabar ingin punya cucu darimu."
"Eomma! Yang anak Eomma itukan aku!"
"Memangnya kapan Eomma bilang kau itu anak Eomma?" Nyonya Cho berujar sengit menghadapi anak lelakinya.
"Aish! Tega sekali!" kesal Kyuhyun.
Sungmin tersenyum melihat tingkah manja Kyuhyun itu, namja itu merengut dengan raut kesal yang jarang sekali terlihat di wajah tampannya.
"Minnie? Bagaimana menurutmu?" Appa Kyuhyun kembali mengingatkan Sungmin tentang keharusannya berpendapat.
Yeoja itu menatap Kyuhyun yang masih tampak kesal, kemudian duduk di sampingnya dan mengenggam tangan Kyuhyun lembut. "Minnie tak mau memaksa Kyunie, Minnie juga tak punya alasan khusus untuk menolak. Tapi, kalau memang Kyunie belum siap, Minnie bisa mengerti. Kyunie masih sangat muda, karirnya juga masih sangat bagus, Minnie tidak mau menjadi satu beban yang kelak akan di sesali Kyunie," ujar Sungmin lembut, seraya mengusap tangan Kyuhyun dengan ibu jarinya.
"Aish! Minnie, kau sangat baik..," nyonya Cho bangkit dan mengusap pundak Sungmin penuh sayang. "Eomma tidak mengerti kenapa nasibmu begitu sial sampai mendapatkan namja seperti Kyuhyun."
"Eomma! Berhenti menjelekanku, yang anak Eomma itu aku. Lagi pula, meskipun Eomma bilang aku namja terburuk sekalipun tidak akan membuat Minnie meninggalkanku, dia sangat mencintaiku," ujar Kyuhyun bangga dan meraih pundak Sungmin untuk memeluknya.
Sungmin tersenyum, namun di balik bahu kokoh Kyuhyun, yeoja itu meringis memikirkan kata-kata Kyuhyun. Ya, memang benar Sungmin tidak akan meninggalkan Kyuhyun. Tapi, bagaimana dengan Kyuhyun? Apakan namja itu juga tidak akan meninggalkannya, apakah namja itu juga mencintainya? Sungmin tak yakin.
.
.
Audi putih itu berhenti mulus di halaman parkir timur ELF University yang telah menjadi langganan Kyuhyun karena tak banyak mahasiswa yang memarkirkan kendaraannya di sana, memberinya sedikit privasi. Pagi itu setelah sarapan bersama, pasangan duo Cho segera pamit, menurut mereka tak ada lagi yang perlu dibicarakan karena baik Kyuhyun ataupun Sungmin menolak rencana mereka.
Nyonya Cho tampak sangat tidak puas saat akhirnya mereka harus berpisah, dia meminta Sungmin untuk mempertimbangkan hal itu sekali lagi. Dan dengan tega dia kembali berkata kalau dia tidak peduli pada Kyuhyun, asalkan dia bisa cepat memberinya cucu. Meski begitu, dia tetap memeluk Kyuhyun dengan erat seakan dia begitu merindukan putra satu-satunya itu.
"Kujemput untuk makan siang," Kyuhyun mengingatkan satu rutinitas mereka.
Sungmin mengangguk dan tersenyum lembut sebelum keluar dari audi putih itu. Entah kenapa, rasanya masih ada satu ganjalan di dadanya saat dia mengingat penolakan Kyuhyun itu. Apa yang dikatakan Eomma Kyuhyun itu benar, mereka sudah cukup lama menyandang status yaghonnyeo. Dan juga, Sungmin telah memberikan semuanya pada yeoja itu. Dua minggu belakangan semenjak malam pertama mereka, Kyuhyun selalu datang dan membawa Sungmin dalam satu ciuman panjang yang selalu berlanjut pada satu penyatuan.
Kalau saja semalam Kyuhyun tidak datang dini hari dengan tubuh lelah, Sungmin yakin cumbuan namja itu juga akan berlanjut pada hal yang sama. Sungguh, semua itu membuat Sungmin semakin bimbang, kali ini bukan hanya pada perasaan Kyuhyun tapi juga pada keteguhan hatinya. Sungmin tak tahu apakah dia akan bertahan bila rasa sakit seperti ini yang terus datang menghadangnya.
'Puk'
"Uggh!" Sungmin meringis saat kepalanya menabrak sesuatu, yeoja itu menengadah dan melihat Siwon yang baru saja menurunkan tangannya. Tangan yang tadi di tabrak kening Sungmin. "Oppa?"
"Melamun saat berjalan? Sungguh tindakan tercela yang sangat tidak pantas dilakukan oleh taehaksaeng sepertimu, Minnie," ujar Siwon, seraya menyamakan langkahnya dengan Sungmin yang mulai kembali berjalan.
"Kau berlebihan Oppa," ujar sungmin dengan sedikit tawa pelan.
"Kau ada kelas pagi ini?" Siwon bertanya, mengalihkan pembicaraan.
Sungmin mengangguk.
"Bagaimana programmu? Sudah ada kemajuan dari saat pertemuan terakhir kita?"
"Eung... aku sudah berhasill menyusun semua data base sesuai flow chart yang ada, tapi rasanya masih belum siap untuk menghadapi sidang pertama nanti," ujar Sungmin dengan pesimismenya.
Siwon menggusap pundaknya, menenangkan. "Kau pasti bisa, sidangnya masih lima hari lagi. Aku akan membantumu sebaik mungkin."
"Gomawo Oppa," ujar Sungmin, dengan mata kelinci yang menatap lembut pada sosok tinggi itu.
"Hem," namja itu mengangguk pelan. "Aku juga harus mengajar sekarang, sampai jumpa besok dijadwal bimbingan kita, Minnie," Siwon tersenyum simpul, kemudian berlalu setelah Sungmin membalas senyumnya.
"Dia namja yang baik, tampan dan ramah. Kalau aku jadi yeoja, aku pasti akan jatuh cinta padanya."
Sungmin berbalik mendengar kalimat itu dan melihat Ryeowook telah berdiri di belakangnya. "Aish, apa maksudmu Wookie, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya."
"Ada yang aneh di sini, setahuku Choi seonsaengnim tidak suka kalau ada yang memanggilnya dengan nama 'Siwon' apalagi Oppa. Dia mengajar di kelas Visual Art-ku, kau tahu, dia menghukum taehaksaeng yang membicarakannya dan menyebutnya dengan 'Siwon'," Ryeowook berkata dengan memijit dagunya, bergaya ala detektif yang hampir bisa menyelesaikan kasusnya.
"Ya, Wookie. Jangan berbicara buruk tentang orang lain, Siwon Oppa tidak mungkin sekejam itu," seru Sungmin tidak terima, tentu saja dia tidak suka jika seonsaengnim yang belakangan jadi favoritenya dijelekkan seperti itu.
"Aish! Aku tidak menjelekkan Noona, dia kan tampan, banyak sekali yeoja taehaksaeng yang ingin mendekatinya tapi selalu mundur saat mengingat sikap dingin dan kejamnya," Ryeowook juga tampak tak terima dikatai menjelekkan orang lain.
Sungmin diam, rasanya tidak mungkin sekali Siwon Oppa yang begitu ramah padanya bersikap seperti itu pada orang lain. Tapi lebih tidak mungkin lagi kalau Ryeowook berbohong tentang hal yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya untuk dia.
"Selain jadi pembimbing skripsimu, dia tidak mengajar di kelasmu kan?" Ryeowook kembali menyangkal dengan sebuah bukti kuat.
Sungmin mengangguk dan itu memunculkan sebuah evil smirk di wajah namja imut itu. "Kalau begitu sudah jelas, kau punya tempat spesial dihatinya."
"Ya! Ryewook! Jangan bicara sembarangan!"
"Minnie chagiya~," Ryeowook berkata dengan menggoda, kemudian merangkul pundak yeoja itu dan berbisik pelan, "kau tidak tertarik padanya? Dia tampan lho?"
Sungmin tak menjawab, yeoja itu hanya mengangkat tangan kanannya dan menunjuk sebuah cincin di jemari manisnya. "Aku harus segera masuk kelas Wookie," ujarnya, kemudian berlalu meninggalkan Ryeowook sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kata-kata Ryeowook benar-benar konyol menurutnya.
Yeoja manis itupun kembali melangkah menyusuri koridor kampusnya yang berangsur menjadi lenggang karena jam kuliah memang sudah di mulai. Sungmin berjalan santai karena jam kuliahnya saat ini diajar oleh Park Lee seonsaengnim yang terkenal suka terlambat.
"Aish! Padahal kita hanya terlambat lima menit, kenapa Choi seonsaengnim mengusir kita sih?" Sungmin mendengar gerutuan seorang yeoja pada yeoja lain yang berpas-pasan dengannya.
Sungmin menghentikan langkahnya, lalu mendengarkan.
"Um! Untung saja dia tampan, kalau tidak pasti sudah banyak teror yang datang padanya," yeoja yang lainnya bicara.
Entah kenapa Sungmin merasa kedua yeoja itu tengah membicarakan seseorang yang dikenalnya. Maka dengan rasa penasaran yang sedikit mendesak, Sungmin berjalan mendekati pintu kelas yang mengeluarkan dua yeoja itu dan mengintip melalui kaca kecil yang terdapat di tengah pintu.
Sungmin mengernyitkan alisnya dengan bibir mengerucut saat melihat di dalam ruangan itu seseorang yang biasa di panggilnya 'Siwon Oppa' tengah mengajar di depan puluhan taehaksaeng.
Ada rasa bangga, rasa penasaran, beribu pertanyaan, dan sedikit kecewa. Sungmin jadi ingat saat pertama kali dia bertemu dengan Siwon, dia ingat betul saat Siwon mengatakan 'Aku tidak terlalu suka suasana kaku'. Lalu, apa yang tengah terjadi pada Siwon di hadapan semua orang? Ah, rasanya pertanyaan itu kurang tepat. Mungkin akan lebih tepat kalau, apa yang terjadi pada Siwon saat di hadapannya?.
Uh! Tidak, jangan bilang Siwon menyukai Sungmin. Love at the first time? Haha. Sungmin memang percaya dengan hal seperti itu, tapi sangat konyol bila itu diterapkan di sini. Meskipun sebenarnya tidak terlalu konyol juga. Aish! Pikiran yeoja itu jadi berputar kemana-mana. Sebaiknya dia segera ke kelasnya atau dia akan bernasib sama dengan dua yeoja yang tadi di usir Siwon dari kelasnya.
.
.
Sungmin mentap gedung itu dengan ragu. Karena seonsaengnim di jam kuliah ke tiga mendapat tugas seminar keluar kota dan tak ada seonsaengnim pangganti selain tugas menumpuk yang di tinggalkan membuat Sungmin merasa jengah di kantin sendirian. Ryeowook masih ada kuliah, sementara Kyuhyun baru akan menjemputnya jam dua belas. Karena masih satu jam lagi Sungmin pun memutuskan untuk mendatangi Kyuhyun di SME building.
Sedikit membawa kejutan dengan dua kotak bekal di tangannya yang dia masak cepat-cepat di dapur Universitas. Tapi Sungmin jadi ragu begitu menatap gedung tinggi di depannya. Sedikit takut Kyuhyun tidak ada di sana meski pun dia telah memastikan melalui Ryeowook bahwa Yesung ada di sana.
"Lee Sungmin, Hwanting!" Sungmin berseru pada dirinya sendiri.
Kemudian yeoja itu pun kembali melangkah, menaiki satu persatu tangga depan gedung SME itu. Dicobanya untuk mengembangkan senyum tipis dan menapaki langkahnya dengan hentakan semangat. Dengan sedikit tarikan Sungmin membuka pintu kaca di depannya.
"Minnie!" sebuah panggilan mengalihkan perhatian Sungmin saat yeoja itu hendak menyusuri gedung itu dengan mata kelincinya.
"Heechul oppa, Annyeong," sapa yeoja itu begitu melihat namja yang memanggilnya tengah berjalan menjauh dari lift dan mendekatinya. Kim Heechul, manager Super Junior.
"Mencari Evil Maknae? Dia di ruang audio dua. Ayo ikut bersamaku, aku juga akan kesana setelah— AH! Itu dia, HANGENG!" Heechul, sibuk sendiri dengan kalimatnya, sementara Sungmin hanya mengangguk dan kini ikut memandang ke arah pandang namja cantik itu.
Seorang namja datang menghampiri mereka dan langsung berpelukan ala namja dengan Heechul.
"Minnie, tadi aku mau bilang aku sedang menunggu dia. Dia Hangeng temanku dari China, dan Hangeng, ini Lee Sungmin, Chinguideul anak-anak Super Junior," ujar Heechul, saling memperkenalkan keduanya.
"Tan Hangeng imnida," ujar Hangeng, membungkuk dengan tangan yang saling bertemu di dadanya.
"Lee Sungmin imnida, bangapseumnida," Sungmin pun balas membungkuk dengan gerakan tangan yang sama. Dan dia sama sekali tidak mempermasalahkan Heechul yang tidak memperkenalkannya sebagai yaghonnyeo dari seorang Cho Kyuhyun.
Karena status Kyuhyun sebagai public figure, semua orang memang bersepakat untuk menyembunyikan status itu untuk sekian waktu. Hanya Super Junior, keluarga dan beberapa dari pihak managementlah yang mengetahui hal itu. Sungmin juga tidak merasa keberatan karena hal itu juga demi ketenangannya dari buruan paparazi. Sungmin juga bukan type orang yang suka jika kehidupan pribadinya menjadi sorotan dan konsumsi publik.
Setelah sesi perkenalan yang singkat itu, Heechul membawa Sungmin menaiki tangga. Karena lantai yang mereka tuju adalah lantai dua jadi Heechul membimbing mereka untuk menaiki tangga saja.
Sungmin berjalan bersisian dengan Hangeng, sementara Heechul memimpin mereka di depan. Sepanjang perjalanan Heechul sebenarnya terus berbicara, namun karena namja itu berbicara dalam bahasa mandarin yang tak Sungmin mengerti jadi yeoja itu hanya diam saja. Lorong-lorong gedung itu cukup sepi, sejak mereka menyusurinya mereka hanya berpas-pasan dengan seorang yeoja yang menyapa hormat pada Heechul.
"Tunggu sebentar," ujar Heechul, baik Sungmin dan namja itu menuruti saja apa kata namja cantik itu. Kemudian, Heechul pun masuk kesebuah ruangan dengan meninggalkan Sungmin dan Hangeng di luar.
Membuat Sungmin kikuk saja. Namja ini orang China, meskipun tadi dia memperkenalkan diri dengan bahasa korea tapi sepanjang perjalanan Heechul terus berbicara dengan bahasa mandarin, dan itu membuat Sungmin bingung harus memulai deng—
"Siapa?"
"He?" Sungmin mengangkat alisnya.
"Yaghonnyeomu, tentu saja."
"Mwo?" mata kelinci Sungmin membulat, selain karena namja itu barusan bertanya dengan bahasa Korea juga karena pertanyaan yang terlempar itu...
"Aku berteman dengan Heechul sejak kecil, aku tahu kalau dia berbohong saat memperkenalkanmu tadi, dan melihat cincin di jari manismu membuatku menebak salah satu member Super Junior adalan yaghonnyeomu. Benar, kan?"
Jadi begitu, Sungmin menyimpulkan bahwa orang yang ada di depannya ini bukan orang sembarangan dan perlu diwaspadai, jangan lupakan itu. Mendapati tatapan intens dari namja yang menunggu jawabannya itu, Sungmin pun mengangguk. "Ne, Hangeng-ssi benar. Aku yaghonnyeo Cho Kyuhyun," ujar yeoja itu malu-malu.
"Jijja?"
Sungmin mengangguk.
"Kau tahu? aku selalu berfikir tidak ada yang istimewa dari seorang Cho Kyuhyun kecuali keberuntungan yang selalu bersamanya," ujar namja itu. "Dan kurasa, kau adalah keberuntungan terbaiknya," ucapnya dengan raut datar, namun tak alang membuat pipi Sungmin memerah mendengarnya.
"Ya! Masuklah," tiba-tiba saja pintu terbuka dan kepala Heechul menyembul dari dalam.
Sungmin mengangguk dan masuk kedalam ruang audio. Itu adalah sebuah ruangan yang biasa di gunakan untuk take vocal, berlatih vocal, penyesuaian nada, dan hal-hal lain yang di perlukan untuk persiapan rekaman, perform atau sesuatu yang berhubungan dengan suara. Di ruangan itu ada empat kabin kecil berdinding kaca, dan sebuah kabin besar dengan dinding kaca yang sama, sementara di tengah terdapat sebuah controler yang tak begitu Sungmin ketahui nama dan fungsinya.
Menyadari dirinya telah berada di satu ruangan yang sama dengan Kyuhyun, Sungmin pun mengedarkan pandangannya dan...
Deg!
Yeoja itu segera menutup matanya rapat-rapat ketika melihat sosok Kyuhyun di sana. Di salah satu kabin, duduk dengan sebuah gitar akustik di tangannya. Sebuah senyum tersungging di bibirnya sementara tangannya asik memetik gitar itu dan pandangan matanya... fokus pada yeoja cantik yang duduk di sampingnya.
Sungmin dapat merasakan dadanya yang kini berdenyut nyeri dan terasa perih. Tiba-tiba saja nafasnya terasa sesak dan tercekat di tenggorokan. 'Kau harus kuat Sungmin!' dia berbisik pada dirinya sendiri. Namja itu berusaha kuat, menahan rasa sakit yang mendadak menyerangnya dan mencoba menghalau rasa takut yang perlahan membayanginya. Ryeowook benar, dia tak boleh kalah dari rasa takut.
"Fokus pada petikkan gitarmu Kyuhyun-ah," seseorang namja berbicara melalui sebuah mic kecil.
Kyuhyun menatap namja itu, dan terkejut melihat keberadaan Sungmin disana. Kyuhyun tersenyum tipis, lalu meletakkan gitarnya dan berjalan keluar, mengabaikan perintah namja tadi. Entah hanya perasaan Sungmin, atau memang ada yang berbeda dengan senyum itu?
"Break saja dulu, lanjutkan setelah makan siang," ujar Heechul pada namja yang tak dikenali Sungmin itu. "Mereka berlatih untuk perform pertama Seohyung di pulau Jeju nanti, dia akan duet sebuah lagu bersama Kyuhyun," ujar Heechul, sementara matanya menatap Kyuhyun yang baru saja meraih kenop pintu dan membukanya.
"Minnie, kenapa kau di sini?" Kyuhyun bertanya kaku, membuat kernyit tak suka di kening Sungmin muncul.
Sungmin tak mengeluarkan katanya, yeoja manis itu hanya mengangkat dua kotak bekal yang sedari tadi di jinjingnya dalam sebuah tas karton kecil. Dan itu cukup membuat Kyuhyun mengerti.
"Kyunie oppa...," suara lembut memanggil dari arah belakang namja itu, tak lama kemudian yeoja cantik itu muncul dan memandang Sungmin dengan pandangan bertanya. Dan kesal itu tiba-tiba saja menyeruak di dada Sungmin.
"Seohyun, perkenalkan ini Sungmin, chingu dari anak-anak Super Junior. Kelihatannya mereka cukup dekat, yeoja manis ini sampai mau membawakan bekal untuk Kyuhyun. Sungmin, kau kenal—"
"Ne, aku menganalnya. Lee Sungmin imnida." Sungmin memotong kalimat Hangeng dengan disertai senyum manisnya. "Seo Joo Hyunssi, Member SNSD yang memilih keluar dan melanjutkan sekolah musiknya di Paris, sebenarnya aku agak terkejut karena seingatku dulu pers memberitakan dia akan menetap di sana selamanya," yeoja itu mencoba tersenyum manis.
"Itu memang benar, tapi karena sebuah alasan aku kembali, kau membawakan bekal untuk Kyunie?" yeoja itu tersenyum sembari menatap dua kotak bekal milik Sungmin.
"Ne," jawab Sungmin dengan anggukan pelan dan tersenyum manis yang dipaksakan.
"Arraseo, kalian mau makan di mana? Boleh aku ikut bergabung?"
_TBC_
Terimakasih banyak buat :
Kyumin137, hie, hana, E.L.F, ikkimassu, Shana Elfishy, kanaya, nam seulmi, AmyKyuMinElf, diitactorlove, Matsuka99, inchangel ga login, KyuMinnie, Kim hyunie, KyuMinnie, HappyKYUMIN, cha, Soldier of Light, qminhee.
Terimakasih udah baca dan rifyu... baik yang baru rifyu ato pun baru rifyu... Maap banget Lhyn ga bisa bales rifyu kalian kali ini, Perasaan Lhyn lagi galau tak menentu #author ga propesional.
Makasih dukungannya, makasih pujiannya... Lhyn seneng banget...
Dan untuk yang ngarepin ending Kyumin Tenang aja. Lhyn udah ngDraft seluruh fic ini ampe ending kok. NC simin Lhyn ilangin, tapi scene Simin tetep banyak. Itu karna Lhyn harus membangun perasaan Kyuhyun lewat Siwon. Kalo gada Siwon, nanti Kyu gag balik ama Minnie lagi gimana?
Nah~ Sekarang pada Rifyu ya~ Lhyn selalu nunggu Rifyu dari Chingu semua... :D
_09_02_2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar