AFTER ALL
Keping Tigabelas
Genre : Romance , Hurt/Comfort,
Drama.
Rate : M
Cast : Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun,
Lee Sungmin as Lee Sungmin, Choi Siwon as Choi Siwon, Kim
Ryeowook as Kim Ryeowook, Kim Yesung as Kim Yesung, etc.
Pairing : Kyuhyun X Sungmin,
Siwon X Sungmin, Kyuhyun X Seohyun, and Yesung X Ryeowook,
the other only Friendship, Ada request untuk Slight lainnya silahkan PM.
Warning : Genderswitch, abal, geje,
aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain
yangmembuat fic ini jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : Super Junior milik SME,
Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari
imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun.
Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!
.
"Mama mara mar-rarara jeje
jebalhaji mara, B-wabwa bwara bwara nae nun-eul bara bwa. Gaji mara gajima
neoneun nal tteonaji mara."
(Don't do it, please don't do it,
Look at me, look at my eyes. Don't leave, please don't leave me.) _A-CHA-Super
Junior_
.
Kyuhyun menggeliat pelan, matanya
terasa berat meski telah tidur sepanjang siang di atas kasur Sungmin. Namja
itu bergerak meraih bantal Sungmin dan memeluknya erat, tidurnya benar-benar
nyenyak dengan menyesap aroma tubuh Sungmin yang tersisa di mana-mana di kamar
bernuansa pink itu. Seperti aroma terapi yang menenangkan tubuh dan otaknya
sekaligus.
Kyuhyun meraba keningnya dan
tersenyum tipis. Demamnya telah turun, sepertinya, perawatan Sungmin memang
yang terbaik dan tidak ada duanya. Namja itu mempererat dekapannya pada
bantal Sungmin dan menyesap aroma yang tersisa di sana dalam-dalam.
"Ya! Oppa, yang tadi itu
sudah benar, kenapa kau malah merusaknya?" suara Sungmin terdengar samar
di telinga Kyuhyun.
Sejenak membuat Kyuhyun berfikir
dengan siapa yeoja itu tengah bicara.
"Tadi memang benar, tapi dengan
cara itu kau akan memutar dan menggunakan rumus yang sama untuk banyak action,
gunakan rumus ini saja untuk semua action sejenis dan linkkan
rumusnya dengan benar," suara barinton dalam dan tenang seakan menjawab
pertanyaan di kepala Kyuhyun.
Kyuhyun mendecih. Dia memang tak
begitu akrab dengan suara itu, tapi ingatannya masih sangat jelas tentang siapa
pemilik suara itu. Namja tinggi yang suka bersikap sok manis di depan
Minnienya. Yah! Minnienya! Sungmin itu miliknya!.
Kyuhyun melirik jam di dinding kamar
yang telah menunjukkan pukul sembilan malam, sudah berapa lama namja itu
ada di sana bersama Minnie-nya? Namja kurus itupun menyibak selimutnya,
namun tetap memeluk bantal itu saat dia bangkit. Dengan sedikit geram dia membuka
pintu kamarnya dan melihat mereka tengah duduk bersampingan di sofa tempatnya
tertidur pagi tadi.
Kyuhyun hanya dapat melihat kepala
mereka dan tangan si namja tinggi yang tengah mengacak rambut Sungmin
dengan gerak lembut. Huh! Membuat iri saja.
"Ehem!" Kyuhyun berdehem
untuk memberitahukan keberadaannya di belakang mereka.
"Kau sudah bangun?" Sungmin
bertanya dengan nada lembut.
Kyuhyun tersenyum saat yeoja
manis itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearahnya. Sungmin
mengangkat tangannya dan menyentuh kening Kyuhyun.
"Sudah tidak panas," gumam namja
itu pelan.
Kyuhyun tersenyum tipis, bukan pada
Sungmin melainkan pada namja yang kini tengah menatap mereka. Namja
tinggi itu mendengus melihat senyum meremehkan dari Kyuhyun.
"Aku lapar, apa buburnya masih
ada?" Kyuhyun bertanya manja.
"Ah. Masih, ada di dapur. Biar
kuambilkan," ujar Sungmin.
"Minnieya...," namja
tinggi itu memanggil dengan suara dalamnya yang menyebalkan, setidaknya menurut
Kyuhyun.
"Ne?" Sungmin
berbalik dan menatap namja itu.
"Mungkin sebaiknya aku pulang
saja."
'Ne! Bagus! Pergi
saja sana!,' batin Kyuhyun.
"Kita lanjutkan besok lagi dan
kau juga harus banyak istirahat, jangan sampai kau jadi sakit karena kecapaian
mengurus orang sakit," tambah Siwon dengan nada sinis yang tak kentara.
Kyuhyun mendelik kesal mendengar
ejekan itu. Dia pikir dia siapa? Asal dia tahu saja, Sungmin bahkan rela
merawat Kyuhyun selama empat tahun ini tanpa pernah mengeluh sakit sedikit—
Kyuhyun tersentak oleh pemikirannya
sendiri. Namja itu menatap sayu pada Sungmin yang kini berjalan di
samping namja itu. Sedikit tak rela saat Sungmin menutup pintu itu, yeoja
itu ikut keluar bersama namja tinggi itu.
Kyuhyun berjalan pelan kearah jendela
flat Sungmin yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Menunggu, setengah
mengamati sosok Sungmin yang akan muncul di bawah sana. Menatap dengan sebal
pada porsche hitam yang terparkir rapi tak jauh dari Audi putihnya.
Kalau saja dia punya sihir, dia pasti
telah menghanguskan mobil itu dari atas sini. Ah, mungkin sebaiknya menunggu
pemiliknya masuk dan duduk dulu sebelum menghanguskannya.
.
.
"Kau tak perlu mengantarku
sampai sejauh ini Minnie," ujar Siwon setelah keduanya sampai di dekat
mobil.
"Ah ne, umm maksudku... gwenchana,
aku hanya ingin saja," jawab Sungmin gugup.
"Hem," Siwon tersenyum
tipis. "Baik-baiklah dengan namja itu dan jaga dirimu."
Sungmin menggangguk dan tersenyum
gugup. "Oppa!" Sungmin menarik lengan Siwon saat namja
itu hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Waeyo, Minnie?"
"Aku... ada yang ingin aku sampaikan
pada Oppa...," Sungmin menunduk, menyembunyikan wajahnya yang
bersemu merah.
"Apa?" Siwon bertanya
penasaran dengan tingkah malu-malu Sungmin yang tak biasanya. Dengan lembut dia
mengangkat wajah menunduk Sungmin dengan ibu jarinya.
"O-Oppa... aku... aku
menyukaimu, Aku—," kalimat Sungmin terputus saat jari telunjuk panjang
milik Siwon telah mendarat di bibirnya, mencegahnya berbicara lebih banyak.
"Jangan mengucapkannya,
Minnie."
"O-Oppa.. wa-waeyo?"
Sungmin bertanya tak mengerti dengan suara yang sedikit bergetar. Apakah itu
penolakan dari Siwon?
"Aku tidak mau kau menyesal
karena telah mengucapkan kata itu nantinya," Siwon berucap dalam dengan
menatap iris foxy yang bertanya tak mengerti.
Sungmin terkesiap mendengar hal itu.
Dadanya berdenyut sakit. Benarkah dia ditolak? Dia ditolak bahkan sebelum
mengatakannya? Sungmin menatap Siwon dalam, menatap pada iris hitam pekat yang
selama ini selalu ada untuk menenangkan hatinya. Iris hitam pekat yang
mengobati rasa sakit di dadanya dengan kehangatan yang begitu lembut, benarkah
iris itu telah menolakya?
"Oppa..."
"Kau mirip dengan Henry, namdongsaengku.
Mianhe, kalau sikapku selama ini yang mengkhususkanmu membuatmu salah
paham."
Sungmin diam. Mirip dengan adiknya?
Jadi selama ini... rasa nyaman untuknya, rasa hangat untuknya, perhatian, kasih
sayang dan semuanya... semua yang namja itu berikan padanya hanya karena
dia, Lee Sungmin mirip dengan adik Choi Siwon?
Sungmin menengadah dan menatap iris
hitam pekat yang menatapnya penuh penyesalan. Pantaskan Sungmin mengukirkan
rasa penyesalan di sana setelah semua yang namja itu berikan untuknya?
Pantaskah dia menyalahkan sikap namja itu padanya? Tidak... itu sama
sekali tidak pantas.
Sungmin pun menggeleng untuk dirinya
sendiri. "Jadi Oppa punya dongsaeng?" dia bertanya
dengan suaranya yang terdengar berat.
"Ya, dia dongsaeng yang
manis. Meskipun dulu kami selalu ribut, tapi dia sungguh dongsaeng yang
sangat aku sayangi," gumam Siwon pelan. Sejejak senyum tipis menghiasi
bibirnya.
"Dulu?"
"Aku tidak pernah bertemu
denganya lagi semenjak dia pergi bersama Mommy. Orang tuaku bercerai dan Mommy
membawanya pergi. Sebenarnya aku sangat iri pada Henry yang selalu mendapatkan
perhatian Mommy. Tapi statusku sebagai menerus keluarga membuatku harus tetap
di samping Daddy. Lagi pula Henry sakit, dia butuh seseorang yang selalu
memperhatikannya, tidak seperti Daddy yang selalu sibuk dengan bisnisnya. Sebab
itulah Mommy hanya membawa Henry saat pergi," Siwon bercerita dengan mata
yang menerawang meski pandangannya tertuju pada Sungmin.
"Oppa..."
"Saat pertama melihatmu, aku
seperti melihat Henry yang selama delapan tahun ini hanya kulihat fotonya
melalui email. Dia di China sekarang, menjalani pengobatan untuk
penyakitnya."
"Mianhe, aku jadi membuat Oppa
sedih," ujar Sungmin dengan penyesalan di kalimatnya. Dia sungguh merasa
bersalah saat melihat sudut mata Siwon yang berkaca. Sungmin mengangkat
tangannya dan mengusap sudut mata yang telah basah itu.
Siwon menggeleng. "Sesekali aku
juga butuh pelepasan," gumam Siwon dengan mencoba mengukirkan senyum
dibibirnya. Namun...
Senyum yang bahkan belum terukir itu
lenyap saat namja itu merasakan tarikan di tengkuknya dan... sebuah rasa
hangat dan lembut menyapa bibirnya.
Sungmin tak tahu kegilaan apa yang
telah menyerangnya hingga dengan berani dia menarik leher itu kebawah dan
berjingkat untuk meraih bibir tipis itu. Sungmin memejamkan matanya merasakan
dingin dan basahnya bibir itu di sana. Sesaat, sebelum yeoja itu berlari
cepat meninggalkan Siwon tanpa sedetikpun menatapnya lagi.
Sementara di atas sana, seorang namja
baru saja membuang pandangannya dari adegan yang mampu menghancurkan hatinya
berkali-kali. Menyesakkan. Terlalu menyesakkan.
.
.
Ryeowook menatap ponselnya dengan
kesal dan memasukkanya dengan asal kedalam tas gendongnya. Dia pun menghela
nafas dan menatap jalanan berpenerangan orange lampu jalan. Akhir-akhir ini
Yesung jadi lebih sering membatalkan janjinya dengan alasan yang tak terlalu
jelas. Membuat moodnya jadi buruk saja.
Ryeowook kembali mendudukkan dirinya
di kursi halte yang saat itu tengah lenggang. Meraih kopi yang tadi
ditinggalkannya begitu saja di atas kursi saat mengangkat telepon. Untung saja
kopinya masih panas. Dia tak mau meminum kopi dingin di udara sedingin ini
ataupun sekedar membeli kopi lagi. Mesin penjual kopi terdekat ada di dalam
kampusnya, dan dia sudah sangat malas untuk berjalan lagi.
Tak beberapa lama, bus yang di
tunggunya datang. Masih dengan gelas kopi yang mengepul di tangannya, namja
itu naik kedalam bus dan duduk di kursi terdekat dengan pintu. Tak banyak yang
bisa Ryeowook pikirkan saat ini, hanya Yesung. Dan dari pada memikirkan hal-hal
yang mungkin akan membawa negatif, namja itu memilih menyesap kopinya
dan memandang keluar jendela, di mana pemandangan malam kota Seoul di sajikan.
Bus berhenti di sebuah halte dengan
sedikit goyangan yang khas. Ryeowook kembali menyesap kopinya dan menatap
keluar jendela dengan tak minat. Namun pandangan tak minat itu berubah penasaran
dalam sekejap saat melihat sebuah peugeot hitam yang begitu di kenalnya secara
khas. Itu... mobil Yesung dan baru saja berhenti di halaman parkir sebuah
bangunan. Ryeowook segera menatap sesaat bangunan apa yang tengah di hinggapi
mobil mewah berharga nol berjejer itu. Sebuah restoran sashimi bintang lima
yang juga tak asing baginya, restoran tempat Yesung biasa membawanya saat
berkencan.
Ryeowook kembali menatap peugeot
hitam itu. Dan tak lama kemudian sosok namja bertopi dan kaca mata hitam
besar keluar dari pintu kemudi dan berjalan memutar menuju pintu penumpang. Itu
Yesung yang berada dalam penyamarannya dan... Ryeowook mengernyit, Yesung tidak
sendiriankah?
Sosok di balik pintu itu pun keluar, namja
berkaos putih polos dan bermantel coklat yang cukup Ryeowook kenal belakangan
ini. Ryeowook mengerjap tak percaya... jadi... ini urusan penting yang namja
itu katakan di telepon tadi?
Berkencan dengan namja imut
yang mengaku sebagai yeghonnyeonya?
Bagus sekali.
Ryeowook meraih ponselnya, dengan rasa
kesal dan cemburu yang menyapa hatinya dia mengirim sebuah pesan singkat. Lalu
dengan emosi tinggi, me-non aktif-kan ponsel itu.
.
.
"ARGH! SIAL!" Kyuhyun
berteriak keras tak kuat menahan rasa sakit yang berdenyut terlalu kuat di
dadanya.
Namja itu mengeram dengan
tangan yang mengepal kaku. Langkahnya menghentak saat menyusuri ruang tamu dan
membuka pintu depan flat Sungmin. Dia harus melakukan sesuatu. Dia harus
menegaskan bahwa Sungmin miliknya dan bahwa tidak seharusnya yeoja itu
mencium namja lain.
Dia harus mengatakan semuanya pada yeoja
itu.
'BRAG!' daun pintu itu
tertutup dengan hentakkan yang begitu keras.
Matanya berkilat marah, kecewa dan
sakit saat menatapi yeoja yang tengah berlari kecil di menaiki tangga di
ujung koridor sana. Beruntung sekali! Tak perlu jauh-jauh mendatanginya karena
kini yeoja itu sendiri yang mendatanginya.
"YA!" Kyuhyun berteriak,
membuat yeoja itu sedikit melonjak terkejut. Namun detik berikutnya...
seperti balon yang di tusuk jarum, segala amarah itu lenyap seperti udara dalam
balon hanya dengan sedikit sentakan kecil.
Mata kelinci itu merah, dengan
lelehan bening yang meluruhkan semua amarah Kyuhyun pada sosok itu.
"Waeyo?" tanyanya pelan,
dengan tangan yang bergetar mengusap air mata di pipi putih itu.
"Kyunie~," dan yeoja
itupun menghambur kedalam dekapannya. Menimbulkan beribu tanya dalam benaknya.
"Apa yang terjadi? Dia
menyakitimu? Katakan padaku apa yang terjadi?"
"Oppa.. hiks... Oppa...
dia menolakku... bahkan sebelum aku mengatakan cinta... hiks," jawab yeoja
itu, sesegukan di dekapannya.
Kedua alis Kyuhyun bergerak mendekat,
dia tak mengerti. "Apa maksudmu Minnie chagi?"
"Kau.. hiks... benar-benar..
hiks.. bukan pendengar yang baik Kyunie...," kesal yeoja itu
sembari memukul pelan dada Kyuhyun dan bergerak menjauh.
Seakan tak berniat menjelaskan lebih
lanjut, Sungmin berlalu dan masuk kedalam flatnya. Kyuhyun masih terdiam hingga
beberapa saat, dia masih belum mengerti dengan ucapan Sungmin.
'Menolakku? Apa maksudnya?' namja
itu membatin, kemudian berbalik dan menatap Sungmin yang baru saja menutup
pintu flatnya.
Kyuhyun pun melangkah mengikuti yeoja
itu. Kyuhyun menatap punggung Sungmin yang tengah membungkuk di depan kulkas.
Menatapinya dengan intens, berharap yeoja itu tahu... gerak rasa sakit
yang mulai meruntuhkan hatinya.
"Kau tidak pulang? Sudah
seharian kau di sini," suara yeoja itu terdengar serak dengan air
mata yang belum juga berhenti mengalir dari matanya.
"Kau ini kenapa? Lalu sejak
kapan kau minum? Apa bergaul dengan namja itu membuatmu jadi seorang pemabuk?"
Kyuhyun bertanya dengan menatap iris foxy itu, berharap mendapatkan sedikit
perhatian untuk semua tanya di kepalanya.
Sungmin meletakkan enam botol bir
yang tadi di ambilnya dari kulkas, di atas meja. Lalu menghempaskan pantatnya
di sofa dan mulai membuka satu botolnya.
"Kau ini kenapa!" Kyuhyun
membentak kali ini, dengan sentakan kecil namja itu merebut botol bir di
tangan Sungmin.
"Kau pulang saja, meski aku
menjelaskannya kau tidak akan mengerti!" Sungmin balas membentak dan
kembali merebut botol bir di tangan Kyuhyun, lalu meminumnya.
Kyuhyun diam. Tak ada gunanya memaksa
Sungmin yang tengah berkeras seperti ini. Namja itu memilih ikut
mendudukkan dirinya di atas sofa di samping Sungmin. Kembali memandangi wajah
imut yang perlahan memerah di bawah pengaruh alkohol.
"Kenapa kau masih di sini?"
"Kau benar. Aku terlalu banyak
melewatkan waktu untuk belajar mengerti dan memahamimu. Tapi setelah ini, aku
tidak akan melewatkan seditikpun lagi," ujar Kyuhyun dengan tangan
terlipat di dada, masih menatapi Sungmin yang mulai mabuk dan air mata yeoja
itu yang berlahan berhenti.
"Kau, namja manja yang
selalu mendapatkan keinginanmu tidak akan mengerti. Aku bertemu namja
manja dan lemah, lalu mencintainya dan dia meninggalkanku untuk yeoja
lain. Lalu bertemu namja hangat dan baik hati, lalu mencintainya dan dia
menolakku. Itu sangat buruk," rancau Sungmin, yeoja itu meletakkan
botol duanya dengan kasar dan meraih botol ketiga.
"Apa maksudmu?" Kyuhyun
merebut botol ketiga dari tangan Sungmin. "APA MAKSUDMU
MENCINTAINYA!" teriak namja itu, kehilangan kesabaran.
"Mencintainya ya mencintainya,
sudah kubilangkan kau tidak akan mengerti, ish... masa mencintainya saja tidak
tahu...," gumam Sungmin dengan memukul kepala Kyuhyun cukup keras.
"KAU TIDAK BOLEH
MENCINTAINYA!" Kyuhyun masih saja berteriak. Amarah yang tadi sempat
menghilang kini kembali dengan intensitas yang lebih besar.
"Hik... aku tidak tahu hik
aku tidak mau kehilangan lagi hik," yeoja itu mabuk.
"ARGH!" tak tahu kekesalan
sebesar apa yang mendatangi namja itu. Jantungnya benar-benar berdetak
dalam ketakutan sekarang. Sungmin tak seharusnya mencintai namja lain
dengan semudah itu. Tidak boleh. Seharusnya hal ini tidak terjadi.
Kyuhyun menatap botol hijau
ditangannya dan segera meminum isi didalamnya dengan cepat. Dia bisa gila!
Kewarasannya bisa lenyap hanya karena yeoja yang tengah teler di
sampingnya.
'Tak!' benturan keras meja dan botol
kosong terdengar. Kyuhyun kembali meraih botol lain dan kembali menegaknya
dengan cepat, hingga botol ketiga habis, namja itu masih merasa belum
cukup. Rasa kesal dan takut itu masih saja bercokol di dadanya.
"KAU TIDAK BOLEH MENCINTAINYA,
LEE SUNGMIN DENGAR!" Kyuhyun meraih pundak Sungmin dan mencengkramya
dengan kasar.
"Engh! Kau ini kenapa? Kenapa
aku tidak boleh mencintainya? Dia baik padaku, dia menganggapku adiknya, tidak
seperti kau yang meninggalkanku!" balas Sungmin dengan berusaha melepaskan
cengkraman Kyuhyun di pundaknya.
"Tidak. Dengar... dengar Lee
Sungmin, aku mencintaimu... kau dengar.. jangan mencintai namja lain,
kau hanya boleh mencintaiku!"
Akal sehat telah lenyap dari
keduanya. Tanpa kesadaran yang selalu berusaha menutupi kata hati,
sahutan-sahutan kata sakit meluncur dari kedua bibir itu.
"Aku juga mencintaimu... tapi
kau meninggalkanku..."
"Ani, aku tidak akan
meninggalkanmu. Saranghae... kau mendengarku, Lee Sungmin? Jeongmal
Saranghae..."
"Kyunieya~ kau~ hik...,"
Sungmin menatap Kyuhyun dengan matanya yang mulai tak fokus.
"Benar. Aku mencintaimu,"
ujar Kyuhyun hingga diakhir kalimatnya, namja itu berhasil meniadakan
jarak diantara mereka.
Kyuhyun mengecup bibir itu begitu
lembut, namun juga begitu haus. Dua nada tergetar dalam satu penyampaian.
Kyuhyun menyesap bibir Sungmin seakan begitu tak sabar, namun tetap hati-hati.
Mengusap bibir basah Sungmin dengan lidahnya, meminta ijin.
Sungmin membalasnya, membalas melumat
bibirnya dan membawa lidah namja itu masuk dengan leluasa dan mudah.
Ciuman-ciuman panjang dan panas saling kejar mengejar. Mengatakan betapa
rindunya Kyuhyun pada sentuhan ini. menyampaikan betapa menyesalnya dia
melewatkan sejeda waktu tanpa Sungmin.
Malam ini, Kyuhyun akan melakukannya. menumpahkan semua rasa rindu dan sakit hati yang selama ini berbendung dalam dadanya. Semuanya... malam ini.
_TBC_
Edited_ Lhyn menghilangkan bagian M-nya... Maaf.. :)
_03_03_2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar