Selasa, 03 Juli 2012

Lets Not (First Puzzle)

LETS NOT
Puzzle satu
Genre : Romance , Hurt/Comfort, Drama.
Rate : T
Pairing : KyuMin (Kyuhyun X Sungmin atau Kyuhyun X Taemin ?* Tentukan Sendiri!
Warning : Genderswitch, abal, geje, aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain yang membuat fic ini jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : Super Junior milik SME, Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun. Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!
.


"TAEMIN!"
Namja itu terbangun dengan napas terengah, keringat dingin mengalir perlahan dari pelipisnya, turun menyusuri pipi berkulit pucatnya hingga bermuara di dagu dan jatuh meresap di selimut. Masih terengah dengan pandangan yang berputar membuatnya pusing.
"Taemin," ujarnya lirih, kali ini dengan kesadaran penuh.
Terbangun dari mimpi buruk tentang putri kecilnya, Kyuhyun segera beranjak dari tempat tidurnya.
Mimpinya… mimpi itu benar-benar buruk, sangat buruk dan Kyunhyun benar-benar tak ingin hal buruk sekecil apapun menimpa putri kecilnya.
Kyuhyun keluar dari kamar dan berlari kecil menyusuri koridor Cho manor itu, turun dengan cepat di tangga dan menyebrang langsung keruang makan.
"Taemin," panggilnya pelan. Dan sekejap kelegaan membasahi dadanya saat menatap yeoja kecil berambut pendek dan berponi itu tengah menikmati sarapannya.
Namun kelegaan itu hilang saat mata bulat yeoja kecil itu menatapnya dengan hujaman dingin. Yeoja kecil itu meletakkan sarapannya dan meminum susunya seteguk sebelum bangkit, memutari meja dan mengecup pipi seorang yeoja di sana.
"Minnie berangkat dulu, Umma," ujarnya pelan, lalu berjalan tanpa menatap Kyuhyun sedikitpun. Melewati Appanya seakan dia hanya debu kecil yang tak kasat mata.
Hati Kyuhyun meringis sakit.
"Minnie, kau belum berpamitan pada Appa," ujar Sungmin agak keras mengingat jarak putrinya yang telah agak menjauh.
Kyuhyun tahu, tanpa melihatpun dia tahu bahwa putri kecilnya akan lebih memilih berpura-pura tak mendengar peringatan Ummanya dari pada harus berbalik lagi walau sekedar untuk memandang Appanya.
"Kau mengajarinya dengan baik," desis Kyuhyun, dingin. Menatap iris kelinci itu dengan tajam dan benci.
"Kyu, aku—"
"Berhentilah membual! Kau benar-benar wanita licik. Maracuni pikiran polos putriku untuk membenciku! Kau—" Kyuhyun kehilangan kata-katanya. Dia benar-benar benci pada yeoja di depannya.
Yeoja itu… Lee Sungmin… Isrinya.
Lee Sungmin. Cih! Sampai kapanpun Kyuhyun tak akan pernah sudi menyematkan nama Cho di depan namanya meski kenyataannya mereka memang telah menikah delapan tahun yang lalu.
Yeoja itu hanya merusak hidupnya. Merusak kebahagiaannya. Kyuhyun masih berusia tujuh belas tahun saat yeoja itu datang dan di kenalkan sebagai calon istrinya oleh sang Appa. Dia baru saja lulus Senior High School saat dia diharuskan menikahi yeoja dengan pandangan mata yang terus saja membuatnya muak itu.
Dia masih ingin hidup bebas, masih ingin menikmati masa mudanya dengan bersenang-senang dengan kekasihnya. Berkencan, hang out, berbuat nakal, mabuk, dan apapun itu yang normal di lakukan oleh namja seusianya saat itu.
Namun karena pernikahan itu, dia harus melepaskan semuanya. Dia harus serius kuliah dan bekerja memimpin sebuah perusahaan besar di saat yang bersamaan. Dan yang paling membuatnya membenci yeoja itu adalah… saat dia harus meninggalkan kekasihnya –Seohyun, yang kecewa saat mengetahui status Kyuhyun.
Jangan salahkan Kyuhyun. Namja itu tak pernah bisa menolah perintah otoriter Appanya. Salahkan saja Lee Sungmin, karena posisi yeoja itu lebih menguntungkan untuk menolak perjodohan mereka saat itu. Dan apa yang dilakukannya? Cih! Jangankan menolak, berusaha menghindar atau mengulur saja tidak. Bahkan saat Kyuhyun harus berlutut di depannya dan meminta yeoja itu untuk membatalkan perjodohan mereka. Yeoja itu menolak.
Meski pada akhirnya Kyuhyun tahu bahwa yeoja itu tak menolak karena itu adalah permintaan terakhir Appanya. Hal itu tak sedikitpun membuat kebencian Kyuhyun sekedar mengendur.
Kyuhyun benci! Teramat benci pada yeoja itu. Yeoja yang telah menghancurkan kata bahagia dalam kamus Kyuhyun.
Meski tak dapat dipungkiri bahwa Kyuhyun merasakan sebuah kebahagiaan yang begitu besar saat putri pertama mereka lahir. Saat pertama kali mendengar tangisnya, saat pertama kali melihat aegya merah itu, saat pertama kali kulit pucatnya menyentuh kulit tipis itu… Kyuhyun merasakan kebahagiaan yang teramat besar. Tapi tetap saja…
Pemikiran itu datang…
Seandainya bukan Sungmin yang melahirkan malaikat kecil ini, seandainya saja itu… Seohyun.
.
Kyuhyun pernah berpikir naif. Berpikir untuk mencoba mencintainya, mencintai Lee Sungmin yang sangat di bencinya. Karena bagaimanapun, bila dia mengesampingkan rasa benci itu dia akan melihat… seorang Lee Sungmin di depannya.
Sungmin bukan pilihan yang buruk, karena bagaimanapun juga dia seorang yang dipilih oleh Appanya, oleh seorang Cho. Dia cantik, manis, dengan wajah sempurna seorang yeoja, iris kelinci dan bibir plum pink yang menggoda. Dia juga seorang istri yang baik, memasak, membersihkan rumah, dan memperhatikan, memastikan kebutuhan Kyuhyun –suaminya– dengan sempurna.
Dia yeoja yang sempurna. Kalau saja dia datang dengan cara yang lebih sempurna.
Kyuhyun pernah memikirkan itu. Dia bahkan pernah memakai baju yang disiapkan Sungmin di pagi hari alih-alih menyuruh housekeeper untuk menggantinya dengan yang lain. Tapi pemikiran itu musnah dengan mudahnya. Semudah Kyuhyun membenci Sungmin di pertemuan awal mereka.
"Kyu," suara yeoja itu bergetar dan iris foxy itu telah mengeluarkan permatanya. "Aku benar-benar tidak pernah melakukan semua itu," gumamnya lirih.
Kyuhyun mendesis. Dia benar-benar benci pada yeoja ini, yeoja yang dengan mudahnya mengeluarkan air mata suci itu demi untuk menutupi kebohongannya. Licik.
"Aku semakin yakin bahwa dengan membawa Seohyun kerumah ini adalah keputusan tepat. Dia akan menjadi sosok Umma yang lebih baik dari pada kau," Kyuhyun berujar sinis tanpa memandang yeoja itu. Dia lebih memilih menatap gelas diam di atas meja dari pada yeoja itu.
"Andwae! Andwae Kyu… jebbal… jangan bawa yeoja itu kerumah ini."
Kyuhyun sedikit tersentak saat merasakan sesuatu menggelayuti kakinya. "Ya! Apa yang kau lakukan! Lepaskan kakiku!" bentak Kyuhyun, dengan menendang-nendang Sungmin, berusaha melepaskan kakinya dari dekapan lengan Sungmin.
"Jebbal… jangan bawa yeoja itu kesini. Akan kulakukan apapun, tapi jangan bawa dia kesini Kyu, Jebbal."
Kyuhyun mendesis dalam hati. Apa yeoja itu pikir dia akan terbujuk dengan ucapan itu? 'Melakukan apapun'… kenapa tidak mati saja dari dulu?. Desis hati Kyuhyun.
"Aku akan tetap membawanya tinggal di rumah ini, kalau kau tidak suka. Kau boleh pergi dari rumah ini," Kyuhyun menendang kasar tubuh yeoja itu hingga dia terjatuh kebelakang dan melepaskan kakinya.
Mengantisipasi, Kyuhyun melangkah mundur agar yeoja itu tak bisa menyentuhnya lagi.
"Kyu~"
"Kau boleh pergi! Tapi jangan pernah sekalipun mencoba untuk membawa Taemin ikut bersamamu. Dia putriku! Milikku!" seru Kyuhyun keras. Dan dia segera berbalik meninggalkan yeoja itu.
Dia baru sadar, bahwa dia masih memakai piama coklatnya dan belum mandi atau sekedar menggosok gigi. Dia benar-benar lupa karena mencemaskan Taemin.
Hubungannya dengan Taemin memang tengah memburuk akhir-akhir ini dan semua itu karena pengaruh yeoja itu. Taemin anak yang baik, sangat imut, lucu dan penurut. Dia selalu bisa membagi waktunya untuk Kyuhyun ataupun Sungmin. Karena dari dulu baik Kyuhyun dan Sungmin tak pernah bersama meski mereka tinggal serumah.
Tapi belakangan Taemin mulai jarang meminta Kyuhyun menemaninya bermain, dia tak pernah lagi menemui Kyuhyun di ruang kerjanya, tak pernah lagi mendatangi Kyuhyun saat akan tidur. Yeoja itu membuat Taemin membencinya perlahan. Bahkan sebulan terakhir Taemin tak pernah memandang Kyuhyun. Membuat dada Kyuhyun berdenyut sakit karena perlakuan putri kecil kesayangannya itu.
Kenyataan yang buruk ha! Tapi mimpi semalam benar-benar buruk. Jauh lebih buruk dari pada hari-hari belakangan yang tanpa sapaan renyah dari yeoja imutnya.
.
.
Dengung AC menjadi satu-satunya nada pengisi ruang mewah itu sementara Si penghuni masih duduk menopang dagunya dengan raut muram. Kyuhyun masih memikirkan mimpi mengerikan itu, mimpi yang membuatnya terus memikirkan yeoja kecil kesayangannya. Dia sudah berkali-kali menelepon Taemin meski hasilnya tetap saja sama, yeoja kecil itu tak menjawabnya. Membuat Kyuhyun dengan terpaksa menelepon driver pribadi Taemin.
Mimpi itu terus menyesakkan dadanya. Seakan ada penyesalan yang mencekiknya. Padahal, demi apapun Kyuhyun tak dapat mengingat mimpi itu sedikitpun. Setiap kali mencoba mengingatnya, hanya bayangan gelap yang perlahan menenggelamkan Taemin ke dalamnya.
Kyuhyun tak mampu mengingat mimpi apa itu, hanya rasa sesak dan penyesalan yang dalam yang hadir setiap kali dia berusaha mengingatnya.
"Sedang memikirkan apa Chagi?"
Sebuah kecupan lembut di pipi Kyuhyun menyentak namja itu. "Seo? Ah… aniya, aku hanya memikirkan Taemin," jawab Kyuhyun sembari mengarahkan yeoja itu untuk duduk di pangkuannya.
"Dia masih bersikap buruk padamu, eoh? Sudah kubilangkan, jauhkan dia dari Ummanya. Kalau mereka dekat, mereka akan semakin mirip. Bukan hanya fisik, tapi juga sikap dan mentalnya. Kau mau punya anak dengan sikap tak tahu diri seperti istrimu, eoh?" yeoja itu berkata lembut dengan mengusap-usap dagu tirus Kyuhyun.
Sementara Kyuhyun mengangguk-angguk mendengar saran yang telah dia dengar berulang kali ini. Masalahnya, Sungmin-lah yang terus berada di rumah bersama Taemin. Kalau saja dia bisa, dia pasti lebih memilih membawa Taemin bersamanya ke kantor.
Untuk itu dia membutuhkan seseorang yang bisa menjadi contoh yang lebih baik bagi putrinya di rumah. Dan Seohyun adalah satu-satunya kandidat yang paling tepat. Seohyun jelas memiliki sikap dan mental anggun dan elegant. Sikap yang mengagumkan dan mental yang membanggakan.
"Kau sudah bersiap untuk tinggal di rumahku?"
Seohyun membulatkan matanya. "Aku jadi tinggal disana? Apa yeoja itu mengijinkannya? Aku tak mau tinggal dengan yeoja yang tak menerimaku," ujarnya dengan menggembungkan pipinya.
"Aniya. Aku sudah menyuruh Sungmin pergi kalau dia tak suka."
"Jinjayo? Ah, aku jadi merasa tak enak pada Sungmin-ssi," Seohyun kembali menggembungkan pipinya. Membuat Kyuhyun tertawa dan mencubit pipi itu.
"Jangan merasa seperti itu, itu rumahku dan apapun milikku adalah milikmu. Lagi pula, Taemin membutuhkanmu, kau harus membimbingnya agar bisa jadi yeoja sepertimu, arra?" ujar Kyuhyun lembut sembari mencubit ujung hidung yeoja dalam pangkuannya.
Seohyun mengerucutkan bibirnya sesaat, menatap Kyuhyun dengan menggoda, kemudian tersenyum dan mengangguk manis. "Arraseo, yeobo."
Kyuhyun terkikik mendengar panggilan itu. "Sudah tak sabar kunikahi, eoh? Bersabarlah, aku sudah tak peduli bila Appa mengutukiku, aku akan menceraikannya sebentar lagi. Untuk itu, bersabarlah sebentar lagi," pinta Kyuhyun lembut dengan mengecup kening Seohyun penuh kasih.
Yeoja itulah sebagian kebahagiaannya dan yang sebagian lagi ada pada Taemin. Untuk itu dia ingin menggabungkan keduanya, menjadi sebuah kebahagiaan utuh untuk hidupnya. Tak peduli pada yang lain, tak peduli anggapan orang lain. Dia sudah cukup menderita, dia sudah cukup terluka selama delapan tahun menikahi yeoja bernama Lee Sungmin itu.
.
.
"Taemin…," panggil Kyuhyun, namja itu menaiki tangga sembari melonggarkan dasinya menggunakan tangan kiri sementara tangan kanannya menjinjing sebuah tas plastik berwarna putih.
"Minnie chagiya~ Appa pulang Chagi dan Appa membawakan sesuatu untukmu," panggil Kyuhyun lagi, kali ini dengan mengetuk sebuah pintu bercorak biru langit yang cerah. Karena tak ada jawaban, Kyuhyun mencoba meraih kenop pintu dan mengintip sedikit.
Kamar itu terlihat kosong. Kyuhyun mencoba memasukkinya dan… ternyata memang kosong. Kyuhyun menghela napas gusar. Dia kesal setiap kali mendapati kenyataan bahwa Taemin tengah berada di kamar Sungmin. Ya. Di kamar Sungmin karena sekali pun, dia dan yeoja itu tak pernah sekamar.
Ah! Hanya sekali… delapan tahun yang lalu, dimalam pertamanya… di saat dia mabuk berat.
'Brak!'
Kyuhyun menendang sesuatu saat dia hendak melangkah keluar. Dia memandang kebawah dan terkejut saat mendapati tong sampah dengan isinya yang telah menghambur kemana-mana. Tidak akan jadi masalah, tidak akan membuatnya kesal, tidak akan membuatnya kecewa kalau saja isi dari tempat sampah itu bukan barang-barang pemberiannya untuk Taemin. Oleh-oleh yang selalu Kyuhyun sempatkan untuk membelinya setiap sepulang kerja.
Kalau saja.
Dengan emosi yang meluap Kyuhyun berjalan cepat kearah kamar Sungmin yang berada di lantai bawah, dia menuruni tangga dua-dua dan melompati tiga pijakan terakhir. Dia kesal, dia kecewa, dia marah! Memang terlihat sederhana, tapi membelikan barang-barang itu setelah kerja bukanlah hal mudah. Kyuhyun harus benar-benar menahan rasa lelahnya atau godaan kasur yang menunggunya di rumah untuk membelinya. Demi putri kecilnya.
"Aaahahaha… Umma! Umma hentikan! Umma geli!" tawa ceria itu menghentikan langkah Kyuhyun yang hampir mencapai ambang pintu.
Lama sekali. Sungguh rasanya sudah sangat lama dia tak mendengar tawa renyah itu. Dia merindukannya… merindukan tawa putrinya itu.
"Itu hukuman karena kau tak mau mengatakan alasannya pada Umma," kali ini suara Sungmin. Terdengar kesal yang di buat-buat. "Sekarang kau mau mengatakan kenapa kau bersikap buruk seperti itu pada Appa? Atau Umma gelitikki sampai pagi? " kali ini nada yeoja itu terdengar serius.
Kyuhyun berjalan mengendap untuk semakin mendekat dan dia bisa melihat melalui celah pintu yang tak tertutup itu. Putrinya tengah menunduk dalam. Ada apa ini? Apa yang tengah mereka bicarakan?
"Minnie… kenapa kau bersikap seperti itu pada Appa?" suara Sungmin lebih mendesak sekarang.
"Minnie benci Appa," lirih. Sangat lirih yeoja kecil itu bicara, tapi telah mampu membuat jutaan jarum menancap tepat di ulu hati Kyuhyun. Putrinya, putri yang sangat di sayanginya… Membencinya?
"Kenapa?" pertanyaan Sungmin sama persis dengan pertanyaan di hati Kyuhyun. "Kau tidak boleh seperti itu Minnie, dia Appamu dan Appa sangat menyanyagimu."
Sekali ini, Kyuhyun membenarkan ucapan Sungmin. Dia sangat menyanyangi Putrinya.
"Minnie sudah besar Umma. Minnie tahu… Appa… benci Umma—"
"Minnie!" Sungmin terpekik.
"Minnie tahu dan semua teman-teman Minnie juga tahu. Appa tidak menggandeng Umma saat penerimaan raport, Appa tidak datang dan pulang bersama Umma tapi bersama Ahjumma itu." Sungmin membekap mulutnya sendiri dan terisak, sementara yeoja kecil itu telah membanjiri pipinya dengan air mata. "Teman-teman mengejek Minnie. Dan dirumah, Minnie malah mendapatkan yang lebih buruk… Appa memperlakukan Umma dengan buruk. Appa bilang Appa tidak mencintai Umma, Appa bilang Umma bukan istrinya, Appa bilang—"
"Cukup Minnie, cukup. Kau tidak boleh mengatakan itu, andwae chagiya… andwae," dengan terisak, Sungmin mendekap tubuh kecil yeoja di depannya.
"Appa bukan Appa Minnie! Namja yang tidak mencintai Umma bukan Appa Minnie. Dia tidak mengakui Umma berarti tidak mengakui Minnie. Minnie benci Ap—"
"Hajima!" pekik Sungmin dengan membekap mulut Taemin. "Andwae! Dia Appamu, Minnie dia appamu!"
Kyuhyun tak tahan! Dia segera bertolak dari tempat itu, melangkah cepat dengan mengusap sesuatu yang mengganggu di pipinya. Dadanya terasa terkoyak. Perih, sakit dan kecewa.
Lee Sungmin! Semuanya karena Lee Sungmin! Yeoja itu membuat dia tampak buruk di hadapan putrinya sendiri. Yeoja itu membuatnya terlihat seperti manusia tak berperasaan di hadapan darah dagingnya sendiri.
Lee Sungmin. Dia benar-benar benci yeoja itu!
Kyuhyun meraih ponselnya, dengan cepat dia menekan speeddial nomor satu dan menempelkan benda kotak itu di pipinya.
"Seohyun, kau sudah bersiap-siap? Kau pindah kerumah ini besok pagi-pagi sekali."
.
.
Pagi yang cerah, setidaknya begitu menurut Kyuhyun. Dia telah menjadwalkan untuk bangun pagi-pagi sekali hari ini. Namja itu tersenyum, dengan menikmati sajian suasana pagi yang lenggang jalanan kota Seoul dari balik kaca jendela mobilnya.
Dia senang pagi ini, karena sebuah perubahan baru akan di mulai hari ini. Dan dia bersumpah akan mengingatnya, pagi di tanggal satu Juli tahun ini sebagai tanggal bersejarah. Tanggal dimana dia membawa Seohyun yang kini duduk manis dengan menebar senyum untuk tinggal di Cho manor.
Dia yakin. Yeoja itu akan mengajarkan dan menjadi contoh yang terbaik bagi putrinya. Mengajarkan hidup sebagai seorang putri yang sesungguhnya. Seorang princess, karena kenyataannya Taemin memang seorang Princess di kerajaan Cho.
Kyuhyun mengendarai mobilnya memasuki halaman Cho manor yang begitu luas dan menampakan bangunan utama bertingkat tiga yang begitu kental dengan gaya Eropa Klasik, Victorian.
"Sekian tahun menjadi kekasihmu, baru kali ini aku melihat langsung tempat dimana seorang Cho Kyuhyun tumbuh besar," ujar Seohyun pelan.
"Mianhe, aku tak mungkin membawamu kesini saat Appa tinggal disini," ujar Kyuhyun sembari membuka seatbeltnya.
"Jadi kalau Appamu tidak pindah ke New York, aku tidak akan ada disini saat ini?"
"Aniyo, aku akan tetap membawamu kesini, untuk Taemin," balas Kyuhyun, kemudian namja itu keluar dari mobilnya setelah seorang guardnya membukakan pintu. "Bawa masuk semua kopernya, taruh di kamar tepat di samping kamarku," perintah Kyuhyun pada guardnya itu.
Sang guard mengangguk sementara Kyuhyun berjalan cepat memutari moncong mobilnya dan meraih tangan Seohyun yang juga telah keluar dari mobil.
"Dan kau," Kyuhyun menunjuk guardnya yang lain yang telah membukakan pintu untuk Seohyun. "Bawa semua penghuni rumah ke Hall center lantai dasar."
"Arraseo Sajangnim," ujar guard itu patuh.
"Mari Chagiya, kuperkenalkan pada seluruh penghuni rumah." Kyuhyun dengan meraih tangan Seohyun lembut. "Mungkin kita perlu berkeliling dulu sebelum semua orang berkumpul."
Kyuhyun membawa yeoja itu berjalan melalui pintu utama, masuk lurus hingga menemui ruang tamu bundar yang luas. Namja itu terus menggandeng tangan yeoja itu, tersenyum dikulum saat melihat tatapan takjub dari mata si yeoja. Terus membimbing yeoja itu masuk, menyusuri lorong-lorong megah Cho manor, hingga akhirnya tiba di kebun belakang.
"Omo~ Daebak~" seruan pertama muncul saat yeoja itu menatap kebun mawar milik Umma Kyuhyun.
"Itu punya Umma, umma sangat menyukai mawar dan selalu merawat kebun itu dengan tangannya sendiri dan tak mengijinkan siapapun untuk menyentuhnya. Tapi, mungkin sekarang Yardman yang merewatnya, entahlah, aku tak terlalu memperhatikannya." Ujar Kyuhyun.
Sebenarnya, Kyuhyun tak pernah memperhatikan rumahnya, bukan hanya kebun itu saja. Memang apa yang bisa Kyuhyun lakukan? Dia punya tiga yardman, lima housekeeper, seorang chef, tiga driver, dan entah berapa banyak guard juga securitynya. Merekalah yang bertugas memperhatikan manor ini, memperhatikan kebersihan, keamanan hingga memperhatikan perut penghuninya.
"Oppa…, boleh aku memetiknya satu?"
"Petiklah seberapapun kau inginkan, chagiya."
.
Perjalanan mereka berujung pada sebuah pintu ganda besar yang merupakan pemisah antara lorong dengan sebuah Hall pribadi milik keluarga Cho. Kyuhyun membukanya perlahan dan suara terbukanya pintu tampan menarik perhatian sekitar dua puluh orang yang telah berkumpul di sana. Semuanya berdiri kecuali dua yeoja yang terduduk di sebuah sofa besar dengan saling berangkulan.
Sedikit rasa tak suka muncul di dada Kyuhyun saat menatap lengan kecil yang melingkar di pinggang Sungmin. Ada tatapan melindungi namun juga membutuhkan di matanya, mata angel kecilnya.
"Minnie, berdirilah… sambut pendatang baru di rumah ini—"
"Kyu!"
"—dengan baik karena…" Kyuhyun memutar matanya, menatap satu-persatu mata terkejut itu. Dan dia, sengaja tak memperdulikan mata kelinci itu, pemilik bibir yang sempat menyalangkan protes itu, "…dia akan menjadi Ummamu, nanti."
"Kyu! Kau tak bisa melakukan itu!"seru bibir pouty itu dengan suara dan tubuh bergetar.
"Aku sudah memberimu pilihan, Lee Sungmin."
"Kyu kau—" yeoja itu kehilangan kata-katanya. Tampak tercekat di tenggorokan sementara air mata membanjir di pipinya. Pemandangan membosankan bagi Kyuhyun.
Yeoja itu menyamping, menatap tubuh Taemin yang tampak ketakutan. "Minnie… mianheUmmaUmma tak sanggup lagi Chagi," ujarnya dengan menahan isak tangis yang semakin keras.
Tak dapat di pungkiri, Kyuhyun sedikit terkejut dengan keputusan yeoja itu. Dia pikir, Sungmin akan keukeuh di manor besar ini karena setahunya, yeoja itu tak memiliki keluarga lagi. Ummanya meninggal sejak dia kecil dan Appanya juga telah meninggal beberapa bulan setelah pernikahan mereka.
Kyuhyun sediri tak tahu apakan dia punya teman atau saudara lain. Tapi… CUKUP! Seharusnya Kyuhyun tak perlu memikirkan kemana yeoja itu akan pergi. Bukankah itu bagus? Yeoja pengganggu itu pergi, dia bahkan tak mencoba bertahan lebih lama walau demi putrinya… Seeyeoja tak menyanyangi Taemin seperti dia menyanyangi putri mereka.
"MINNIE IKUT! MINNIE IKUT UMMA, MINNIE IKUT!" seruan keras mengembalikan Kyuhyun ketempat tubuhnya berdiri sekarang.
Kini, dilihatnya seorang yeoja bermata kelinci yang mencoba meyakinkan angel kecilnya untuk melepaskan tangannya.
"ANDWAE! ANDWAE UMMA, JANGAN TINGGALKAN MINNIE! MINNIE KUT UMMA!"
"Minnie, kau harus disini… temani Appamu arra?" Sungmin memberi pengertian, dengan air mata yang menganak sungai, yeoja mencoba melepaskan genggaman tangan kecil itu.
"Aniyo! Minnie benci Appa, Minnie tak punya Appa!"
"TAEMIN!" bentakan keras Kyuhyun menggemma di seluruh Cho Manor. "Security! Tahan dia, biarkan Sungmin pergi!"
Seluruh pekerja di Cho manor saling berpandangan sebelum dua diantara mereka maju dengan ragu dan menahan kedua lengan Taemin. Membiarkan Sungmin berbalik dan berjalan menjauh.
"UMMA! UMMA MINNIE IKUT! Park jussi, Jung jussi, lepaskan Minnie… jebbal… lepaskan Minnie, Minnie mau ikut Umma!" dia memberontak, mencoba lepas dari cengkraman lengan-lengan kekar itu, sementara sosok Ummanya semakin jauh dan semakin jauh dalam lorong megah Cho manor.
Kyuhyun geram. Namja itu berjalan cepat kearah Taemin yang menangis meraung dalam tahanan empat lengan kekar yang memenjarakannya. Matanya telah berbanjir luka menatap sosok Umma yang telah menghilang di ujung koridor.
"Cho TAEMIN! Dengarkan Appa. Ini adalah hal yang terbaik untukmu, bersama Seohyun kau akan menjadi kebanggaan Appa."
"Kau!" mata hitam yeoja kecil itu memandang sengit kearah Kyuhyun, sempat menggetarkan kyuhyun dalam ketakutan tanpa ujung. Kebencian telah menyelimuti iris cantiknya, membuat dada Kyuhyun berdenyut sakit. Dia tak terima, dia tak suka dengan pandangan itu. "Namja jahat yang menyakiti Umma! Kenapa kau selalu menyakiti Umma? Kenapa kau selalu membuat Umma menangis! Jahat! Jahat!"
"CHO TAEMIN! Seperti itu Ummamu mengajarkanmu ha? Menjadi seorang yeoja bar-bar dan bertindak tidak sopan di depan Appamu sendiri?"
"KAU BUKAN APPAKU!"
"CHO TAEMIN! BAWA DIA MASUK KEKAMARNYA DAN JANGAN ADA YANG BERANI MENEMUINYA KECUALI UNTUK MEMBERINYA MAKAN!" Cho Kyuhyun kalap! Dia berteriak kencang dengan menatap marah kearah apapun yang bisa di jangkau iris coklatnya. "CEPAT!"
"Lepaskan Minnie… Ahjussi lepaskan Minnie… Minnie mohon…" yeoja kecil itu meratap. "Lepaskan Minnie. Di rumah ini tak ada yang sayang Minnie, Park ahjussi tak sayang Minnie, Jung Ahjussi tak sayang Minnie, Shim Ahjussi, Shim Ahjumma, kalian semua tak sayang Minnie," ratap yeoja itu, tubuhnya telah lemas dalam seretan dua namja kekar di kanan kirinya.
Detik berikutnya. Kedua namja berbadan besar itu menghentikan langkahnya. Kemudian berlutut, mensejajarkan tingginya dengan yeoja kecil itu.
"Itu tidak benar Chagi, kami sayang Minnie—," suara seraknya seakan menggambarkan kepedihan hatinya. Berbadan kekar, namun berhati lumpuh untuk menghadapi yeoja kecil dalam cengkramannya.
"Tapi—"
"Pergilah Chagi, susul Ummamu."
Kyuhyun terbeliak mendengar ucapan dua guard di hadapannya dan makin membulat saat memandang langkah kecil itu berlari cepat meninggalkannya.
"Ya! Apa yang kalian lakukan! Kalian kupecat!" Kyuhyun berkata geram pada dua guard di depannya.
Secepat kilat dia berlari menyusul langkah angel kecilnya. Sial! Jaraknya dengan Taemin telah cukup jauh.
Dia berlari… tahu pasti bahwa tujuan yeoja kecilnya pasti kearah gerbang depan. Menyusuri lorong-lorong besar Cho manor dengan langkah dan napas terengah. Seharusnya tak sulit untuk menyusul langkah yeoja kecil itu kalau saja dia memiliki paru-paru sehat sesehat paru-paru angel kecilnya itu.
"TAEMIN!" teriaknya saat melihat yeoja kecil itu tengah berlari melintasi ruang tamu.
Dia masih mencoba mengejarnya… namun jelas, paru-paru 'sial'nya membuat kekuatan langkah kaki panjang itu berkurang sedikit demi sedikit.
"TAEMIN BERHENTI!" Kyuhyun kembali berteriak saat yeoja kecil itu melewati gerbang tinggi yang telah terbuka, kemungkinan Sungmin tidak menutupnya lagi tadi. Namun, yeoja kecil itu sama sekali tak berhenti bahkan untuk sekedar menoleh pun tidak.
Mereka terus berlari… saling mengejar. Dengan napas yang terengah, keringat yang mengalir dan saling meneriakkan panggilan pada mereka yang dikejar.
"UMMAAA~"
"TAEMIN BERHENTI!"
Kyuhyun masih berteriak, keduanya telah keluar dari area perumahan mewah itu dan mulai memasuki keramaian jalanan kota Seoul.
"UMMAAA!" Taemin kembali berteriak. Kyuhyun ingin kembali berteriak, namun dadanya telah terasa sesak kepalanya juga telah berputar pelan.
Dan namja itu sedikit bernapas lega karena Taemin telah menghentikan larinya, bukan karena akhirnya dia mendengarkan perintah Kyuhyun, tapi karena yeoja kelinci yang menjadi tujuannya telah terlihat mata. Yeoja kelinci yang sempat terkejut saat menatap Taemin, namun jauh lebih terkejut saat melihat keberadaan Kyuhyun.
Kyuhyun masih terengah dengan kaki yang terasa bergetar saat menatap adengan drama di depannya. Dimana Sungmin berlari cepat kearah Taemin dengan mata yang berlinang dan berteriak…
"KYUHYUN!"
Mwo?
Kyuhyun mengerjap bingung. Karena alih-alih memeluk Taemin, yeoja itu masih berlari… kearahnya, melewati Taemin yang juga menatap bingung. Apa maksudnya? Apa dia berpikir Kyuhyun disini untuk mencegahnya pergi ha?
"KYU!" sebuah pekikan keras… dan… dorongan yang begitu kuat hingga namja bertubuh kurus itu terdorong beberapa meter, terhuyung dan terjatuh di atas trotoar dengan mata yang terbelalak lebar menatap adegan live tepat di depannya.
Scene itu… tampak seperti sengaja di buat slow motion. Tampak sangat jelas… sangat detil… saat Sungmin dengan wajah penuh ketakutan mendorongnya sekuat tenaga… lalu tersenyum saat kyuhyun telah terhempas dan…
'BRUHG!'
Tubuh itu terpental…
Jauh….
Menyisakan sebuah mini truk di depannya dan pekikan melengking ngeri.
"UMMAAAA!"
_TBC_
HAPPY SEXY, FREE & SINGLE! I'M Ready to Binggo! *haha... itu lah yang Lhyn denger dari Tasernya, ga tau nanti lyric aslinya gimana* SEXY, FREE & SINGLE! I'M Ready to Binggo! Holla-holleoooo~ *abaikan teriakan gaje ini*
Ehem... dan...Happy Birtday Uri Leader... haha... saking EXCITEDnya ama 6jib Suju ampe lupa ama ultah Teukie Oppa... Happy B'day Oppa...muga makin muda... langgeng ama Appa Kangin... sukses selama Wamil... and wish averything the best for U Emmuach!
YUP! Lhyn comeback bersamaan dengan comebacknya Suju… setelah dimanjakan dengan teaser2 awosome selama sekian hari sejak tanggal 21 Juni, akhirnya… SUJU's Back! YEAH! Dan ini adalah Fic euphoria dari Lhyn. Agak aneh sih menggambarkan kesenangan dengan fic Sad gini… hihi….
Adakah yang berkenan Rifyu? Yang rifyu nanti Lhyn kasih cipok deh…. *dibakar*

Dinary Part Siwon

Dinary
One Shoot - berseries *?*
Choi Siwon Part
Genre : Romance , Drama.
Rate : Teen
Cast : Choi Siwon as Choi Siwon, Kim Kibum as Kim Kibum, etc.
Pairing : -Male– Siwon X –Female– Kibum
Warning : Genderswitch, abal, geje, aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain yang membuat fic ini jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : Super Junior milik SME, Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun. Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!

.
Saat ku sebut nama…
Choi Siwon.
Apa yang akan terlintas di kepalamu?
Tampan? Kaya? Pintar? Gentleman? SEMPURNA?
Ya. Aku tahu aku sempurna. Siapa yang tak mengenalku? Choi Siwon, pewaris kerajaan bisnis Choi Corporation yang menguasai pasar Asia, Eropa… Dunia! Choi Siwon yang tampan, Choi Siwon yang begitu memikat namun tetap Choi Siwon yang rendah hati. Aku menyadari semuanya, menyadari kelebihanku yang terlalu lebih bahkan saat usiaku masih empat tahun, semua orang menspesialkanku. Memujaku…
Karena aku, Choi Siwon yang sempurna.
Kecuali… satu orang.
Ah! Aku malu menceritakannya, 'Dia' benar-benar membuatku merasakan keraguan pada diriku sendiri saat itu. Membuatku bertanya-tanya tentang apa yang salah pada diriku, apa yang kurang pada diriku, apa yang cacat padaku, pada seorang Choi Siwon hingga dia sama sekali tak melihatku?
Melihat Choi Siwon yang sempurna sementara dia hanyalah gadis biasa.
'Dia' Cintaku, cinta pertamaku, meski sangat terlambat menyadarinya tapi ya! 'Dia'lah satu-satunya orang yang mampu menumbuhkan rasa 'aneh' itu dalam diriku.
Apa yang akan terlintas di kepalamu bila aku menyebutkan kata kunci 'gadis seorang Choi Siwon'
Cantik? Pintar? Tinggi dan Seksi? Dari keluarga Terhormat macam seorang Princess? Ah… kau lihat saja, bahkan seorang William mendapatkan seorang Kate yang cantik. Lalu aku.. ah, maksudku dia… seorang yang menarik perhatianku.. dia…
Sangat Biasa.
Tubuh kecil dengan rambut hitam lurus yang sering kali terkuncir kuda. Sungguh, dia sangat Standar untuk ukuran gadis Korea. Kulit putih, bibir plum, hidung mancung, mata… akh! Kecuali matanya… mata hitamnya itu….
.
Pertemuan pertama kami adalah saat tes penerimaan siswa baru di ELF Junior School. Dan sayangnya dia tak mengingatnya. Ugh! Menyebalkan sekali harus menjadi satu-satunya orang yang mengingat momen 'sederhana' itu.
.
Pagi itu, saat lorong-lorong koridor sekolah telah tenang dan sepi, aku melihatnya… seorang yeoja bertubuh kecil yang berlarian sambil membawa sebuah kotak pinsil di tangannya. Begitu biasa, begitu sederhana, dengan napas yang terengah dan mata hitam yang nyalang menjamah kesana-kemari hingga akhirnya…
'BRUGH!'
Kubiarkan dia menabrakku. Kau tahu alasannya?
Aku adalah anak pemilik sekolah ini, -well, aku tak mau sombong dengan hal itu- dan juga ketua komite disiplin sekolah! Dan apa-apaan dia? Seragam primary schoolnya terlalu standar, datang terlambat dan berlarian di koridor sekolah di hari tes? Mengganggu ketenangan!
Ck. Benar-benar konyol.
"Ugh… Mianhe Sunbae," dia berujar, lalu membungkuk dan seakan tanpa dosa dia berjalan melewatiku.
Apa-apaan dia? Setelah menabrakku, dia hendak pergi begitu saja? Hanya meminta maaf? Ck. Apa dia tidak tahu siapa aku? Aku Choi Siwon! Dan mana pandangan takjub yang selalu ku dapatkan dari setiap orang yang menatapku?
"Ya! Siapa namamu?" bentakku.
"Kim Kibum, Sunbae. Aku peserta nomor 10B320, apa Sunbae tau dimana ruang tesku?" tanyanya dengan wajah innocent dan senyum tipis yang segera saja…
Oh, Tuhan! Apa yang terjadi pada Choi Siwon? Kenapa aku mendadak kaku begini? Dan apa-apaan dia.. sunbae-sunbae! Semua yeoja akan dengan bangga memanggilku Siwon Oppa seakan-akan mereka benar-benar mengenalku!
Tapi dia, demi keriput Teukie hyung yang terus bertambah! Kenapa dia begitu biasa menghadapiku? Seakan aku hanya namja biasa yang bisa ditemuinya kapan saja dimana saja. Dan justru… justru matanya… mata hitam sehitam malam itu… mata yang bergerak gelisan itu seakan menyedotku, menyedot seluruh duniaku dalam kungkungan hitam dingin di dalam sana. Hingga tanpa sadar aku justru menjawab pertanyaannya dengan patuh..
"Lantai dua, belok kiri, tepat di samping ruang kesehatan."
.
Aku tahu aku tak perlu menyesali kebodohanku yang tak menghukumnya hari itu. Karena sore harinya, aku –yang sepertinya telah kerasukan sebuah roh aneh– mencari-cari lembar jawaban atas nama Kim Kibum dengan nomor peserta 10B320. Aku tak tahu debar apa yang membuatku begitu berharap yeoja bermata hitam itu mampu melewati tes standar ELF Internasional School yang terkenal mencekik dan membuat botak itu.
Tentu saja, seluruh tim panitia terkejut melihat kedatanganku. Namun dengan dalih ingin mengawasi pekerjaan mereka, merekapun tak ambil pusing dengan keberadaanku di sana. Dan tak sia-sia aku melewatkan jadwal les pianoku sore itu saat aku menemukan lembar jawabannya yang telah melalui proses penilaian dari juri dan komputer. Tanpa sadar, aku tersenyum melihat nilai yang dia peroleh. Sempurna. Tanpa cacat sedikitpun.
Pesona apa yang dia miliki? Selain mata hitamnya yang seakan menyedot duniaku, menundukkanku dan senyumnya.. senyum dingin yang membuatku merasa beku.
Sungguh! Selain itu, dia benar-benar biasa.
.
Minggu-minggu pertama aku merasa 'Oke! Tak apa dia tak mengenalku, mungkin selama ini dia tinggal di hutan hingga tak tahu siapa aku'. Tapi sial! Bahkan hingga di tahun keduanya dia masih tak mengenalku! Oke. Dia mengenalku, dibeberapa kesempatan seperti rapat Osis, perlombaan Sains, penyerahan penghargaan dan sebagainya, dia memanggilku 'Siwon-ssi Sunbae' yang benar-benar terdengar aneh di telingaku.
Oh, Tuhan! Tak tahukan dia bahwa selama ini aku mengawasinya, mengamati gerak-geriknya? GOOD! Aku tahu dia memang yeoja pendiam, dia sama sekali tak mencolok kecuali otaknya yang benar-benar Outstanding, selebihnya… dia sangat biasa.
Dan entah kegilaan apa yang kuhadapi hingga aku terus memperhatikannya dari jauh alih-alih menanggapi yeoja 'menarik' macam Victoria, Jessica, Yoona dan yeoja-yeoja lain yang sangat menonjol dengan kecantikan mereka dan bakat-bakat mereka di berbagai bidang seperti Musik, Chearleader, dan yang lainnya. Yeoja-yeoja yang akan dengan senang hati memanggilku 'Oppa' dan memberikan tatapan memuja kapanpun iris itu menatap sosokku.
SIAL! Kim Kibum, dia benar-benar kurang ajar!
Hingga di tahun ketigaku –tahun kedua baginya– dia masih belum juga menunjukkan tanda bahwa dia mengenalku. Bersumpah demi mulut besar Kangin hyung! Aku bahkan jadi lebih sering menghabiskan waktu untuk duduk di perpustakaan, di hadapannya, atau di sampingnya, YA! Tepat di sampingnya dan dia… Holly Shit! Dia tak berpaling dari buku –sial– apapun yang tengah dibacanya.
Hingga akhirnya aku terpaksa lulus! –Terpaksa, karena aku sempat mengajukan diri pada Appa untuk tidak meluluskanku, setidaknya aku bisa satu kelas dengannya kalau tidak lulus–. Tapi, tidak benar-benar juga lulus sebenarnya, karena aku tetap sekolah di ELF International School namun di Senior High Schoolnya. Dan sialnya –kenapa dulu Appa membuatnya begini sih– gedung Junior High School dan Senior High School itu terpisah!
.
Aku mencoba mengabaikannya. Ya, lagi pula siapa yang mau terus-terusan mengamati yeoja standar-luar-biasa-standar seperti Kim Kibum?
Disemester pertama aku merasa ini sangat mudah. Kesibukan awal Senior School membuatku benar-benar berhenti melakukan hal konyol semacam mengamatinya, menjadi stalkernya. Namun disemester kedua, aku mulai merindukan aktifitas konyol yang tak seorangpun tahu itu. Tapi tentu saja, sebagai seorang Choi Siwon, aku menahan rasa itu, aku tak mau menyerah dengan hal-hal tak masuk akal macam itu.
Lagi pula, SIAPA KIM KIBUM ITU?
Dia hanya putri tunggal seorang kepala bagian di sektor C kepolisian Seoul! Dia hanya yeoja pendiam yang tak punya banyak teman! Dia hanya yeoja aneh yang selalu menyisihkan mentimun dari kotak makan siangnya! Dia hanya… hanya yeoja biasa yang mampu membuatku merasa BIASA.
Dan akhirnya, di tengah semester kedua aku berpacaran dengan seorang yeoja cantik dengan suara indah yang menjadi ketua Klub Vocal, Tiffany. Ya. Tiffany akhirnya menjadi pacar pertama dan terakhirku!
Aku tak tahu apa yang merasukiku saat itu. Aku benar-benar gila hanya demi menahan keinginan untuk menginjakkan kaki di gedung Junior School yang secara tidak langsung adalah milikku pribadi hanya untuk melihat sosok yeoja kecil bermata hitam malam itu. Oke! Aku akui hubunganku dengan Tiffany terbilang cukup lama meski sama sekali tak ada perkembangan berarti karena bahkan sampai setahun kami pacaran aku masih enggan untuk menciumnya.
Hingga di tahun keduaku –yang otomatis aku dan Kim Kibum kembali satu gedung sekolah– aku benar-benar merasakan apa itu yang di sebut 'BIASA' Oh, Tuhan! Dia bahkan masih memanggilku 'Siwon-ssi Sunbae' saat dia duduk di ruang kepala sekolah bersamaku di sana. Dia hendak mengurus beberapa hal untuk mendapatkan hak beasiswanya sementara aku mewaliki Appaku untuk memberikan beasiswa itu. Oh, perlu kuberitahu, kepala sekolah ini bukan Appaku, jelas sekali Appa akan lebih memilih mengurus bisnisnya yang entah di belahan dunia mana dari pada mengurus ELF International School.
Oke! Cukup tentang Appaku, kini kembali pada diriku yang duduk dengan tangan berkeringat di sampingnya. SIAL! Dia benar benar SIAL! Lihat wajah tenangnya, lihat mata hitam 'yang mampu menarik duniaku' itu yang hanya menatap datar pada sebuah lukisan di belakang kursi kepala sekolah. Kami sedang menunggu Si kepala sekolah –sialan– yang beberapa menit lalu keluar dengan alasan mengambil berkas di bagian management keuangan.
Sial sekali kepala sekolah itu meninggalkanku di sini berdua dengannya. Dan lebih sial lagi saat yeoja berkuncir kuda itu justru diam tak berbicara!
Oh, ayolah! Kim Kibum, saat ini kau tengah duduk berdua dengan Choi Siwon yang di kagumi semua orang dan kau justru memilih menatapi lukisan kuda itu? Aku bersumpah akan membakar lukisan kuda sial itu nanti –dan itu benar-benar ku lakukan–.
Oke! Tenangkan dirimu Siwon! Kau itu seorang Choi! HEI KIM KIBUM! AKU INI SEORANG CHOI! Berani sekali kau mendiamkanku sementara seluruh orang di dunia justru begitu ingin mencari perhatianku!
Aku frustasi di atas tempat dudukku, menatap yeoja pemilik mata hitam 'penyedot dunia' yang terus mengabaikanku. Apa yang harus ku lakukan? Memulai pembicaraan… apa kau gila? Aku ini Choi Siwon dan kau menyuruhku memulai pembicaraan?
Aku harus berbicara dengannya, menanyakan tentang kewarasannya mungkin, hei! Ayolah, dia tak mungkin waras kalau dia tahu siapa aku dan tetap mengacuhkanku. Atau.. atau.. akh! Mungkin sebaiknya aku mulai bicara.
"Ummm…" aku mencoba mengeluarkan suara dengan kaku, "Berapa nilai ujian akhirmu!" GREAT! Hebat sekali Choi Siwon yang terhormat, menanyakan nilai ujian akhir untuk mengawali pembicaraan? Benar-benar topik yang tolol!
Namun parahnya, si yeoja dengan mata hitam 'penyedot dunia' itu bukannya menjawab pertanyaanku malah mengambil sebuah kertas dari atas meja dan menyerahkannya padaku dengan sebuah senyum tipis.
GOOD! Tubuhku mati rasa. Jantungku bergolak hebat saat iris hitam itu seakan menyedot napasku begitu kuat. Lalu, saat iris hitam itu kembali bersarang pada lukisan kuda –yang tak lama lagi akan kubakar– barulah aku tersadar dari sihir entah apa yang dimiliki matanya dan mengangguk-angguk saat menatapi nilai sempurna yang tercetak untuk semua mata pelajaran…
MWO?
SEMPURNA? UNTUK SEMUA MATA PELAJARAN?
"Kau benar-benar jenius!" ujarku tanpa sadar. Kuakui, aku bukan pembuka topik yang baik. Salahkan semua orang yang selalu berusaha mencari perhatianku dengan selalu membuka topik lebih dulu.
"Gomawo Siwon-ssi sunbae."
Kurasakan rahangku menjadi kaku, dan suara gemlutuk samar terdengar diantara gigi-gigiku. Rasanya ingin sekali ku lumat kasar bibir itu saat menyebut namaku dengan aneh seperti itu. Tidak bisakan dia memangilku dengan sebukan 'Siwon oppa' seperti yang di lakukan yeoja-yeoja pencari perhatian lainnya?
.
Dan entah harus berapa kali kukatakan aku gila karena 'dia'. Setelah berusaha mati-matian untuk tidak mempedulikannya, sama seperti dia yang tidak mempedulikanku. Setelah mencoba menjalin 'hubungan' dengan yeoja lain selama enam belas bulan, dan semuanya sia-sia saat aku mendengar dia berpacaran dengan teman sekelasnya yang bernama Lee Donghae!
CIH! Siapa namja yang berani mencari mati denganku?
Aku langsung memutuskan hubunganku dengan Tiffany saat itu juga dan aku membuat sebuah kebijakan yang tercetus begitu saja dari otak panasku macam "Tidak boleh berpacaran di Sekolah! Yang melanggar akan langsung dikeluarkan dari ELF International School!" tapi tentu saja kebijakan itu segera kucabut, tiga bulan kemudian –itu ada alasannya–.
Sungguh! Ingin sekali kupatahkan namja Ikan itu!
Dan itu benar-benar gila! Aku ini CHOI SIWON! Bisa saja aku mencari-cari alasan untuk bisa menghancurkan hidup si Lee Donghae itu! Tapi jelas, cara kotor bukan diriku. Aku bahkan tak tahu kenapa aku begitu marah dan benci pada namja itu!
Memang apa salahnya berpacaran dengan Kim Kibum? Toh, Kim Kibum itu Yeoja –yang berarti Lee Donghae Normal– dan dia BUKAN pacarku!
Saat itu aku mencoba meredakan emosi 'tanpa sebabku' dengan berbagai cara. Tentu saja yang positif seperti lebih sering membaca kitab di gereja, atau belajar untuk menghadapi ujian kelulusanku.
Dan aku tak tahu, apa yang membuatku begitu fokus di tengah perjuanganku. Entah kemampuanku yang begitu handal dalam memfokuskan diri atau… berita tentang putusnya Kim Kibum dengan Lee Donghae yang kudengar tiga bulan kemudian?
Kali ini bukan sekedar berita, aku mendengarnya sendiri dari bibir kissable Kim Kibum. Siang itu aku memutuskan untuk menikmati makan siangku di atap. Dan beruntungnya, aku menemukan Kim Kibum di sana. Dia berdiri sendiri dengan tatapan sendu memandang kearah lapangan bola. Tanpa sadar aku mengikuti arah pandangnya dan disana aku menemukan namja itu, Lee Donghae tengah bersama yeoja yang –kalau tidak salah– bernama Lee Hyuk Jae.
"Bukankah itu pacarmu?" tanyaku tanpa sadar. Kenapa namja itu justru terlihat 'intim' dengan yeoja lain? Mungkinkah dia menduakan Kim Kibum? Benar-benar cari mati kalau begitu. Atau, Kim Kibum hanya pacar gelap yang… Akh! Mulai tergambar berbagai fantasi dalam benakku melihat pemandangan itu. Namun jawaban darinya dengan pasti memutuskan semua fantasi itu.
"Tidak lagi," jawabnya singkat. Teramat singkat untuk ukuran manusia normal yang tahu bahwa aku ini adalah Choi Siwon.
Ayolah! Kalau yeoja lain pasti akan menatapku sendu hingga menangis meraung-raung dengan memelukku dan mengumpat penuh kutukan tentang keburukan namja-namja yang membuat mereka mendapat kesempatan emas untuk memeluk seorang Choi Siwon!
"Kenapa?" Tanyaku penasaran.
"Kupikir, itu bukun urusan anda, Siwon-ssi sunbae."
Untuk kesekian kalinya, aku ingin sekali berteriak 'OI! KIM KIBUM! AKU INI CHOI SIWON! JADI BERHENTILAH MEMPERLAKUKANKU DENGAN BIASA!' namun pada akhirnya teriakan itu hanya kutelan lagi saat iris hitam penuh kesedihan itu kembali menenggelamkan duniaku. Menyedot napasku hingga dadaku terasa begitu sesak, begitu sakit, dan jantungku berdebar begitu kuat seakan saat itu adalah saat-saat terakhir organ tubuh itu berdetak.
SIAL! Perasaan apa ini sebenarnya! Apa dia punya sihir?
.
Lalu soal Lee Donghae dan Lee Hyuk Jae yang berpacaran di sekolah, mereka bebas dari hukuman karena aku segera mancabut kebijakan 'aneh' itu. Ayolah… biarkan saja mereka berpacaran sepuasnya asalkan Kim Kibum tetap menjadi Kim Kibum. Hanya Kim Kibum.
.
.
Aku benar-benar ingin lepas dari sihirnya yang begitu menakutkan. Aku benar-benar tak ingin lagi merasakan rasanya tercekik dengan napas yang tersedot dan dada yang bergemuruh hebat seperti di atap saat itu, lagi.
Dan terpujilah, Appaku yang mengirimku ke London untuk kuliahku, dan terpujilah tugas-tugas kuliah yang tak pernah menjeda dari awal hingga akhir, dan kembali terpujilah Appa yang menyuruhku untuk bergabung di salah satu perusahaannya di London.
Aku benar-benar terlepas dari sihir hitam seorang Kim Kibum.
Ternyata sangat mudah untuk lepas dari pengaruh gelap mata hitam 'yang menyedot dunia' itu. Aku cukup menyibukkan diriku dari pagi hingga malam, kelelahan di malam hari lalu tertidur. Sangat mudah! Dan empat tahun menjalani kehidupan seperti itu membuatku tumbuh menjadi eksekutif muda berbakat! The Young Businessman handal yang menjejalkan wajah di berbagai majalah-majalah bisnis inspiratif di berbagai Negara.
.
Namun sial! Sial! Sial! Benar-benar sial sepupuku si Teuki hyung yang penuh keriput itu! Saat kembali ke Korea, di hari ke tujuh aku berada di Korea, dengan santainya Teuki hyung membawaku masuk dalam mata hitam 'yang menyedot dunia' itu lagi…
"…dia Kim Kibum, Desainer muda yang kuceritakan waktu itu. Eh, dia ini hobaemu saat di ELF lho."
Dan lebih sial lagi…
"Annyyeongseong, Choi Siwon Imnida," obsesiku untuk bisa membuatnya tahu bahwa aku adalah seorang Choi Siwon meledak saat itu juga.
"Kim Kibum imnida. Ne, aku mengenalmu Siwon-ssi sunbae."
Aku mengertakkan gigiku saat mendengar panggilan itu. Ya Tuhan, sudah empat tahun berlalu dan dia masih saja menggunakan panggilan konyol itu… ayolah… panggil aku Siwon oppa atau Wonnie –panggilan kesayangan Eommaku– atau apapun yang bisa menggambarkan bahwa kau ingin dekat denganku!
"Jangan memanggilku seperti itu!" geramku.
Sejenak, dia tampak membulatkan mata hitam 'penyedot dunia'-nya itu, sebelum kemudian kembali membungkuk dan berkata pelan ; "Mianhamnida, Choi sangjanim."
ARG! SIAL!
Aku mengerang frustasi dalam benakku sendiri, lalu dengan kesal ku tinggalkan dia di sana. Aku benar-benar tak tahu kemana perginya pengendalian diriku yang selalu menjadi pujian orang-orang itu. Di depannya, aku tak bisa mengontrol apapun termasuk emosiku sendiri.
Demi Tuhan, dari mana dia belajar sihir seperti itu?
Kau tahu apa yang dikatakan oleh Teuki hyung saat aku memarahinya tentang keberadaan si penyihir Kim Kibum?
Dia tertawa terbahak-bahak saat aku mengatakan "Dia penyihir hyung! Dia membuatku tak bisa bergerak, dia membuat jantungku melompat, dia membuat duniaku menghilang masuk kedalam matanya, dia membuatku kehiangan kendali atas diriku sendiri! Demi Tuhan dia itu penyihir hyung!"
Apa yang lucu dengan semua itu? Apa yang membuat sepupuku itu tertawa begitu keras hingga berguling-guling dan meneteskan air mata selama berjam-jam? Bahkan sampai saat ini dia akan kembali tertawa bila momen itu kembali di ingat.
"Kau jatuh cinta Babboya Choi, kau jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama… kau jatuh cinta padanya sejak sembilan tahun yang lalu dan kau masih belum menyadarinya? Kau benar-benar Babbo!" ujarnya sambil terus berlinangan air mata.
"Jangan bercanda Hyung! Hyung sendiri yang pernah bilang padaku bahwa cinta itu indah. Cinta itu membuatmu merasa nyaman bila di dekatnya. Tapi dia sama sekali tidak indah Hyung, dia menakutkan dan aku sama sekali tak merasa nyaman di dekatnya," belaku tak mau kalah. "Dia membuatku tak nyaman, dia membuatku selalu merasa kurang, dia membuatku merasa… merasa… merasa membutuhkannya untuk melengkapiku."
Park Jong Soo masih tertawa, dengan kembali mengusap air mata di pipinya dia menepuk pundakku. "Baiklah, sekarang dengarkan aku Babboya. Dari pada kau benar-benar menjadi Babboya karena tak mendapatkannya, sebaiknya sekarang cobalah untuk mendapatkannya. Dekati dia. Buat dia jadi milikmu agar kau merasa sempurna, Right?"
.
See?
Choi Siwon tidak sesempurna yang kalian lihat. Dia bodoh, bahkan terlalu bodoh untuk menyadari perasaan 'pengganggu' apa yang selama sembilan tahun terus menggerogoti hatinya. Sejak kelas dua Junior High School hingga aku mendapatkan gelar masterku selama belajar empat tahun di London.
Selama sembilan tahun perasaan itu menginvasi dadaku, membuat napasku tercekat, membuat hatiku meringis sakit, membuat kepalaku tak bisa menghilangkan iris hitam 'penyedot dunia' membuatku tak bisa menempatkan yeoja lain dalam hidupku dan…
Ah! CINTA…
Sungguh sial!
Aku tahu itu sangat memalukan.
.
Selanjutnya, Teuki Hyung menjelma menjadi Aprhodite pribadiku. Aku bahkan rela meninggalkan Choi manor untuk tinggal bersamanya agar bisa menceritakan perkembangan hubunganku dengan Bummie –Oh, yeah.. aku memanggilnya Bummie, sekarang– dan mendapatkan saran untuk kelanjutannya besok pagi.
Mendekati seorang Kim Kibum jelas bukan hal yang mudah. Aku benar-benar kehilangan dayaku di sini, semua kekayaanku yang tak ternilai deretan nol itu sama sekali tak berharga baginya. Ketampananku yang selalu bisa membuat mata siapapun silau hanya tenggelam masuk kedalam mata hitam gelapnya. Kecerdasanku? Haha… dia itu jenius! Semua yang kukatakan terasa bodoh di hadapannya.
"Apa yang harus kulakukan Hyung!" keluhku siang itu. Kalau tidak ingat aku sangat membutuhkan sarannya, mungkin sudah ku patahkan lehernya.
Teukie hyung masih menertawakanku. Dia bahkan sempat-sempatnya bersyukur bahwa Kangin tak sebodoh aku saat mendekatinya. Oh! Ayolah… mendekati orang se atraktif Park Jong Soo jelas tak se menggilakan mendekati yeoja pasif macam Kim Kibum.
Kalau saja ada yeoja lain yang mampu membuatku merasakan 'sensasi' yang sama, aku takkan perlu bersusah payah mendekati Kim Kibum. Tapi kenyatannya, Oh GOD! Aku baru sadar bahwa selama sembilan tahun ini hampir tak ada yeoja yang 'Spesial' untukku. Mungkin benar kata Teukie hyung, aku jatuh cinta –cinta gila– padanya.
"Kita ada rapat dengannya pagi ini kan? Ajaklah dia makan siang setelahnya. Bawa dia dalam pembicaraan ringan, untuk awal membicarakan pekerjaan juga taka pa, tapi akan lebih baik kalau 'sedikit' tentang hal yang pribadi. Ingat! Sedikit saja, kalau terlalu banyak itu justru akan membuatnya merasa jengah padamu."
Aku menjalankan nasehat Hyungku itu dengan baik. Seusai rapat, aku menawarinya makan siang bersama –dan beruntung sekali– dia pun menyetujuinya. Aku membawanya ke sebuah restaurant Jepang, karena aku tahu dia suka masakan Jepang. Tapi sayangnya aku tak bisa menjalankan saran Teukie hyung tentang menarikkan kursi. Jelas sekali, karena ini restaurant jepang, tak ada kursi karena kami duduk di atas tatami dengan beralas futon.
.
Aku mendengarkan dengan baik setiap saran dan nasehat Teukie hyung, aku bersumpah akan membelikannya Ferrari impiannya kalau aku berhasil dengan Kibum nantinya –ini juga benar-benar ku penuhi–.
Semakin hari kami semakin dekat. Kami menjadi sahabat, makan siang bersama, mengantarnya pulang kantor, sudah menjadi rutinitas kami. Bahkan akhir minggu lalu kami berkencan ke Seoul Tower dan makan ice cream bersama.
Dia sangat manis, sangat lembut, dan sangat sempurna untuk menyempurnakanku. Dia cukup duduk diam dan membaca bukunya untuk membuat dadaku berdebar. Dia cukup tersenyum menampilkan killer smilenya untuk membuat napasku berhenti.
Dan aku benar-benar merasa sempurna setiap kali dia memanggilku 'Wonnie oppa'
.
Aku tak mau membuang-buang waktu. Saat kurasa kami mulai dekat, aku melamarnya. Ya… aku langsung melamarnya, karena bagiku kata 'pacar' tak akan cukup untuk membuatku merasa puas dengan hubungan kami. Aku ingin memilikinya, seutuhnya, menjadi suaminya, menyematkan namaku sebagai namanya. Menjadikan yeoja luar-biasa-standar itu sebagai seorang Choi.
.
Malam itu aku menyajaknya berkencan.
Aku menjemputnya dari rumah kecil itu dan membawanya keluar setelah berpamitan dengan Appanya. Berbicara tentang Appanya, aku sudah meminta restu siang tadi untuk melamar Kim Kibum dan beruntung sekali dia hanya mengatakan bahwa apapun pilihan Kibum, dia akan menerimanya.
Ah, ngomong-ngomong… dia cantik sekali malam itu. Dengan sebuah dress turtle neck tanpa lengan berwarna merah darah yang sangat pas dengan kulitnya yang seputih salju. Berpoles tipis dan rambut hitam yang tergerai indah. Dia… SANGAT INDAH.
Aku menggenggam tangannya, memperlakukannya sebagai seorang putri sementara aku hanya pelayannya. Dia tersenyum tipis mendapat perlakuan itu. Ah… kalau saja tahu akan mendapatkan balasan senyuman seindah itu, aku akan lebih sering memperlakukannya bagai putri. Bila perlu setiap saat.. sepanjang hari… agar senyum tipis yang mampu mencekat napasku itu terus terkembang di bibirnya.
.
Aku membawanya ke salah satu hotel milik keluargaku, sebuah restaurant di atas gedung adalah tujuanku. Tentu saja, aku sudah meminta pihak management untuk menutup dan membatalkan apapun reservasi malam itu.
Dia tak tampak terkejut, ku pikir dengan otak jeniusnya dia bisa menebak tempat seperti apa yang akan menjadi pilihan seorang Choi Siwon. Aku terus tersenyum, menarikkan kursi untuknya dan menuangkan sampanye ke gelasnya. Aku, menjadi seorang pelayan di hotel dan restaurantku sendiri hanya untuknya. Untuk Kim Kibum.
Dan sungguh, rona merah yang muncul di pipinya saat kukecup tangannya telah menjadi balasan yang setimpal untuk semua yang ku lakukan.
"Mau pesan apa, Princess?"
Dia kembali tersipu, membuatku merasa melayang tinggi saat itu.
"Apapun Oppa, kau yakin kau yang akan memasaknya sendiri?"
"Untukmu, Senorita," aku kembali membungkuk untuknya.
"Aku tak mau merepotkanmu, Wonnie oppa. Kurasa, ramyon instan saja cukup."
Aku membulatkan mataku. "Bummie, ini restaurant bintang lima… kalau kau memesan yang seperti itu aku justru akan repot karena di sini jelas tidak menyediakan itu."
"Aaa… kalau begitu terserah kau saja."
Aku membuatkannya steak special. Dan itu benar-benar kubuat sendiri, aku sudah belajar selama seharian penuh kemarin pada cheff Piere.
Lalu, semenit tepat setelah dia menghabiskan seluruh makanan di atas mejanya, kejutan itu datang.
Sebuah helly datang dengan mendadak dan begitu bising. Menyerukan tentang penangkapan dan mengepungan. Kali itu aku benar-benar harus menahan tawaku saat melihat ekspresi panik di wajah tenangnya.
Dia benar-benar panik saat lampu sorot helly copter itu menyorotnya dan menyerukan agar dia tiarap diatas lantai. Sementara sebuah tembakan peringatan melayang memecahkan vas bunga di atas mejanya.
Aku sedikit kesal dengan tembakan itu, sempat was-was kalau-kalau tembakannya meleset atau apapun ketidak beresan terjadi dan benar-benar melukainya. Tapi, Puji Tuhan… dia selamat hingga saat ini.
Ah.. kembali…
Dia yang terkejut dengan tembakan itu segera bertiarap diatas lantai. Hingga kemudian sekitar sepuluh orang berseragam hitam lengkap dengan masker mengepungnya dan menodongkan senjata padanya.
Aku hampir tak tega saat melihat tubuhnya bergetar. Tapi ini harus berlanjut.
"Angkat tanganmu keatas dan bangunlah dengan perlahan Kim Kibum!" seruan itu bergema dari megaphone helly.
Kibum mengikutinya dan saat itulah, saat dia bangun perlahan aku memposisikan diriku di hadapannya. Menyunggingkan sebuah senyum dan menyodorkan sebuah cincin padanya.
"Would you marry me?"
Dia tercengang!
"Kim Kibum, bersediakah kau menikah dengan Choi Siwon?" suara dari megaphone itu kembali terdengar.
Tapi dia masih tercengang dengan mata yang mengerjap-erjap imut.
"Kim Kibum, would you marry me?" aku kembali mengucapkan kata itu, namun kali ini dengan maraih sebelah tangannya dan berlutut di hadapannya.
Dia tersentak saat aku mengecup pungung tangannya. Agaknya tersadar…
"Wonnie oppa… i-ini… ini…"
"Aku melamarmu, Kim Kibum. Sekarang, jawab pertanyaanku… maukah kau menikah denganku? Menjadi istriku? Melengkapiku selamanya, menjalani sisa hidupmu dalam berat mau pun ringan bersamaku, membagi segalanya denganku… sampai mati?"
Hening…
Cukup lama…
Membuat dadaku bergemuruh makin kuat dan tak tertahankan. Berbagai terkaan mulai berkelana di kepalaku, membuatku mulai pesimis hingga akhirnya….
Dia mengangguk.
Dan tersenyum…
"Yes… I do."
.
Benarkan? Cinta itu bodoh…
Cinta itu datang tanpa kau ketahui kapan, menggerogoti hatimu perlahan-lahan, menginfeksi dirimu dengan segala hal tentangnya.
.
Sekarang, saat ku sebut nama…
Kim Kibum.
Apa yang akan terlintas di kepalamu?
Yeoja biasa? Yeoja luar-biasa-standar? Si pendiam? Si kutu buku? Si tak bisa bergaul?
Tapi bagiku…
Kim Kibum, itu…
Cinta…
Ah! Sekarang panggil dia Choi Kibum atau kau akan berhadapan dengan seorang Choi Siwon!
_FIN_
SIBUM PERTAMAKU!
Ahay! Parah sekali menggunakan Point Of View Siwon disini… Okhe! Ini kedua kalinya Lhyn bikin Fic dengan sudut pandang orang pertama. Dan mungkin aneh banget ya…
Ini Fic permintaan maaf Lhyn karena lama Apdet After All… Lhyn lagi ga punya leptop, Leptop Lhyn rusak dan karena Lhyn ga suka leptop yang udah 'servisan' ntu leptop Lhyn jual… Ini ngetik pinjem Leptop Adek… kalo 'kemungkinan' beli barunya lama Lhyn mungkin bakal pake punya adek lagi. Doain ya biar bisa cepet beli baru, rencananya sih hari kamis, tapi bisa juga lama, soalnya Lhyn juga nunggu Festival Komputer Indonesia (FKI) tanggal 6-10 juni di java/DP mall *kok kesannya iklan ya*… soalnya Lhyn ga sreg kalo ngetik ga pake leptop sendiri. Mianhamnida… *Bungkuk2*
Yang udah baca, Rifyu ya.. kalau rifyunya memuaskan nanti Lhyn bikinin yang versi Kibumnya lho…
.
Lhyn ga tau deh punya salah apa ama tu 'Anak' Brasa dia lagi jadi Polisi kali ya... sok-sokan menegakkan hukum dengan berkata dimana-mana di tempat Lhyn berada kalo Screenplay ntu dilarang.
Jadi... dia RA seribukalipun Lhyn bakal tete[ Publis ulang dan Publis ulang terus... sampe akun FFN di blokir pun Lhyn masih bisa bikin lagi dan bikin lagi.
.
Maaf untuk Curhatan heboh di atas...
Oh.. ya.,.. makasih buat yang udah rifyu di publisan sebelumnya :
therany, Circle The Past, RistaMbum, Asahi, Seo Shin Young, Lee HyoJoon, Mulov, wonniebummie, diitactorlove, Caxiebum, iruma chan, Clouds54, bumie407, kailyn, Ichigobumchan, rikha-chan, eunhae25, Viivii-ken, Sung Hye Ah, Park Ha Ri, zakurafrezee, thasya357, Sibumxoxo, Kim Soo Hyun, OktavLuvJaejoong, Jewel LeeAihara, KimHanKyu, Dila choi, cha, blockbjaelf, Lil'cute Bear, monkey D eimi, QueenDeeBeauty.
Last... Mind to Rifyu -again-?