Rabu, 06 Juni 2012

AFTER ALL Keping Tigabelas


AFTER ALL
Keping Tigabelas
Genre : Romance , Hurt/Comfort, Drama.
Rate : M
Cast : Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun, Lee Sungmin as Lee Sungmin, Choi Siwon as Choi Siwon, Kim Ryeowook as Kim Ryeowook, Kim Yesung as Kim Yesung, etc.
Pairing : Kyuhyun X Sungmin, Siwon X Sungmin, Kyuhyun X Seohyun, and Yesung X Ryeowook, the other only Friendship, Ada request untuk Slight lainnya silahkan PM.
Warning : Genderswitch, abal, geje, aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain yangmembuat fic ini jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : Super Junior milik SME, Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun. Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!
.
"Mama mara mar-rarara jeje jebalhaji mara, B-wabwa bwara bwara nae nun-eul bara bwa. Gaji mara gajima neoneun nal tteonaji mara."
(Don't do it, please don't do it, Look at me, look at my eyes. Don't leave, please don't leave me.) _A-CHA-Super Junior_
.
Kyuhyun menggeliat pelan, matanya terasa berat meski telah tidur sepanjang siang di atas kasur Sungmin. Namja itu bergerak meraih bantal Sungmin dan memeluknya erat, tidurnya benar-benar nyenyak dengan menyesap aroma tubuh Sungmin yang tersisa di mana-mana di kamar bernuansa pink itu. Seperti aroma terapi yang menenangkan tubuh dan otaknya sekaligus.
Kyuhyun meraba keningnya dan tersenyum tipis. Demamnya telah turun, sepertinya, perawatan Sungmin memang yang terbaik dan tidak ada duanya. Namja itu mempererat dekapannya pada bantal Sungmin dan menyesap aroma yang tersisa di sana dalam-dalam.
"Ya! Oppa, yang tadi itu sudah benar, kenapa kau malah merusaknya?" suara Sungmin terdengar samar di telinga Kyuhyun.
Sejenak membuat Kyuhyun berfikir dengan siapa yeoja itu tengah bicara.
"Tadi memang benar, tapi dengan cara itu kau akan memutar dan menggunakan rumus yang sama untuk banyak action, gunakan rumus ini saja untuk semua action sejenis dan linkkan rumusnya dengan benar," suara barinton dalam dan tenang seakan menjawab pertanyaan di kepala Kyuhyun.
Kyuhyun mendecih. Dia memang tak begitu akrab dengan suara itu, tapi ingatannya masih sangat jelas tentang siapa pemilik suara itu. Namja tinggi yang suka bersikap sok manis di depan Minnienya. Yah! Minnienya! Sungmin itu miliknya!.
Kyuhyun melirik jam di dinding kamar yang telah menunjukkan pukul sembilan malam, sudah berapa lama namja itu ada di sana bersama Minnie-nya? Namja kurus itupun menyibak selimutnya, namun tetap memeluk bantal itu saat dia bangkit. Dengan sedikit geram dia membuka pintu kamarnya dan melihat mereka tengah duduk bersampingan di sofa tempatnya tertidur pagi tadi.
Kyuhyun hanya dapat melihat kepala mereka dan tangan si namja tinggi yang tengah mengacak rambut Sungmin dengan gerak lembut. Huh! Membuat iri saja.
"Ehem!" Kyuhyun berdehem untuk memberitahukan keberadaannya di belakang mereka.
"Kau sudah bangun?" Sungmin bertanya dengan nada lembut.
Kyuhyun tersenyum saat yeoja manis itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearahnya. Sungmin mengangkat tangannya dan menyentuh kening Kyuhyun.
"Sudah tidak panas," gumam namja itu pelan.
Kyuhyun tersenyum tipis, bukan pada Sungmin melainkan pada namja yang kini tengah menatap mereka. Namja tinggi itu mendengus melihat senyum meremehkan dari Kyuhyun.
"Aku lapar, apa buburnya masih ada?" Kyuhyun bertanya manja.
"Ah. Masih, ada di dapur. Biar kuambilkan," ujar Sungmin.
"Minnieya...," namja tinggi itu memanggil dengan suara dalamnya yang menyebalkan, setidaknya menurut Kyuhyun.
"Ne?" Sungmin berbalik dan menatap namja itu.
"Mungkin sebaiknya aku pulang saja."
'Ne! Bagus! Pergi saja sana!,' batin Kyuhyun.
"Kita lanjutkan besok lagi dan kau juga harus banyak istirahat, jangan sampai kau jadi sakit karena kecapaian mengurus orang sakit," tambah Siwon dengan nada sinis yang tak kentara.
Kyuhyun mendelik kesal mendengar ejekan itu. Dia pikir dia siapa? Asal dia tahu saja, Sungmin bahkan rela merawat Kyuhyun selama empat tahun ini tanpa pernah mengeluh sakit sedikit—
Kyuhyun tersentak oleh pemikirannya sendiri. Namja itu menatap sayu pada Sungmin yang kini berjalan di samping namja itu. Sedikit tak rela saat Sungmin menutup pintu itu, yeoja itu ikut keluar bersama namja tinggi itu.
Kyuhyun berjalan pelan kearah jendela flat Sungmin yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Menunggu, setengah mengamati sosok Sungmin yang akan muncul di bawah sana. Menatap dengan sebal pada porsche hitam yang terparkir rapi tak jauh dari Audi putihnya.
Kalau saja dia punya sihir, dia pasti telah menghanguskan mobil itu dari atas sini. Ah, mungkin sebaiknya menunggu pemiliknya masuk dan duduk dulu sebelum menghanguskannya.
.
.
"Kau tak perlu mengantarku sampai sejauh ini Minnie," ujar Siwon setelah keduanya sampai di dekat mobil.
"Ah ne, umm maksudku... gwenchana, aku hanya ingin saja," jawab Sungmin gugup.
"Hem," Siwon tersenyum tipis. "Baik-baiklah dengan namja itu dan jaga dirimu."
Sungmin menggangguk dan tersenyum gugup. "Oppa!" Sungmin menarik lengan Siwon saat namja itu hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Waeyo, Minnie?"
"Aku... ada yang ingin aku sampaikan pada Oppa...," Sungmin menunduk, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Apa?" Siwon bertanya penasaran dengan tingkah malu-malu Sungmin yang tak biasanya. Dengan lembut dia mengangkat wajah menunduk Sungmin dengan ibu jarinya.
"O-Oppa... aku... aku menyukaimu, Aku—," kalimat Sungmin terputus saat jari telunjuk panjang milik Siwon telah mendarat di bibirnya, mencegahnya berbicara lebih banyak.
"Jangan mengucapkannya, Minnie."
"O-Oppa.. wa-waeyo?" Sungmin bertanya tak mengerti dengan suara yang sedikit bergetar. Apakah itu penolakan dari Siwon?
"Aku tidak mau kau menyesal karena telah mengucapkan kata itu nantinya," Siwon berucap dalam dengan menatap iris foxy yang bertanya tak mengerti.
Sungmin terkesiap mendengar hal itu. Dadanya berdenyut sakit. Benarkah dia ditolak? Dia ditolak bahkan sebelum mengatakannya? Sungmin menatap Siwon dalam, menatap pada iris hitam pekat yang selama ini selalu ada untuk menenangkan hatinya. Iris hitam pekat yang mengobati rasa sakit di dadanya dengan kehangatan yang begitu lembut, benarkah iris itu telah menolakya?
"Oppa..."
"Kau mirip dengan Henry, namdongsaengku. Mianhe, kalau sikapku selama ini yang mengkhususkanmu membuatmu salah paham."
Sungmin diam. Mirip dengan adiknya? Jadi selama ini... rasa nyaman untuknya, rasa hangat untuknya, perhatian, kasih sayang dan semuanya... semua yang namja itu berikan padanya hanya karena dia, Lee Sungmin mirip dengan adik Choi Siwon?
Sungmin menengadah dan menatap iris hitam pekat yang menatapnya penuh penyesalan. Pantaskan Sungmin mengukirkan rasa penyesalan di sana setelah semua yang namja itu berikan untuknya? Pantaskah dia menyalahkan sikap namja itu padanya? Tidak... itu sama sekali tidak pantas.
Sungmin pun menggeleng untuk dirinya sendiri. "Jadi Oppa punya dongsaeng?" dia bertanya dengan suaranya yang terdengar berat.
"Ya, dia dongsaeng yang manis. Meskipun dulu kami selalu ribut, tapi dia sungguh dongsaeng yang sangat aku sayangi," gumam Siwon pelan. Sejejak senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Dulu?"
"Aku tidak pernah bertemu denganya lagi semenjak dia pergi bersama Mommy. Orang tuaku bercerai dan Mommy membawanya pergi. Sebenarnya aku sangat iri pada Henry yang selalu mendapatkan perhatian Mommy. Tapi statusku sebagai menerus keluarga membuatku harus tetap di samping Daddy. Lagi pula Henry sakit, dia butuh seseorang yang selalu memperhatikannya, tidak seperti Daddy yang selalu sibuk dengan bisnisnya. Sebab itulah Mommy hanya membawa Henry saat pergi," Siwon bercerita dengan mata yang menerawang meski pandangannya tertuju pada Sungmin.
"Oppa..."
"Saat pertama melihatmu, aku seperti melihat Henry yang selama delapan tahun ini hanya kulihat fotonya melalui email. Dia di China sekarang, menjalani pengobatan untuk penyakitnya."
"Mianhe, aku jadi membuat Oppa sedih," ujar Sungmin dengan penyesalan di kalimatnya. Dia sungguh merasa bersalah saat melihat sudut mata Siwon yang berkaca. Sungmin mengangkat tangannya dan mengusap sudut mata yang telah basah itu.
Siwon menggeleng. "Sesekali aku juga butuh pelepasan," gumam Siwon dengan mencoba mengukirkan senyum dibibirnya. Namun...
Senyum yang bahkan belum terukir itu lenyap saat namja itu merasakan tarikan di tengkuknya dan... sebuah rasa hangat dan lembut menyapa bibirnya.
Sungmin tak tahu kegilaan apa yang telah menyerangnya hingga dengan berani dia menarik leher itu kebawah dan berjingkat untuk meraih bibir tipis itu. Sungmin memejamkan matanya merasakan dingin dan basahnya bibir itu di sana. Sesaat, sebelum yeoja itu berlari cepat meninggalkan Siwon tanpa sedetikpun menatapnya lagi.
Sementara di atas sana, seorang namja baru saja membuang pandangannya dari adegan yang mampu menghancurkan hatinya berkali-kali. Menyesakkan. Terlalu menyesakkan.
.
.
Ryeowook menatap ponselnya dengan kesal dan memasukkanya dengan asal kedalam tas gendongnya. Dia pun menghela nafas dan menatap jalanan berpenerangan orange lampu jalan. Akhir-akhir ini Yesung jadi lebih sering membatalkan janjinya dengan alasan yang tak terlalu jelas. Membuat moodnya jadi buruk saja.
Ryeowook kembali mendudukkan dirinya di kursi halte yang saat itu tengah lenggang. Meraih kopi yang tadi ditinggalkannya begitu saja di atas kursi saat mengangkat telepon. Untung saja kopinya masih panas. Dia tak mau meminum kopi dingin di udara sedingin ini ataupun sekedar membeli kopi lagi. Mesin penjual kopi terdekat ada di dalam kampusnya, dan dia sudah sangat malas untuk berjalan lagi.
Tak beberapa lama, bus yang di tunggunya datang. Masih dengan gelas kopi yang mengepul di tangannya, namja itu naik kedalam bus dan duduk di kursi terdekat dengan pintu. Tak banyak yang bisa Ryeowook pikirkan saat ini, hanya Yesung. Dan dari pada memikirkan hal-hal yang mungkin akan membawa negatif, namja itu memilih menyesap kopinya dan memandang keluar jendela, di mana pemandangan malam kota Seoul di sajikan.
Bus berhenti di sebuah halte dengan sedikit goyangan yang khas. Ryeowook kembali menyesap kopinya dan menatap keluar jendela dengan tak minat. Namun pandangan tak minat itu berubah penasaran dalam sekejap saat melihat sebuah peugeot hitam yang begitu di kenalnya secara khas. Itu... mobil Yesung dan baru saja berhenti di halaman parkir sebuah bangunan. Ryeowook segera menatap sesaat bangunan apa yang tengah di hinggapi mobil mewah berharga nol berjejer itu. Sebuah restoran sashimi bintang lima yang juga tak asing baginya, restoran tempat Yesung biasa membawanya saat berkencan.
Ryeowook kembali menatap peugeot hitam itu. Dan tak lama kemudian sosok namja bertopi dan kaca mata hitam besar keluar dari pintu kemudi dan berjalan memutar menuju pintu penumpang. Itu Yesung yang berada dalam penyamarannya dan... Ryeowook mengernyit, Yesung tidak sendiriankah?
Sosok di balik pintu itu pun keluar, namja berkaos putih polos dan bermantel coklat yang cukup Ryeowook kenal belakangan ini. Ryeowook mengerjap tak percaya... jadi... ini urusan penting yang namja itu katakan di telepon tadi?
Berkencan dengan namja imut yang mengaku sebagai yeghonnyeonya?
Bagus sekali.
Ryeowook meraih ponselnya, dengan rasa kesal dan cemburu yang menyapa hatinya dia mengirim sebuah pesan singkat. Lalu dengan emosi tinggi, me-non aktif-kan ponsel itu.
.
.
"ARGH! SIAL!" Kyuhyun berteriak keras tak kuat menahan rasa sakit yang berdenyut terlalu kuat di dadanya.
Namja itu mengeram dengan tangan yang mengepal kaku. Langkahnya menghentak saat menyusuri ruang tamu dan membuka pintu depan flat Sungmin. Dia harus melakukan sesuatu. Dia harus menegaskan bahwa Sungmin miliknya dan bahwa tidak seharusnya yeoja itu mencium namja lain.
Dia harus mengatakan semuanya pada yeoja itu.
'BRAG!' daun pintu itu tertutup dengan hentakkan yang begitu keras.
Matanya berkilat marah, kecewa dan sakit saat menatapi yeoja yang tengah berlari kecil di menaiki tangga di ujung koridor sana. Beruntung sekali! Tak perlu jauh-jauh mendatanginya karena kini yeoja itu sendiri yang mendatanginya.
"YA!" Kyuhyun berteriak, membuat yeoja itu sedikit melonjak terkejut. Namun detik berikutnya... seperti balon yang di tusuk jarum, segala amarah itu lenyap seperti udara dalam balon hanya dengan sedikit sentakan kecil.
Mata kelinci itu merah, dengan lelehan bening yang meluruhkan semua amarah Kyuhyun pada sosok itu.
"Waeyo?" tanyanya pelan, dengan tangan yang bergetar mengusap air mata di pipi putih itu.
"Kyunie~," dan yeoja itupun menghambur kedalam dekapannya. Menimbulkan beribu tanya dalam benaknya.
"Apa yang terjadi? Dia menyakitimu? Katakan padaku apa yang terjadi?"
"Oppa.. hiks... Oppa... dia menolakku... bahkan sebelum aku mengatakan cinta... hiks," jawab yeoja itu, sesegukan di dekapannya.
Kedua alis Kyuhyun bergerak mendekat, dia tak mengerti. "Apa maksudmu Minnie chagi?"
"Kau.. hiks... benar-benar.. hiks.. bukan pendengar yang baik Kyunie...," kesal yeoja itu sembari memukul pelan dada Kyuhyun dan bergerak menjauh.
Seakan tak berniat menjelaskan lebih lanjut, Sungmin berlalu dan masuk kedalam flatnya. Kyuhyun masih terdiam hingga beberapa saat, dia masih belum mengerti dengan ucapan Sungmin.
'Menolakku? Apa maksudnya?' namja itu membatin, kemudian berbalik dan menatap Sungmin yang baru saja menutup pintu flatnya.
Kyuhyun pun melangkah mengikuti yeoja itu. Kyuhyun menatap punggung Sungmin yang tengah membungkuk di depan kulkas. Menatapinya dengan intens, berharap yeoja itu tahu... gerak rasa sakit yang mulai meruntuhkan hatinya.
"Kau tidak pulang? Sudah seharian kau di sini," suara yeoja itu terdengar serak dengan air mata yang belum juga berhenti mengalir dari matanya.
"Kau ini kenapa? Lalu sejak kapan kau minum? Apa bergaul dengan namja itu membuatmu jadi seorang pemabuk?" Kyuhyun bertanya dengan menatap iris foxy itu, berharap mendapatkan sedikit perhatian untuk semua tanya di kepalanya.
Sungmin meletakkan enam botol bir yang tadi di ambilnya dari kulkas, di atas meja. Lalu menghempaskan pantatnya di sofa dan mulai membuka satu botolnya.
"Kau ini kenapa!" Kyuhyun membentak kali ini, dengan sentakan kecil namja itu merebut botol bir di tangan Sungmin.
"Kau pulang saja, meski aku menjelaskannya kau tidak akan mengerti!" Sungmin balas membentak dan kembali merebut botol bir di tangan Kyuhyun, lalu meminumnya.
Kyuhyun diam. Tak ada gunanya memaksa Sungmin yang tengah berkeras seperti ini. Namja itu memilih ikut mendudukkan dirinya di atas sofa di samping Sungmin. Kembali memandangi wajah imut yang perlahan memerah di bawah pengaruh alkohol.
"Kenapa kau masih di sini?"
"Kau benar. Aku terlalu banyak melewatkan waktu untuk belajar mengerti dan memahamimu. Tapi setelah ini, aku tidak akan melewatkan seditikpun lagi," ujar Kyuhyun dengan tangan terlipat di dada, masih menatapi Sungmin yang mulai mabuk dan air mata yeoja itu yang berlahan berhenti.
"Kau, namja manja yang selalu mendapatkan keinginanmu tidak akan mengerti. Aku bertemu namja manja dan lemah, lalu mencintainya dan dia meninggalkanku untuk yeoja lain. Lalu bertemu namja hangat dan baik hati, lalu mencintainya dan dia menolakku. Itu sangat buruk," rancau Sungmin, yeoja itu meletakkan botol duanya dengan kasar dan meraih botol ketiga.
"Apa maksudmu?" Kyuhyun merebut botol ketiga dari tangan Sungmin. "APA MAKSUDMU MENCINTAINYA!" teriak namja itu, kehilangan kesabaran.
"Mencintainya ya mencintainya, sudah kubilangkan kau tidak akan mengerti, ish... masa mencintainya saja tidak tahu...," gumam Sungmin dengan memukul kepala Kyuhyun cukup keras.
"KAU TIDAK BOLEH MENCINTAINYA!" Kyuhyun masih saja berteriak. Amarah yang tadi sempat menghilang kini kembali dengan intensitas yang lebih besar.
"Hik... aku tidak tahu hik aku tidak mau kehilangan lagi hik," yeoja itu mabuk.
"ARGH!" tak tahu kekesalan sebesar apa yang mendatangi namja itu. Jantungnya benar-benar berdetak dalam ketakutan sekarang. Sungmin tak seharusnya mencintai namja lain dengan semudah itu. Tidak boleh. Seharusnya hal ini tidak terjadi.
Kyuhyun menatap botol hijau ditangannya dan segera meminum isi didalamnya dengan cepat. Dia bisa gila! Kewarasannya bisa lenyap hanya karena yeoja yang tengah teler di sampingnya.
'Tak!' benturan keras meja dan botol kosong terdengar. Kyuhyun kembali meraih botol lain dan kembali menegaknya dengan cepat, hingga botol ketiga habis, namja itu masih merasa belum cukup. Rasa kesal dan takut itu masih saja bercokol di dadanya.
"KAU TIDAK BOLEH MENCINTAINYA, LEE SUNGMIN DENGAR!" Kyuhyun meraih pundak Sungmin dan mencengkramya dengan kasar.
"Engh! Kau ini kenapa? Kenapa aku tidak boleh mencintainya? Dia baik padaku, dia menganggapku adiknya, tidak seperti kau yang meninggalkanku!" balas Sungmin dengan berusaha melepaskan cengkraman Kyuhyun di pundaknya.
"Tidak. Dengar... dengar Lee Sungmin, aku mencintaimu... kau dengar.. jangan mencintai namja lain, kau hanya boleh mencintaiku!"
Akal sehat telah lenyap dari keduanya. Tanpa kesadaran yang selalu berusaha menutupi kata hati, sahutan-sahutan kata sakit meluncur dari kedua bibir itu.
"Aku juga mencintaimu... tapi kau meninggalkanku..."
"Ani, aku tidak akan meninggalkanmu. Saranghae... kau mendengarku, Lee Sungmin? Jeongmal Saranghae..."
"Kyunieya~ kau~ hik...," Sungmin menatap Kyuhyun dengan matanya yang mulai tak fokus.
"Benar. Aku mencintaimu," ujar Kyuhyun hingga diakhir kalimatnya, namja itu berhasil meniadakan jarak diantara mereka.
Kyuhyun mengecup bibir itu begitu lembut, namun juga begitu haus. Dua nada tergetar dalam satu penyampaian. Kyuhyun menyesap bibir Sungmin seakan begitu tak sabar, namun tetap hati-hati. Mengusap bibir basah Sungmin dengan lidahnya, meminta ijin.
Sungmin membalasnya, membalas melumat bibirnya dan membawa lidah namja itu masuk dengan leluasa dan mudah. Ciuman-ciuman panjang dan panas saling kejar mengejar. Mengatakan betapa rindunya Kyuhyun pada sentuhan ini. menyampaikan betapa menyesalnya dia melewatkan sejeda waktu tanpa Sungmin.
Malam ini, Kyuhyun akan melakukannya. menumpahkan semua rasa rindu dan sakit hati yang selama ini berbendung dalam dadanya. Semuanya... malam ini.
_TBC_
Edited_ Lhyn menghilangkan bagian M-nya... Maaf.. :)
_03_03_2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar