AFTER ALL
Keping Enam
.
JUST COPAS FROM FFN
.
Genre : Romance , Hurt/Comfort,
Drama.
Rate : M
Cast : Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun,
Lee Sungmin as Lee Sungmin, Lee Donghae as Lee Donghae, Choi
Siwon as Choi Siwon, Kim Heechul as Kim Heechul, etc.
pairing : Kyuhyun X Sungmin,
Siwon X Sungmin, Kyuhyun X Seohyun, and Yesung X Ryeowook,
the other only Friendship, Ada request untuk Slight lainnya silahkan PM.
Warning : Genderswitch, abal, geje,
aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain
yangmembuat fic ini jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : Super Junior milik SME,
Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari
imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun.
Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
Sungmin menggeliatkan tubuhnya,
sementara matanya masih mengerjap pelan. Tangannya mencoba meraih sebuah benda
yang dengan lancang mengganggu tidurnya. Menggapai-gapai hingga akhirnya benda
pink yang terus bergetar itu berhasil mampir ke tangan putih bersih itu.
"Yeoboseyo," sapanya
setelah –dengan asal– menekan tombolnya.
"Minnie chagi~ selamat
pagi~."
"Eomma?" mata
kelinci itu membulat mendengar suara yang keluar dari benda elektronik itu,
dengan cepat diintipnya nama kontak yang tertera di layar ponsel sesaat sebelum
kembali menjawab. "Ne, Eomma, selamat pagi."
"Chagi, kami baru saja
tiba dari Nowon. Bisa kau buka pintunya Chagi~"
"Mwo?"
"Kami di depan flatmu Chagiya~"
"MWOOOO? Ne... Eomma!"
sadar dengan kebodohannya, Sungmin segera berlari tanpa babibu lagi menuju
pintu depan flatnya dan menemukan duo senior Cho di sana.
"Eomma, Appa, Annyeonghaseyo..."
ujar Sungmin dengan membungkuk rendah. "Mian, Minnie baru
bangun," ujarnya salah tingkah.
Namun sepertinya hal itu sama sekali
tak menjadi masalah bagi kedua senior Cho itu karena kini nyonya Cho telah
memeluk yeoja manis itu dan mengusap punggung Sungmin dengan hangat.
"Bagaimana kabarmu Nak?"
tanyanya seraya mengusap pipi chubby Sungmin yang masih kusut.
"Baik Eomma, Eomma
dan Appa—"
"Minnie Chagiya,
Kena—Hoo? Eomma? Appa?" sama halnya dengan Sungmin, Kyuhyun
juga tampak terkejut dengan keberadaan dua senior Cho itu di flat
Sungmin. "Kapan kalian datang?"
Entah memang pada dasarnya Kyuhyun tak
punya malu, atau urat kemaluan namja itu telah terputus atau –hal yang
agak mustahil– namja itu telah menjadi Babo ter-babo di
dunia hingga sama sekali tidak menyadari wajah Sungmin yang telah memerah atau
tatapan speachless dari dua senior Cho itu? Ayolah! Apa yang akan kau
pikirkan ketika melihat seorang namja keluar dari kamar yeoja di
pagi hari hanya dengan memakai celana pendek yang bahkan tak menyentuh lutut namja
itu?
Meski kenyataannya mereka hanya tidur
bersama –harap gunakan italic, bold, underline untuk kata 'hanya'– tapi bukan
berarti hal itu tidak akan memancing pemikiran-pemikiran 'lain' dari orang lain
yang melihatnya kan? Dan menyadari hal itu, dengan sukses wajah Sungmin telah
mampu menyamai kepiting saus tar-tar di atas piring.
"Kyu? Kemana pakaianmu?"
Tuan Cho lah yang pertama kali sadar. Mungkin karena tidak terpengaruh oleh
perut six pack dari namja itu.
"Aish! Hehehe..." namja
itu hanya tertawa menyadari kebodohannya sendiri dan berlalu, masuk kembali
kedalam kamar Sungmin.
Uh! Benar-benar tak tahu sopan
santun! Sungmin jadi tak habis pikir, bagaimana bisa dia jatuh cinta pada namja
yang bahkan tak bisa bersikap sopan di depan orang tuanya sendiri?
Beberapa saat setelah Kyuhyun
menghilang, Sungmin baru mempersilahkan keduanya masuk –hah! Sepertinya dia
ketularan penyakit tidak sopannya Kyuhyun– dan membuatkan teh hangat untuk
keduanya. Kunjungan hari ini agak mengejutkan, karena biasanya mereka akan
menelefon minimal sehari sebelum mereka datang, bukan tiba-tiba menelepon
setelah lama mereka mengetuk pintu hingga tak ada yang membukanya.
Sungmin tersenyum kaku saat Kyuhyun
muncul kembali dengan pakaian lengkapnya, mengingatnya Sungmin jadi bersyukur
dia mengenakan pakaian lengkap saat bangun tidur. Dan melihat Kyuhyun yang
telah rapi dengan rambut sedikit basah dan aroma sabun yang masih menguar,
Sungmin juga jadi ingin mandi. Untuk itu dia berpamitan dengan sopan pada kedua
orang tua Kyuhyun yang sebenarnya masih punya banyak pertanyaan untuk Sungmin.
Sungmin tak banyak membuang waktu, begitu
selesai mandi yeoja yang telah tampak jauh lebih baik –dari pada sebelum
mandi– itu segera kembali menemui dua senior Cho yang masih asik menikmati
cangkir teh dan kue-kue kering buatan Sungmin.
"...biar nanti kami yang
putuskan sendiri Eomma!" seru Kyuhyun dengan sedikit keras.
Sungmin mengangkat alisnya, penasaran
dengan topik pembicaraan yang membuat Kyuhyun berbicara agak keras di depan
kedua orang tuanya.
"AH! Sepertinya tak ada gunanya
bicara denganmu, Eomma mau bicara dengan Minnie chagi saja,"
seru nyonya Cho begitu melihat Sungmin yang telah muncul.
"Gwenchanayo?"
Sungmin semakin penasaran begitu melihat raut kesal Kyuhyun.
"Gwenchana Minnie,
duduklah. Kami sedang membicarakan rencana pernikahan kalian,"
"Mwo?" bola mata foxy
itu membulat.
"Eomma! Sudah
kubilangkan, kalau masalah pernikahan kami akan memutuskan sendiri,"
sergah Kyuhyun.
"Kalian sudah cukup lama
menyandang status yaghonnyeo, dan Eomma sudah semakin tak sabar
untuk mendengar tangisan bayi Kyu! Eomma dan Appamu sudah semakin
tua."
"Ahra noona akan
melahirkan tujuh bulan lagi!" Kyuhyun masih mencoba bertahan. Dan apa yang
dikatakannya itu memang benar, sekitar dua bulan yang lalu Sungmin mendengar
kabar kehamilan Ahra.
"Ahra di London Kyunie, masa Eomma
harus bolak-balik ke London cuma untuk mendengar tangis bayi?"
"Kenapa kalian tidak mencoba
mendengarkan pendapat Minnie?" Appa Kyuhyun mencoba menengahi
pertengkaran itu. Yang sialnya, hal itu malah di lemparkan pada Sungmin yang
bahkan masih belum bisa menenangkan detak jantungnya mendengar kabar rencana
pernikahan ini. Pernikahannya dengan Kyuhyun.
"Eummm...," yeoja
itu gugup, "Minnie... Minnie masih ingin kuliah Eomma," damn!
Kenapa malah itu yang keluar?
"Minnie Chagi, kami juga
tidak meminta kalian menikah bulan ini, rencana Eomma dan Appa
juga sekitar lima-enam bulan lagi setelah kamu wisuda Nak, agar persiapannya
lebih matang."
"Eomma, itu terlalu
cepat!" Kyuhyun kembali menyergah.
Entah kenapa, Sungmin merasa kecewa
dengan penolakan Kyuhyun itu.
"Ada banyak hal yang perlu di
persiapkan, Aku juga belum cukup mapan untuk bisa menghidupi Sungmin dan
anak-anak kami nanti,"
"Aish! Kyunie, kau banyak
beralasan! Minnie chagi, kau tinggalkan saja dia dan menikah dengan namja
lain, Eomma sudah tak sabar ingin punya cucu darimu."
"Eomma! Yang anak Eomma
itukan aku!"
"Memangnya kapan Eomma
bilang kau itu anak Eomma?" Nyonya Cho berujar sengit menghadapi
anak lelakinya.
"Aish! Tega sekali!" kesal
Kyuhyun.
Sungmin tersenyum melihat tingkah
manja Kyuhyun itu, namja itu merengut dengan raut kesal yang jarang
sekali terlihat di wajah tampannya.
"Minnie? Bagaimana
menurutmu?" Appa Kyuhyun kembali mengingatkan Sungmin tentang
keharusannya berpendapat.
Yeoja itu menatap Kyuhyun yang
masih tampak kesal, kemudian duduk di sampingnya dan mengenggam tangan Kyuhyun
lembut. "Minnie tak mau memaksa Kyunie, Minnie juga tak punya alasan
khusus untuk menolak. Tapi, kalau memang Kyunie belum siap, Minnie bisa
mengerti. Kyunie masih sangat muda, karirnya juga masih sangat bagus, Minnie
tidak mau menjadi satu beban yang kelak akan di sesali Kyunie," ujar
Sungmin lembut, seraya mengusap tangan Kyuhyun dengan ibu jarinya.
"Aish! Minnie, kau sangat
baik..," nyonya Cho bangkit dan mengusap pundak Sungmin penuh sayang.
"Eomma tidak mengerti kenapa nasibmu begitu sial sampai mendapatkan
namja seperti Kyuhyun."
"Eomma! Berhenti
menjelekanku, yang anak Eomma itu aku. Lagi pula, meskipun Eomma
bilang aku namja terburuk sekalipun tidak akan membuat Minnie
meninggalkanku, dia sangat mencintaiku," ujar Kyuhyun bangga dan meraih
pundak Sungmin untuk memeluknya.
Sungmin tersenyum, namun di balik
bahu kokoh Kyuhyun, yeoja itu meringis memikirkan kata-kata Kyuhyun. Ya,
memang benar Sungmin tidak akan meninggalkan Kyuhyun. Tapi, bagaimana dengan
Kyuhyun? Apakan namja itu juga tidak akan meninggalkannya, apakah namja
itu juga mencintainya? Sungmin tak yakin.
.
.
Audi putih itu berhenti mulus di
halaman parkir timur ELF University yang telah menjadi langganan Kyuhyun karena
tak banyak mahasiswa yang memarkirkan kendaraannya di sana, memberinya sedikit
privasi. Pagi itu setelah sarapan bersama, pasangan duo Cho segera pamit,
menurut mereka tak ada lagi yang perlu dibicarakan karena baik Kyuhyun ataupun
Sungmin menolak rencana mereka.
Nyonya Cho tampak sangat tidak puas
saat akhirnya mereka harus berpisah, dia meminta Sungmin untuk mempertimbangkan
hal itu sekali lagi. Dan dengan tega dia kembali berkata kalau dia tidak peduli
pada Kyuhyun, asalkan dia bisa cepat memberinya cucu. Meski begitu, dia tetap
memeluk Kyuhyun dengan erat seakan dia begitu merindukan putra satu-satunya
itu.
"Kujemput untuk makan
siang," Kyuhyun mengingatkan satu rutinitas mereka.
Sungmin mengangguk dan tersenyum
lembut sebelum keluar dari audi putih itu. Entah kenapa, rasanya masih ada satu
ganjalan di dadanya saat dia mengingat penolakan Kyuhyun itu. Apa yang
dikatakan Eomma Kyuhyun itu benar, mereka sudah cukup lama menyandang
status yaghonnyeo. Dan juga, Sungmin telah memberikan semuanya pada yeoja
itu. Dua minggu belakangan semenjak malam pertama mereka, Kyuhyun selalu datang
dan membawa Sungmin dalam satu ciuman panjang yang selalu berlanjut pada satu
penyatuan.
Kalau saja semalam Kyuhyun tidak
datang dini hari dengan tubuh lelah, Sungmin yakin cumbuan namja itu
juga akan berlanjut pada hal yang sama. Sungguh, semua itu membuat Sungmin
semakin bimbang, kali ini bukan hanya pada perasaan Kyuhyun tapi juga pada
keteguhan hatinya. Sungmin tak tahu apakah dia akan bertahan bila rasa sakit
seperti ini yang terus datang menghadangnya.
'Puk'
"Uggh!" Sungmin meringis
saat kepalanya menabrak sesuatu, yeoja itu menengadah dan melihat Siwon
yang baru saja menurunkan tangannya. Tangan yang tadi di tabrak kening Sungmin.
"Oppa?"
"Melamun saat berjalan? Sungguh
tindakan tercela yang sangat tidak pantas dilakukan oleh taehaksaeng
sepertimu, Minnie," ujar Siwon, seraya menyamakan langkahnya dengan
Sungmin yang mulai kembali berjalan.
"Kau berlebihan Oppa,"
ujar sungmin dengan sedikit tawa pelan.
"Kau ada kelas pagi ini?"
Siwon bertanya, mengalihkan pembicaraan.
Sungmin mengangguk.
"Bagaimana programmu? Sudah ada
kemajuan dari saat pertemuan terakhir kita?"
"Eung... aku sudah berhasill
menyusun semua data base sesuai flow chart yang ada, tapi rasanya
masih belum siap untuk menghadapi sidang pertama nanti," ujar Sungmin
dengan pesimismenya.
Siwon menggusap pundaknya,
menenangkan. "Kau pasti bisa, sidangnya masih lima hari lagi. Aku akan
membantumu sebaik mungkin."
"Gomawo Oppa,"
ujar Sungmin, dengan mata kelinci yang menatap lembut pada sosok tinggi itu.
"Hem," namja itu
mengangguk pelan. "Aku juga harus mengajar sekarang, sampai jumpa besok
dijadwal bimbingan kita, Minnie," Siwon tersenyum simpul, kemudian berlalu
setelah Sungmin membalas senyumnya.
"Dia namja yang baik,
tampan dan ramah. Kalau aku jadi yeoja, aku pasti akan jatuh cinta
padanya."
Sungmin berbalik mendengar kalimat
itu dan melihat Ryeowook telah berdiri di belakangnya. "Aish, apa maksudmu
Wookie, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya."
"Ada yang aneh di sini, setahuku
Choi seonsaengnim tidak suka kalau ada yang memanggilnya dengan nama
'Siwon' apalagi Oppa. Dia mengajar di kelas Visual Art-ku, kau
tahu, dia menghukum taehaksaeng yang membicarakannya dan menyebutnya
dengan 'Siwon'," Ryeowook berkata dengan memijit dagunya, bergaya ala
detektif yang hampir bisa menyelesaikan kasusnya.
"Ya, Wookie. Jangan berbicara
buruk tentang orang lain, Siwon Oppa tidak mungkin sekejam itu,"
seru Sungmin tidak terima, tentu saja dia tidak suka jika seonsaengnim
yang belakangan jadi favoritenya dijelekkan seperti itu.
"Aish! Aku tidak menjelekkan
Noona, dia kan tampan, banyak sekali yeoja taehaksaeng yang ingin
mendekatinya tapi selalu mundur saat mengingat sikap dingin dan kejamnya,"
Ryeowook juga tampak tak terima dikatai menjelekkan orang lain.
Sungmin diam, rasanya tidak mungkin
sekali Siwon Oppa yang begitu ramah padanya bersikap seperti itu pada
orang lain. Tapi lebih tidak mungkin lagi kalau Ryeowook berbohong tentang hal
yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya untuk dia.
"Selain jadi pembimbing
skripsimu, dia tidak mengajar di kelasmu kan?" Ryeowook kembali menyangkal
dengan sebuah bukti kuat.
Sungmin mengangguk dan itu
memunculkan sebuah evil smirk di wajah namja imut itu.
"Kalau begitu sudah jelas, kau punya tempat spesial dihatinya."
"Ya! Ryewook! Jangan bicara
sembarangan!"
"Minnie chagiya~,"
Ryeowook berkata dengan menggoda, kemudian merangkul pundak yeoja itu dan
berbisik pelan, "kau tidak tertarik padanya? Dia tampan lho?"
Sungmin tak menjawab, yeoja
itu hanya mengangkat tangan kanannya dan menunjuk sebuah cincin di jemari
manisnya. "Aku harus segera masuk kelas Wookie," ujarnya, kemudian
berlalu meninggalkan Ryeowook sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kata-kata
Ryeowook benar-benar konyol menurutnya.
Yeoja manis itupun kembali
melangkah menyusuri koridor kampusnya yang berangsur menjadi lenggang karena
jam kuliah memang sudah di mulai. Sungmin berjalan santai karena jam kuliahnya
saat ini diajar oleh Park Lee seonsaengnim yang terkenal suka terlambat.
"Aish! Padahal kita hanya
terlambat lima menit, kenapa Choi seonsaengnim mengusir kita sih?"
Sungmin mendengar gerutuan seorang yeoja pada yeoja lain yang
berpas-pasan dengannya.
Sungmin menghentikan langkahnya, lalu
mendengarkan.
"Um! Untung saja dia tampan,
kalau tidak pasti sudah banyak teror yang datang padanya," yeoja
yang lainnya bicara.
Entah kenapa Sungmin merasa kedua yeoja
itu tengah membicarakan seseorang yang dikenalnya. Maka dengan rasa penasaran
yang sedikit mendesak, Sungmin berjalan mendekati pintu kelas yang mengeluarkan
dua yeoja itu dan mengintip melalui kaca kecil yang terdapat di tengah
pintu.
Sungmin mengernyitkan alisnya dengan
bibir mengerucut saat melihat di dalam ruangan itu seseorang yang biasa di
panggilnya 'Siwon Oppa' tengah mengajar di depan puluhan taehaksaeng.
Ada rasa bangga, rasa penasaran,
beribu pertanyaan, dan sedikit kecewa. Sungmin jadi ingat saat pertama kali dia
bertemu dengan Siwon, dia ingat betul saat Siwon mengatakan 'Aku tidak
terlalu suka suasana kaku'. Lalu, apa yang tengah terjadi pada Siwon di
hadapan semua orang? Ah, rasanya pertanyaan itu kurang tepat. Mungkin akan
lebih tepat kalau, apa yang terjadi pada Siwon saat di hadapannya?.
Uh! Tidak, jangan bilang Siwon
menyukai Sungmin. Love at the first time? Haha. Sungmin memang percaya
dengan hal seperti itu, tapi sangat konyol bila itu diterapkan di sini.
Meskipun sebenarnya tidak terlalu konyol juga. Aish! Pikiran yeoja itu
jadi berputar kemana-mana. Sebaiknya dia segera ke kelasnya atau dia akan
bernasib sama dengan dua yeoja yang tadi di usir Siwon dari kelasnya.
.
.
Sungmin mentap gedung itu dengan
ragu. Karena seonsaengnim di jam kuliah ke tiga mendapat tugas seminar
keluar kota dan tak ada seonsaengnim pangganti selain tugas menumpuk
yang di tinggalkan membuat Sungmin merasa jengah di kantin sendirian. Ryeowook
masih ada kuliah, sementara Kyuhyun baru akan menjemputnya jam dua belas.
Karena masih satu jam lagi Sungmin pun memutuskan untuk mendatangi Kyuhyun di
SME building.
Sedikit membawa kejutan dengan dua
kotak bekal di tangannya yang dia masak cepat-cepat di dapur Universitas. Tapi
Sungmin jadi ragu begitu menatap gedung tinggi di depannya. Sedikit takut
Kyuhyun tidak ada di sana meski pun dia telah memastikan melalui Ryeowook bahwa
Yesung ada di sana.
"Lee Sungmin, Hwanting!"
Sungmin berseru pada dirinya sendiri.
Kemudian yeoja itu pun kembali
melangkah, menaiki satu persatu tangga depan gedung SME itu. Dicobanya untuk
mengembangkan senyum tipis dan menapaki langkahnya dengan hentakan semangat.
Dengan sedikit tarikan Sungmin membuka pintu kaca di depannya.
"Minnie!" sebuah panggilan
mengalihkan perhatian Sungmin saat yeoja itu hendak menyusuri gedung itu
dengan mata kelincinya.
"Heechul oppa,
Annyeong," sapa yeoja itu begitu melihat namja yang
memanggilnya tengah berjalan menjauh dari lift dan mendekatinya. Kim Heechul,
manager Super Junior.
"Mencari Evil Maknae? Dia
di ruang audio dua. Ayo ikut bersamaku, aku juga akan kesana setelah— AH! Itu
dia, HANGENG!" Heechul, sibuk sendiri dengan kalimatnya, sementara Sungmin
hanya mengangguk dan kini ikut memandang ke arah pandang namja cantik
itu.
Seorang namja datang
menghampiri mereka dan langsung berpelukan ala namja dengan Heechul.
"Minnie, tadi aku mau bilang aku
sedang menunggu dia. Dia Hangeng temanku dari China, dan Hangeng, ini Lee
Sungmin, Chinguideul anak-anak Super Junior," ujar Heechul, saling
memperkenalkan keduanya.
"Tan Hangeng imnida,"
ujar Hangeng, membungkuk dengan tangan yang saling bertemu di dadanya.
"Lee Sungmin imnida,
bangapseumnida," Sungmin pun balas membungkuk dengan gerakan tangan
yang sama. Dan dia sama sekali tidak mempermasalahkan Heechul yang tidak
memperkenalkannya sebagai yaghonnyeo dari seorang Cho Kyuhyun.
Karena status Kyuhyun sebagai public
figure, semua orang memang bersepakat untuk menyembunyikan status itu untuk
sekian waktu. Hanya Super Junior, keluarga dan beberapa dari pihak managementlah
yang mengetahui hal itu. Sungmin juga tidak merasa keberatan karena hal itu
juga demi ketenangannya dari buruan paparazi. Sungmin juga bukan type orang
yang suka jika kehidupan pribadinya menjadi sorotan dan konsumsi publik.
Setelah sesi perkenalan yang singkat
itu, Heechul membawa Sungmin menaiki tangga. Karena lantai yang mereka tuju
adalah lantai dua jadi Heechul membimbing mereka untuk menaiki tangga saja.
Sungmin berjalan bersisian dengan
Hangeng, sementara Heechul memimpin mereka di depan. Sepanjang perjalanan
Heechul sebenarnya terus berbicara, namun karena namja itu berbicara
dalam bahasa mandarin yang tak Sungmin mengerti jadi yeoja itu hanya
diam saja. Lorong-lorong gedung itu cukup sepi, sejak mereka menyusurinya
mereka hanya berpas-pasan dengan seorang yeoja yang menyapa hormat pada
Heechul.
"Tunggu sebentar," ujar
Heechul, baik Sungmin dan namja itu menuruti saja apa kata namja
cantik itu. Kemudian, Heechul pun masuk kesebuah ruangan dengan meninggalkan
Sungmin dan Hangeng di luar.
Membuat Sungmin kikuk saja. Namja
ini orang China, meskipun tadi dia memperkenalkan diri dengan bahasa korea tapi
sepanjang perjalanan Heechul terus berbicara dengan bahasa mandarin, dan itu
membuat Sungmin bingung harus memulai deng—
"Siapa?"
"He?" Sungmin mengangkat
alisnya.
"Yaghonnyeomu, tentu
saja."
"Mwo?" mata kelinci
Sungmin membulat, selain karena namja itu barusan bertanya dengan bahasa
Korea juga karena pertanyaan yang terlempar itu...
"Aku berteman dengan Heechul
sejak kecil, aku tahu kalau dia berbohong saat memperkenalkanmu tadi, dan
melihat cincin di jari manismu membuatku menebak salah satu member Super Junior
adalan yaghonnyeomu. Benar, kan?"
Jadi begitu, Sungmin menyimpulkan
bahwa orang yang ada di depannya ini bukan orang sembarangan dan perlu
diwaspadai, jangan lupakan itu. Mendapati tatapan intens dari namja yang
menunggu jawabannya itu, Sungmin pun mengangguk. "Ne, Hangeng-ssi
benar. Aku yaghonnyeo Cho Kyuhyun," ujar yeoja itu
malu-malu.
"Jijja?"
Sungmin mengangguk.
"Kau tahu? aku selalu berfikir
tidak ada yang istimewa dari seorang Cho Kyuhyun kecuali keberuntungan yang
selalu bersamanya," ujar namja itu. "Dan kurasa, kau adalah
keberuntungan terbaiknya," ucapnya dengan raut datar, namun tak alang
membuat pipi Sungmin memerah mendengarnya.
"Ya! Masuklah," tiba-tiba
saja pintu terbuka dan kepala Heechul menyembul dari dalam.
Sungmin mengangguk dan masuk kedalam
ruang audio. Itu adalah sebuah ruangan yang biasa di gunakan untuk take vocal,
berlatih vocal, penyesuaian nada, dan hal-hal lain yang di perlukan untuk
persiapan rekaman, perform atau sesuatu yang berhubungan dengan suara. Di
ruangan itu ada empat kabin kecil berdinding kaca, dan sebuah kabin besar
dengan dinding kaca yang sama, sementara di tengah terdapat sebuah controler
yang tak begitu Sungmin ketahui nama dan fungsinya.
Menyadari dirinya telah berada di
satu ruangan yang sama dengan Kyuhyun, Sungmin pun mengedarkan pandangannya
dan...
Deg!
Yeoja itu segera menutup
matanya rapat-rapat ketika melihat sosok Kyuhyun di sana. Di salah satu kabin,
duduk dengan sebuah gitar akustik di tangannya. Sebuah senyum tersungging di
bibirnya sementara tangannya asik memetik gitar itu dan pandangan matanya...
fokus pada yeoja cantik yang duduk di sampingnya.
Sungmin dapat merasakan dadanya yang
kini berdenyut nyeri dan terasa perih. Tiba-tiba saja nafasnya terasa sesak dan
tercekat di tenggorokan. 'Kau harus kuat Sungmin!' dia berbisik pada
dirinya sendiri. Namja itu berusaha kuat, menahan rasa sakit yang
mendadak menyerangnya dan mencoba menghalau rasa takut yang perlahan
membayanginya. Ryeowook benar, dia tak boleh kalah dari rasa takut.
"Fokus pada petikkan gitarmu
Kyuhyun-ah," seseorang namja berbicara melalui sebuah mic kecil.
Kyuhyun menatap namja itu, dan
terkejut melihat keberadaan Sungmin disana. Kyuhyun tersenyum tipis, lalu
meletakkan gitarnya dan berjalan keluar, mengabaikan perintah namja
tadi. Entah hanya perasaan Sungmin, atau memang ada yang berbeda dengan senyum
itu?
"Break saja dulu,
lanjutkan setelah makan siang," ujar Heechul pada namja yang tak
dikenali Sungmin itu. "Mereka berlatih untuk perform pertama Seohyung di
pulau Jeju nanti, dia akan duet sebuah lagu bersama Kyuhyun," ujar
Heechul, sementara matanya menatap Kyuhyun yang baru saja meraih kenop pintu dan
membukanya.
"Minnie, kenapa kau di
sini?" Kyuhyun bertanya kaku, membuat kernyit tak suka di kening Sungmin
muncul.
Sungmin tak mengeluarkan katanya, yeoja
manis itu hanya mengangkat dua kotak bekal yang sedari tadi di jinjingnya dalam
sebuah tas karton kecil. Dan itu cukup membuat Kyuhyun mengerti.
"Kyunie oppa...,"
suara lembut memanggil dari arah belakang namja itu, tak lama kemudian yeoja
cantik itu muncul dan memandang Sungmin dengan pandangan bertanya. Dan kesal
itu tiba-tiba saja menyeruak di dada Sungmin.
"Seohyun, perkenalkan ini
Sungmin, chingu dari anak-anak Super Junior. Kelihatannya mereka cukup
dekat, yeoja manis ini sampai mau membawakan bekal untuk Kyuhyun.
Sungmin, kau kenal—"
"Ne, aku menganalnya. Lee
Sungmin imnida." Sungmin memotong kalimat Hangeng dengan disertai
senyum manisnya. "Seo Joo Hyunssi, Member SNSD yang memilih
keluar dan melanjutkan sekolah musiknya di Paris, sebenarnya aku agak terkejut
karena seingatku dulu pers memberitakan dia akan menetap di sana
selamanya," yeoja itu mencoba tersenyum manis.
"Itu memang benar, tapi karena
sebuah alasan aku kembali, kau membawakan bekal untuk Kyunie?" yeoja
itu tersenyum sembari menatap dua kotak bekal milik Sungmin.
"Ne," jawab Sungmin
dengan anggukan pelan dan tersenyum manis yang dipaksakan.
"Arraseo, kalian mau
makan di mana? Boleh aku ikut bergabung?"
_TBC_
Terimakasih banyak buat :
Kyumin137, hie, hana, E.L.F,
ikkimassu, Shana Elfishy, kanaya, nam seulmi, AmyKyuMinElf, diitactorlove,
Matsuka99, inchangel ga login, KyuMinnie, Kim hyunie, KyuMinnie, HappyKYUMIN,
cha, Soldier of Light, qminhee.
Terimakasih udah baca dan rifyu...
baik yang baru rifyu ato pun baru rifyu... Maap banget Lhyn ga bisa bales rifyu
kalian kali ini, Perasaan Lhyn lagi galau tak menentu #author ga propesional.
Makasih dukungannya, makasih
pujiannya... Lhyn seneng banget...
Dan untuk yang ngarepin ending
Kyumin Tenang aja. Lhyn udah ngDraft seluruh fic ini ampe ending kok. NC
simin Lhyn ilangin, tapi scene Simin tetep banyak. Itu karna Lhyn harus
membangun perasaan Kyuhyun lewat Siwon. Kalo gada Siwon, nanti Kyu gag balik
ama Minnie lagi gimana?
Nah~ Sekarang pada Rifyu ya~ Lhyn selalu nunggu Rifyu dari Chingu semua... :D
Nah~ Sekarang pada Rifyu ya~ Lhyn selalu nunggu Rifyu dari Chingu semua... :D
_09_02_2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar