Minggu, 08 April 2012

SIAL! (For Siwonnie Birthday)

Summary :
Siwon benar-benar tengah diuji! Kemarin hari ulang tahunnya tapi tak seorangpun dari hyungdeul dan saengdeulnya yang mengucapkan selamat, lalu hari ini dia di usir dari dorm dan terakhir memergoki Kibum tengah bersama namja lain di flatnya!
.
SIAL!
Lhyn Hatake Present
Genre : Romance, Drama, Litle bit Hurt/Comfort.
Rate : T
Cast : Super Junior Member
Pairing : SiBum, KyuMin, HaeHyuk, YeWook.
Warning : Abal, geje, aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain yang membuat fic ini jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : Super Junior milik SME, Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun. Not alowed to bashing the cast or other, please! DON’T LIKE DON'T READ!
.
.
Siwon membuka matanya dengan berat pagi itu. Benar-benar berharap pagi ini tak segera datang, pagi tanggal 8 April, pagi ke-dua diusianya yang ke dua puluh enam. Bukan bermaksud egois dengan ingin terus berada di hari ulang tahunnya, tapi... dia ingin memberi kesempatan bagi hyungdeul dan saengdeulnya untuk mengucapkan selamat padanya.
Kemarin hari yang sibuk. Meski agak kesal dia mencoba memaklumi kalau Super Junior lupa mengucapkan selamat padanya –termasuk Kibum yang notabene kekasihnya sendiri–. Lagi pula dia bukan lagi anak-anak yang harus mendapatkan hadiah, pesta penuh ballon dan dispesialkan sepanjang hari. Dan ribuan bahkan ucapan selamat di berbagai jejaring sosial, juga tumpukan kado dari fans cukup membuatnya merasa berarti.
AISH!!
OKE! Lupakan semua ketikan huruf yang tak berarti di atas. Dia benar benar kesal hari ini, dia benar-benar merasa kurang tanpa ucapan selamat dari keluarga keduanya, dari Kibumnya. Dia benar-benar merasa tidak berarti di Super Junior bahkan di mata Kibum.
Dia benar-benar.
“ARGH!!”
Baiklah! Dia harus ke dorm sekarang dan menagih semua ucapan selamat untuknya. Kemarin mungkin bisa dimaafkan lantaran jadwal yang lebih penuh dari stasiun kereta di hari libur dan jam pulang kerja. Tapi hari ini mereka libur! Dia benar-benar akan marah, menangis dan berjanji takkan pernah merayakan ulang tahunnya lagi seperti yang dilakukan Donghae saat mereka juga lupa ulang tahunnya dulu.
Dan jangan jadikan kekosongan pemimpin di Super Junior menjadi alasan! Ish, dia masih tidak rela Eeteuk ‘Umma’ pergi sebelum Kangin ‘Appa’ kembali.
.
.
Siwon membuka pintu dorm perlahan dan masuk dengan tenang. Sedikit berdehem untuk mengembalikan kharismanya sebagai Gentleman Choi yang sempat hilang saat dia berdumel sendiri dalam mobil sepanjang perjalanan.
Annyeong...,” panggilnya, mencoba mencari keberadaan Hyungdeul dan Saengdeulnya. Lalu terpaksa harus merasa kecewa lantaran tak ada seorang pun yang menjawabnya. Menghela napas, diapun masuk ke dalam dorm itu dan melangkah pelan.
Suara televisi yang terdengar pelan membuat perasaannya sedikt menggebu, berharap mereka sedang berkumpul di sana atau lebih menyenangkan lagi, berharap mereka akan menyambutnya dengan tart besar di sana. Dia pun melangkah semangat!
Tapi alih-alih melihat apa yang diharapkannya, ‘Ma’ Super Junior itu justru melihat pemandangan yang ‘sedikit’ membuatnya iri.
Pasalnya, pasangan teraneh Super Junior tengah bermesraan di sana, dengan Yesung yang duduk mengusap rambut Ryeowook yang berbaring di pangkuannya. ‘AKU INGIN ITU! BUMMIEEEE’ teriaknya dalam hati.
Dengan langkah yang sedikit menghentak, Siwon pun mendekat tanpa berusaha menatap mereka dan menghempaskan bokong ratanya di bagian sofa yang tersisa. Dengan enggan dia meraih remote dan memindahkan channel....
‘Kenapa jadi terasa dingin sih?’ batinnya, tangan berotot itupun terangkat dan mengusap tengkuknya yang terasa agak merinding.
Hyu—enghhh...” bermaksud bertanya tentang perubahan udara yang terasa, Siwon justru mendapatkan yang lebih dari itu. Dia jadi tahu dari mana udara dingin ini berasal.. Yesung tengah menatapnya dingin. Namja tampan itu mengangkat alisnya dan bertanya kaku, “ada apa hyung?”
“Sedang apa kau disini?” Yesung bersuara dengan maksud tak jelas. Bertanya atau menghina.
“Yesungie hyung jangan kasar. Wonnie hyung, Yesungie hyung tak suka kau mengganggu kami. Mungkin sebaiknya kau pergi, tapi tak apa kalau kau ingin di sini,” khas Ryeowook sekali, si pemprotes namun tak tega.
“Shhh... arra... arra... aku pergi,” gumamnya kesal. Namja bertubuh atletis itu pun bangkit dan... berhenti sejenak, lalu menatap YeWook couple. “Jong Woon hyung, Wookieya, apa kalian tidak merasa melupakan sesuatu?”
Keduanya mengangkat alis. “Melupakan sesuatu? Ah... aku lupa tidak melemparimu dengan sepatu!”
“Argh!” Siwon pun berlari sebelum Yesung sempat melempar sepatunya. Menyusuri ruang demi ruang dan... Ah... ada suara gitar dari dalam salah satu kamar... mungkinkan seseorang sedang take vocal untuk menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.
Suara petikan gitar itu berasal dari kamar KyuMin couple yang kebelutan pintunya tengah terbuka. Siwon memandang dua namja yang mengenakan kaus hijau yang sama itu, Ish.. mereka juga membuatnya iri... dia benar-benar merindukan Bum—
“BRAKKK!!”
“OMO!” Siwon melonjak saat pintu di depannya terbanting menutup dengan keras.
“JANGAN MENGGANGGU HYUNG! PERGI SANA!” suara si evil Kyuhyun.
“Aku tidak berniat menganggu Kyu...,” Siwon mendesah kecewa. “Umm Minnie Hyungya, Kyuhyunieya... Apa kalian tidak merasa kelupaan sesuatu dari kemarin?”
“PERGI HYUNG!”
“YA! Dasar magnae setan!” maki Siwon dengan tidak bergairah... huft... dari lima belas orang Super Junior.... Eeteuk, Kangin dan Heechul yang sedang Wamil sama sekali tak mengucapkan selamat ulang tahun meski melalui sebuah pesan singkat, Hangeng, Zhoumi dan Henry di China pun tidak, Shindong telah menghilang sejak semalam dan tak ada kabar, YeWook tak bisa di harapkan, KyuMin apalagi... apa pungkin Eunhyuk dan Donghae.... Ish! Bahkan Kibum pun lupa?
Dengan langkah gontai, namja berABS menggoda itu berjalan menuju dapur dorm Super Junior. Ingin mencari sumber tenaga, karena dia lupa sarapan di rumah tadi. Salahkan saja ambisinya untuk mendengarkan kata ‘Selamat’ itu dari Hyungdeul dan Saengdeulnya.
“Euuu?” mata hitam gelap itu membulat iri ketika di lihatnya kemesraan lain di dorm Super Junior itu.
Pasangan hiperaktif  Donghae dan Eunhyuk tangah saling menyuapkan sereal di meja dapur dengan mesra. Sejenak, Siwon agak ragu untuk mendekat... takut di usir lagi tapi... ah, perutnya lapar melihat semangkuk choco sereal di atas meja itu.... membuatnya semakin lapar
Siwon pun meraih mangkok dari rak piring dan mendudukkan diri di seberang meja HaeHyuk couple. Mereka sedikit meliriknya dengan tatapan terganggu ketika Siwon mendudukkan diri.
Siwon mencoba mengabaikan tatapan itu dan meraih kotak sereal di atas meja, lalu menuang susunya dan...
Hyung, kenapa makan di sini?” suara Donghae membuat gerakan sendok itu terhenti dari tujuannya menyuapkan sereal ke mulut Siwon.
Waeyo?”
“Kau mengganggu Wonnie, jarang sekali kami dapat waktu berduaan dan kau malah merusaknya dengan duduk di sana! Cepat bangun dan pergi!”
Mulut Siwon membulat mendengar usiran Eunhyuk itu. Dan dia hampir tak percaya saat Donghae manariknya bangun dari kursi dan mendorongnya keluar dari dapur.
“Ta-tapi hyung...” Siwon tak bisa bicara saat pasangan monyet dan ikan itu menariknya keluar dari dapur, bahkan masih menariknya menuju pintu depan dorm.
Dan lebih mengenaskan saat Kyuhyun dan Sungmin keluar dari kamar dan ikut mendorongnya keluar! Benar-benar sial saat melewati ruang televisi dan YeWook Couple ikut bergabung bersama yang lain mendorong Siwon.
Siwon gelagapan saat enam saudara seSuper Junior-nya mengusirnya dengan kasar!
“Jangan mengganggu Wonnie,” ujar Sungmin, meski pelan namun terkesan dingin dengan mendorongkan mangkuk sereal ke tangannya yang kosong.
“Ayo Minnie...,” Kyuhyun menarik lengan namja kelinci itu dan...
“BRAGH!”
Siwon masih membatu saat pintu dorm tertutup dengan kasar di depannya. Oh Tuhan... katakan kapan dia lupa datang ke gereja, katakan kapan dia lupa membaca Al-kitab, katakan kapan dia... ARGH! Kenapa dia jadi begini terkutuknya sih?
Siwon menatap mangkuk choco sereal di tangannya dengan miris. “Minnie hyung... kau lupa sendoknya....”
.
.
Oke! Sekarang dia merasa benar-benar tak berarti di mata Super Junior. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang? Bunuh dirikah? Hah! Siwon bukan umat beriman lemah! Memikirkan hyungdeul dan saengdeulnya yang sedang berbagi kasih membuatnya benar-benar merindukan Bummie-nya.
Entah sudah berapa lama dia tak mengusap rambut hitam halus itu, sudah berapa lama dia tak melihat ‘Killer Smile’ yang melumpuhkan hatinya itu, sudah berapa lama dia tak berbagi suap sereal dengan pemilik hatinya itu.
Sudah lama sekali! Salahkan tumpukan jadwal yang seringkali tak bersahabat itu. Ish! Dia benar-benar merindukannya. Dan menatap jendela apartemen namja snow white dari bawah sini membuatnya semakin rindu.
Huft! Dia tak tahu harus ke mana di hari minggu tanpa jadwal seperti ini. Dia sudah berputar-putar mengelilingi Seoul dengan berbekal mangkuk sereal di sampingnya dan berakhir di sini. Di depan gedung Apartemen Kibum, padalah dia tahu apartemen itu kosong karena jelas semalam Kibum berkata dia sedang di Mokpo untuk Shooting drama terbarunya.
Ma Siwon... benar-benar kalah dari rasa rindunya dan mengalah dengan meraih ponselnya, menekan speed dial nomor satu dan meletakkan benda kotak kecil itu di pipinya, menunggu....
Annyeong....”
“Bummieya... bogoshipeo...”
Terdengar helaan napas berat dari seberang sana. “Kau menelepon hanya untuk mengatakan itu? Aku sedang sibuk Wonnie, bisa telepon lagi nanti saja?”
“Aku benar-benar merindukanmu masa kau tega memutuskan satu-satunya cara komunikasi kita? Kau sedang apa? Di mana? Bersama siapa?” tanya Siwon, mirip lirik lagu dari band asal Indonesia yang dia tak tahu siapa dan kapan mendengarnya.
“Aku sedang menghapal skrip, masih di Mokpo dan sedang sendirian,” ujar Kibum, terdengar bosan.
Siwon menghela napas berat dan....
Sebuah bayangan melintas di balik jendela apartemen Kibum, membuat namja berbadan besar itu waspada. “Kau benar-benar tidak di rumah?” Siwon bertanya dengan suara yang terdengar lebih berat. Dia mulai menerka-nerka... siapa sosok bayangan yang sekarang tengah duduk di bingkai jendela apartemen itu? Pencurikah.... atau....
“Kau tidak percaya padaku?”
Siwon tak menjawab, matanya masih terpusat pada punggung di balik tirai jendela itu. Dia tak mungkin salah menerka letak jendela apartemen kekasihnya, dan sepertinya dia mengenali punggung itu... punggung yang begitu mirip dengan punggung kekasihnya sendiri.
Ya, itu punggung Kibum... tapi tadi dia bilang dia sedang di Mokpo, untuk apa Kibum berbohong padanya?
Deg!
Jantung namja itu seakan melompat saat satu bayangan lagi muncul.
Sudah jelas! Kibum berbohong. Dan namja snow white itu tengah bersama seorang namja di apartemennya. Di minggu pagi dan...
“Kau berbohong Bummie! Aku melihatmu dari bawah sini. Cobalah bantu siapapun yang tengah bersamamu saat ini untuk lari dariku dan akan kupastikan dia takkan selamat dari tanganku!”
Usai mengucapkan itu, Siwon membanting ponselnya ke jok di sampingnya dan keluar dari mobil dengan membanting pintunya kasar!
Dia tak peduli lagi dengan tanpa adanya ucapan selamat ulang tahun ‘konyol’ itu. Dadanya terasa terbakar dan sesak bukan main. Jadi inikah yang dilakukan Kim Kibum selama ini di belakangnya?
Bermain dengan namja lain? Membohoginya? Sudah berapa kali? Sudah berapa banyak?
SIAL! Dia benar-benar bisa membunuh siapapun namja yang tengah bersama kekasihnya saat ini!
.
.
Kibum SIDE!
“GAWAT!” teriak Kibum, benar-benar di luar kebiasaannya yang selalu tenang. Dan tentu saja, teriakan yang benar-benar Out Of Charakter itu membuat tujuh orang namja lain di apartemen itu menghentikan kegiatan mereka saat itu.
“Ada apa Bummie?” Sungmin yang saat itu sedang berdiri di sampingnya sempat melonjak dan bertanya dengan napas agak terengah. “Kau mengejutkanku.”
“Dalam lima... tidak tiga menit Siwon akan tiba di sini! Dia melihatku dan Minnie hyung dari jendela, dia menyangka aku berselingkuh!” Kibum masih terlihat panik.
Dan efek panik itu dengan cepat menyebar pada seluruh namja dalam apartemen itu.
Kebisinganpun mulai mengudara, suara-suara panik dan gugup mengisi apartemen kecil itu. Kibum yang melihat perubahan suasana itu dengan cepat berusaha menguasai dirinya.
“Kalian tenang saja,” ujarnya kalem, berbeda seratus delapan puluh derajat dari semenit yang lalu. “Aku akan menahannya di lift, sementara itu hyungdeul selesaikan semuanya dengan cepat,” ujarnya memutuskan dengan final.
.
.
Ting’
Suara pintu lift berbunyi pelan saat terbuka. Dan Siwon sama sekali tak terkejut saat mendapati namja pemilik ‘Killer Smile’ itu telah berdiri menyambutnya tepat di depan lorong.
“Di mana dia?” Siwon bertanya geram, amarahnya sama sekali tak bisa disembunyikan di nadanya.
“Dia hanya chinguku, chingu biasa, jangan mempermasalahkan hal sepele,” Kibum berusaha setenang mungkin namun tetap waspada dan berusaha menghalangi langkah namja tinggi di depannya.
“Kau tak mungkin berbohong padaku hanya karena chingu biasa seperti yang kau bilang! Kau membohongiku!” ujar Siwon begitu geram dan menatap iris hitam di depannya dengan tajam.
Mianhe.. jeongmal mianhe, aku tahu aku salah berbohong padamu kali ini. tapi kumohon, tenangkan dirimu,” ujar Kibum lembut.
“Katakan saja di mana dia!”
“Dia tidak ada di sini, Wonnie jebbal...”
Permohonan Kibum tak berhasil. Namja tampan itu telah kembali menggerakkan kakinya melangkah menuju apartemennya.
“Wonnie!” Kibum berteriak sedikit keras saat Siwon hendak meraih kenop pintunya tapi...
‘Clek’
Pintu itu lebih dulu terbuka dari dalam dan sosok magnae Super Junior muncul. Membuat baik Siwon maupun Kibum sama-sama membulatkan matanya.
“Kau?”
“Kupikir... sudah tak ada gunanya menyembunyikan semua ini lagi, Bummi hyung. Wonnie hyung, terimalah kenyataan bahwa sekarang kau bukan lagi satu-satunya kekasih Bummie hyung.”
“KYU!” Kibum memekik tak percaya mendengar ucapan si evil magnae itu sementara Siwon dengan tubuh yang bergetar marah dia mencoba mengontrol emosinya yang tiba-tiba meledak dan meluap-luap tanpa bendungan. “Wonnie jangan dengarkan dia,” Kibum berkata sedikit keras dan berusaha berdiri diantara dua namja itu. Tangannya dengan erat menggenggam tangan Siwon yang mengepal erat.
“Wonnie hyung... mau bertindak bar-bar dengan menghajarku? Cih, kau benar-benar kekanakan! Apa kau pikir dengan memukulku atau bahkan membunuhku bisa menyelesaikan semuanya dan membuat perasaan Bummie hyung kembali padamu? Kau bena—”
“KYU! Berhenti bicara!” Kibum benar-benar membentak kyuhyun kali ini. Demi tuhan! Kibum tak pernah melihat Siwon dalam kondisi semarah ini sebelumnya.
Wajahnya benar-benar memerah dan bergetar kecil dengan tangan yang terkepal erat serta napas yang memburu dan tatapan mata begitu tajam menusuk penuh kebencian.
Dan sebelum semuanya menjadi semakin tak terkendali....
Saengil chukha hamnida!” pintu di belakang Kyuhyun terbuka dan terbongkarlah semuanya.
Super Junior ada di sana. Mereka tersenyum ceria dengan topi kerucut penuh warna di kepalanya.
Siwon trans!
“Wonnieya...,” Kibum memanggilnya lembut dan mengusap pundak Siwon pelan.
“I-ini... Ka-kalian tidak lupa?”
Oh, Oke! Jadi... Siwon harus mengatakan apa untuk hari ini? pertama kali dalam hidupnya dia merasakan apa itu rasa sakit hati, kecewa dan terbakar cemburu. Namun hampir tak sejam kemudian dia menyadari bahwa semua perasaan itu benar-benar tak perlu?
AH! Sudahlah... tak perlu pikirkan apapun itu... cukup nikmati pestanya!
SAENGIL CHUKHA HAMNIDA SIWONNIE OPPA!
_FIN_
Telat sehari! Tapi tak apalah....
Jangan lupa Komen setelah Baca ya...

Sabtu, 07 April 2012

After All Keping Ke Tiga

AFTER ALL
Keping Tiga
.
Summary : Yeoja itu datang diantara mereka, merapuhkan ikatan dan kepercayaan yang ada. Sungmin ragu, bukan pada Kyuhyun tapi pada dirinya sendiri. Tidak tahu apakah dia mampu bertahan atau lelah, menyerah dan pergi.
.
Genre : Romance , Hurt/Comfort, Drama.
Rate : M
Cast : Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun, Lee Sungmin as Lee Sungmin, Lee Donghae as Lee Donghae, Choi Siwon as Choi Siwon, Kim Heechul as Kim Heechul, etc.
pairing : Kyuhyun X Sungmin, Siwon X Sungmin, Kyuhyun X Seohyun, and Yesung X Ryeowook, the other only Friendship, Ada request untuk Slight lainnya silahkan PM.
Warning : Genderswitch, abal, geje, aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain yangmembuat fic ini jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : Super Junior milik SME, Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun. Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
"Aku ingat aku pernah mengingatkan Hyung untuk tidak menemuiku lagi, kenapa sekarang Hyung datang?" Namja bertubuh kecil itu mendengus kesal dan bicara setengah memaki pada namja di depannya.
Yesung hanya mendengus dan tersenyum meremehkan mendengar ucapan yang keluar dari bibir namjachingunya. "Hanya karena kau berkata 'Jangan temui aku lagi' bukan berarti aku melepaskanmu Wookie," ujarnya dengan iris mata yang menatap intens iris bening di depannya.
"Kau harus melepaskanku, Hyung. Aku tidak mau kalau sampai Hyung—"
Ucapan namja itu terputus, saat dengan seenaknya Yesung menerobos masuk kedalam flat kecil itu dan dengan santai duduk di sofa dengan tangan yang terlipat. Pandangan matanya dingin menatap televisi mati di depannya.
"Aku tidak pernah peduli dengan apapun pendapat Appa tentangku," ujarnya datar.
"Tapi aku peduli Hyung!" Ryeowook berkacak pinggang menatap namjachingunya, ah, mungkin lebih tepatnya mantan namjachingu, karena bagi Ryeowook hubungan mereka telah berakhir. "Aku peduli padamu, Hyung! Aku peduli pada masa depanmu! Aku tidak mau hanya karena aku kau di buang dari keluargamu, aku tidak mau hanya karena aku karirmu hancur, impianmu—"
"Bukan kau atau Appa yang menentukan masa depanku!" sergah Yesung keras. Pandangan matanya menatap nyalang pada iris bening di depannya, mengatakan padanya betapa marahnya dia mendengar semua ucapan itu keluar dari bibir seorang Ryeowook.
"AGH!" Yesung mengerang kesal melihat akibat dari kemarahannya, Ryeowook menatapnya nanar dengan pandangan tak percaya. Bibirnya bergetar sementara pelupuk matanya tampak berkilau. "Aku merindukanmu, kau tahu? Dan aku sama sekali tak ingin mendengarkan penolakanmu, sekarang kemarilah," ujarnya berusaha lembut. Yesung bangkit dan merentang kedua tangannya, berharap namja kecil itu akan datang dan mengisi kekosongan dalam rengkuhan dadanya.
Tapi harapan tinggal harapan. Ryeowook dengan tegas menggelengkan kepalanya. Namja itu bergerak cepat meraih tas kuliahnya dan berlalu dari sana. Meninggalkan Yesung dengan rengkuhannya yang tetap kosong, dengan kerinduannya yang tetap kering.
"Tidak akan sesulit ini, kalau kau tetap di sampingku, Wookie," bisiknya lirih dengan tangan yang terkepal kuat.
.
.
Audi putih itu berhenti mulus di halaman parkir bagian timur gedung ELF University. Pagi itu masih lenggang karena jam kuliah pertama baru akan dimulai sekitar satu jam lagi. Sungmin yang sebenarnya masih merasa kaku segera melepas seatbeltnya. Yeoja manis yang makin manis dengan kaos pink berbalut blazer hitam dan rok lipit selutut berwarna hitam itu hendak membuka pintu saat tangan berotot milik Kyuhyun mencegahnya.
Sungmin memandang Kyuhyun dengan pandangan bertanya.
"Aku akan menjemputmu makan siang nanti," ujar Kyuhyun dengan senyum evilnya.
Sungmin mengangguk pelan, yeoja itu hendak kembali meraih hendel pintu saat Kyuhyun meraih lengannya, lagi. "Ada yang lain Kyunie?" tanya Sungmin dengan suara lembutnya, meski yang terdengar lebih jelas adalah kesan bosannya.
Kyuhyun tak menjawab, namja berambut caramel itu memilih langsung mengecup bibir Sungmin singkat, namun berulang-ulang. Sungmin mendorong dada Kyuhyun saat merasakan kecupan itu berubah menjadi hisapan yang berulang.
"Kyuhh..."
"Shhh..." desis Kyuhyun, tanda bahwa dia tidak menerima penolakan kali ini. Kyuhyun masih setia menghisap bibir bawah Sungmin dengan beberapa kali melayangkan jilatan di bibir atasnya.
Sungmin menyerah. Ini akan berlangsung lama kalau dia tidak mengeluarkan lidahnya dan mengajak lidah Kyuhyun masuk. Yeoja bermata kelinci itu telah hapal di luar kepala segala tidak tanduk Kyuhyun. Kalau dia tidak memancingnya, maka namja itu akan terus bermain-main dengan bibirnya. Dengan sedikit gesekan dan liukan lemah, Sungmin berhasil membuat Kyuhyun meliar, masuk dengan sedikit kasar dan mengaduk seluruh isi mulutnya.
"Engh!" Erangan tertahan Sungmin keluar saat Kyuhyun menghempaskan punggung yeoja itu pada sandaran kursi mobilnya. Berusaha lebih menekan Sungmin dan menghisap penuh-penuh saliva manis milik yeoja manis itu.
"Emphhh!" Sungmin kembali mengerang, kali ini diikuti pukulan pelan di bahu Kyuhyun. Napasnya bisa benar-benar putus kalau Kyuhyun tidak segera melepaskannya.
Evil Maknae itu memberi jilatan terakhir di bibir Sungmin dengan gerakan seksi, lalu menjauh. Membiarkan Sungmin mengambil napas dengan rakusnya. Dengan pipi mengembung dan bibir mengerucut, yeoja manis itu memberi tatapan membunuh pada Kyuhyun yang tentu saja malah membuat si Evil itu tertawa, karena bukannya menyeramkan Sungmin malah terlihat menggemaskan.
"Kyu!" Sungmin memekik saat Kyuhyun kembali bergerak mendekatinya, yeoja manis itu tentu tidak menginginkan sesi kedua dari ciuman mematikan milik Kyuhyun.
Namun alih-alih meraih bibir Sungmin yang telah memerah, Kyuhyun malah mengecup lembut kening Sungmin. Begitu lembut, begitu penuh perasaan sayang yang terluapkan tanpa kata. Membuat Sungmin terbuai, yeoja manis itu memejamkan matanya, menikmati manisnya kecupan Kyuhyun di keningnya.
"Jangan mengacuhkanku lagi, Chagiya," ujar Kyuhyun lembut dan juga sarat akan rasa terluka.
Sungmin diam mendengar nada itu. Nada yang menyiratkan permohonan yang mendalam. Dan siapapun tahu, bahwa yeoja pemilik iris foxy itu adalah seorang berhati lembut yang tak pernah bisa mengeras. Apalagi pada seorang Cho Kyuhyun, pemilik hatinya.
"Mianhe Kyunie," ujar Sungmin lembut.
Kyuhyun tersenyum tipis melihat kelembutan sifat yaghonnyeonya itu. "Aku mau membawakanmu warna pink, apa yang kau mau?"
"Ummm... Ice cream!" Sungmin berseru semangat begitu mendapatkan jawaban dalam otaknya.
"Arraseo," ujar Kyuhyun dengan senyum tipis dan mengusap rambut hitam Sungmin yang tergerai.
"Gomawo," balas Sungmin dengan senyum yang memperlihatkan deretan gigi kelincinya.
Tapi Kyuhyun menggeleng pelan, namja itu menatap Sungmin dengan dalam sebelum berucap "Gamsahamnida."
Mata foxy itu mengerjap pelan sebelum senyum lembut itu terukir. Sungmin mengangguk hikmat. Sungmin turun dari Audi putih itu setelah membiarkan pemiliknya mengecup kembali bibirnya sekilas.
Pagi yang cerah!
Dengan langit biru, dan embun pagi yang menyegarkan, baik udara maupun pandangan mata foxynya dengan keberadaannya yang membasahi daun-daun dan bunga-bunga yang bermekaran di sisi-sisi jalan menuju gedung kampusnya.
Hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan, Sungmin tahu itu. Hatinya terasa begitu ringan, bahkan dia harus mengalami kesulitan untuk membuat bibir plumnya berhenti melengkung ke atas. Pagi ini Kyuhyun begitu manis seperti gula-gula, begitu lembut seperti marshmellow, dan begitu hangat seperti coklat panas yang masih beruap. Meski kalau di gabungkan gula-gula, marsmellow dan coklat panas sama sekali tidak cocok dengan Kyuhyun, tapi Sungmin begitu suka dengan semua itu.
"Gaseumi sorichyeo marhae," bibir plumnya menyanyikan sebuah bait yang juga di nyanyikan oleh Kyuhyun dari sebuah single Super Junior. "Jayuroun nae yeonghon
Eonjena cheo
eumui imaeum euro neoreul saranghae georeo— Wookie?" nyanyian manis itu berubah menjadi kernyitan ketika dilihatnya sosok yang begitu akrab dengan mata foxy-nya itu tengah berdiri dengan kepala menunduk di bawah sebuah pohon maple di halaman kampusnya.
Yeoja itu berlari kecil mendekati sosok namja itu, ada yang aneh dengan bahasa tubuh namja itu. "Wookie?" Sungmin memanggil dengan pelan dan begitu lembut.
Ryeowook tampak agak terkejut dengan kehadiran Sungmin di depannya, namja itu dengan cepat menghapus lelehan air mata di pipinya dan mencoba tersenyum, kaku.
"Wookieya~," ujar Sungmin dengan nada prihatin, tanpa mengidahkan hal lain lagi yeoja itu menarik kepala Ryeowook yang lebih tinggi darinya untuk bersandar di pundaknya. "Waeyo?"
"Gwenchana," Ryeowook menggelengkan kepalanya pelan di pundak Sungmin, suaranya yang bergetar dengan tega menghianati kata-katanya. "Gwenchana."
"Sttt, tak apa. Menangislah Jagi..."
"Minnie noonaaa~" tampaknya kalimat lembut terakhir dari Sungmin menghancurkan pertahanan namja itu, dengan keras dia terisak dan mengerang. Menangis membasahi blazer hitam Sungmin.
Sungmin diam, membiarkan namja itu menangis di pundaknya. Dia tahu memang ada yang salah dengan Ryeowook akhir-akhir ini, tapi dia tak menyangka bahwa masalah itu cukup pelik hingga membuat namja itu menangis seperti ini. Sungmin mengusap punggung namja itu, mencoba memberikan kehangatan dan kekuatan dari sentuhannya itu.
.
.
Sungmin terpaksa harus mencabut keyakinannya bahwa hari ini adalah hari yang menyenangkan. Oke! Awalnya memang menyenangkan, tapi tidak lagi setelah dia bertemu dengan Ryeowook dan namja itu menceritakan masalahnya dengan sesegukan keras.
Tidak! Bukan berarti Sungmin menyesali pertemuannya dengan Ryeowook. Sebaliknya, dia sangat bersyukur menemukan namja itu di sana hingga dia bisa tahu apa yang selama ini menjadi beban bagi dongsaengnya itu.
Sungmin jadi sangat cemas, dia meninggalkan Ryeowook dalam keadaan yang tidak begitu baik. Namja itu masih saja murung dan sesegukan, Sungmin ingin sekali menemaninya sampai sore bahkan malam, tapi kuliahnya jelas tidak mengijinkan. Lagi pula Ryeowook juga memaksa Sungmin untuk tidak mengabaikan kuliahnya.
"Minnie ya, apa ada masalah?" sebuah sapuan lembut di pundak Sungmin membuat yeoja itu mengerjap sadar.
"Wae?" tanyanya polos.
"Kau sedang ada masalah? Kau kurang fokus hari ini," ujar Siwon dengan sabar.
Sungmin menggeleng pelan. "Aku mencemaskan chinguku, ah tidak.. dia sudah seperti namjadongsaengku sendiri, dia sedang dalam masalah berat dan aku meninggalkannya karena ada kuliah pagi tadi," ujar Sungmin murung.
"Kau ingin bimbingan hari ini ditunda?" tawar Siwon, pengertian.
Sungmin kembali menggeleng. "Dia pasti tidak akan suka kalau aku membolos."
"Hem. Kalau begitu cobalah untuk fokus," Siwon kembali mengusap pundak Sungmin lembut, kemudian dengan perlahan di gesernya layar note book itu ke hadapan Sungmin.
"Ne."
"Programmu ini masih sangat mengambang, aku tidak bisa menebak kearah mana program ini kau buat, Minnie. Sebuah program itu harus mengacu pada satu tujuan, kau harus fokus pada apa yang benar-benar di butuhkan oleh objek observasimu," terang Siwon.
"Eung...," Sungmin mengangguk mengerti. "Eh!" lalu menggeleng cepat, membuat Siwon mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Wae?" Siwon bertanya dengan alis mengkerut.
"Sebenarnya aku belum punya tempat untuk observasi, aku sudah mengajukan proposal pada beberapa beberapa perusahaan tapi tidak ada yang menanggapinya lebih lanjut. Kebanyakan dari mereka lebih memilih taehaksaeng yang memiliki link dari pada taehaksaeng sepertiku," ujar Sungmin muram.
Siwon terdiam, ditatapnya yeoja yang tengah menunduk sedih itu dengan tatapan sayang. "Memangnya kau tidak punya link?"
Sungmin menggeleng pelan. "Appaku pernah menawarkan perusahaan keluarga kami, tapi di perusahaan itu aku sudah mengenal setiap sistem informasi yang ada, aku tidak mau lulus dengan mudah. Dan aku juga ingin lulus dengan seluruh kemampuanku sendiri, aku ingin perusahaan yang menerimaku karena kemampuanku, bukan karena link yang ku miliki," yeoja manis itu tersenyum
Siwon mengangukan kepalanya mengerti dan kagum. Namja tampan itu tampak berpikir, memandang layar notebooknya dengan pandangan berat. "Ada seorang chingudeulku yang memiliki sebuah departement store, kalau kau mau—"
"Umm...," gelengan pelan dari Sungmin menginterupsi ucapan Siwon. "Aku tidak mau ada link Oppa!"
"Aku tidak menawarkan link, Minnie. Aku hanya menunjukkan tempatnya, selebihnya kau sendiri yang harus berusaha meyakinkan mereka."
Sungmin terdiam, tampak memikirkan penawaran Siwon.
"Chingudeulku ini seorang yang bijaksana, dia pasti akan mempertimbangkan dengan baik taehaksaeng tekun sepertimu. Kau mau, Minnie?"
Sungmin masih diam, agak lama. Hingga akhirnya Siwon bertanya dengan lebih mendesak dan Sungmin pun menyanggupinya.
"Baguslah, pertemuan selanjutnya kita outdoor ke departement store. Sekarang sudah jam makan siang, kau mau makan siang bersamaku?"
"Uh?" Sungmin mengerjap dan mengangkat tangan kanannya guna melihat jam. Benar saja, sudah jam makan siang ternyata. "Mianhe Oppa, aku sudah ada janji," tolak Sungmin kemudian.
"Jinjja? Sayang sekali, apa itu namjachingumu?" tanya Siwon dengan tatapan menggoda.
Wajah yeoja manis itu memerah, namun dengan pasti dia menggeleng. "Dia yaghonnyeoku," ujar sungmin malu-malu sambil mengangkat jari manis tangan kanannya menunjukan sebuah cincin yang telah melingkar disana.
"Jinjja?" Siwon mengulang pertanyaannya. "Yaghonnyeo? Sayang sekali, berarti aku sudah tidak punya kesempatan ya?" Siwon bergumam dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Oppa!" wajah Sungmin makin memerah mendengar godaan dari Siwon.
"Hahaha...," tawa renyah Siwon terdengar membuat Sungmin mengerucutkan bibirnya sebal karena ditertawakan, namja tinggi itu dengan gemas mengacak rambut Sungmin. "Ya sudah, kalau begitu aku pergi, tto mannayo," ujar Siwon sembali melambaikan tangannya pelan setelah membereskan buku-bukunya dan berlalu pergi meninggalkan Sungmin sendirian di ruangan itu.
Yeoja manis itu tersenyum kecil dan dengan cepat menekan speed dial di ponselnya. Setelah beberapa saat menunggu, sapaan dari Kyuhyun pun terdengar.
"Apa kita jadi makan siang bersama, Kyunnie?"
"Ne Chagiya, kami juga sudah selesai take scene terakhir. Lima menit lagi wajah tampanku bisa kau cium, tunggulah."
"Pedenya... baiklah, aku tunggu di depan gerbang kampus, arra?"
"Arrasseo."
Setelah kalimat itu, Sungmin pun menutup ponselnya, lalu kembali menekan sebuah speed dial dan kembali meletakkanya didekat telinga. Lama Sungmin menunggu hingga akhirnya layanan operatorlah yang menjawab. Sungmin mendesah khawatir, dan sekali lagi di tekannya tombol speed dial itu.
Namun lagi-lagi layanan operator yang akhirnya menjawab, dengan terpaksa Sungmin pun meninggalkan pesan suara.
"Wookie... jangan lupa makan ne? Hari ini aku pulang malam, kau harus janji akan menjaga dirimu dengan baik, makan dan istirahatlah kalau kau lelah. Saranghae namjadongsaeng," setelah mengucapkannya Sungmin pun menghela napas lelah. Dia begitu cemas memikirkan namja itu.
Sekali lagi Sungmin menekan speed dial di ponselnya, menunggu hingga layanan operator kembali menjawabnya dan meninggalkan pesan suara lagi. "Wookie chagi, aku akan pulang sore saja, kita makan malam bersama ya? Aku yang memasak untukmu. Sudah, jangan bersedih lagi, aku menyayangimu Chagiya."
Kali ini Sungmin benar-benar menutup ponselnya dan memasukkanya kedalam saku rok lipit selututnya. Yeoja manis itu melangkah cepat menuju gerbang kampusnya, dia akan menunggu di sana agar Kyuhyun tidak perlu repot masuk kedalam kampusnya.
Halaman depan ELF University cukup ramai mengingat saat itu memang jam makan siang. Sungmin membaur bersama para taehaksaen lain yang berjalan kaki menuju arah luar kampus, mereka biasanya akan mencari makan siang di luar kampus, mencari kafe yang cukup bagus dan lenggang tanpa perlu berdesakan seperti di kantin kampus.
Sungmin memandang sekitar dan memutuskan untuk menunggu di halte yang berada tepat di samping gerbang kampusnya. Mata kelinci itu tengah memandang pada sebuah toserba dua puluh empat jam yang berdiri di depannya. Toserba itu pernah beberapa kali menolong Sungmin di saat genting, seperti saat dia kehabisan alat praktek atau bahkan saat dia lupa sarapan.
Yeoja itu tersenyum manis, dia baru meyadari tentang pentingnya toserba di depan kampusnya itu terhadap kelangsungan hidupnya dan pasti juga bagi para taehaksaen lainnya.
Deg!
Mata kelinci itu membalalak. Sesuatu yang tertangkap matanya baru saja membuat jantungnya melewatkan satu detakkan panjang. Yeoja itu...
Sungmin menggelengkan kepalanya cepat, memejamkan dan mengucek mata kelincinya kuat-kuat. Perasaannya berubah berantakan seketika itu, ada rasa cemas yang mengoyak dadanya begitu cepat. Sungmin masih menggelengkan kepalanya dan berharap apa yang di lihatnya hanya ilusi atau mimpi atau apapun itu asal bukan sebuah kenyataan.
Tapi percuma! Sosok yang baru saja keluar dari toserba yang sempat Sungmin perhatikan itu memang menghilang. Tapi, bukan menghilang yang seperti Sungmin harapkan melainkan menghilang masuk kedalam sebuah Porsche merah mengkilat dan melaju cepat meninggalkan Sungmin dengan seluruh tubuh terasa lemas.
Yeoja itu...
Seohyun... benarkah dia... benarkah itu dia... benarkah dia kembali?
Tuhan! Kenapa sekarang! Kenapa yeoja itu harus muncul disaat Sungmin merasa benar-benar ragu pada perasaan Kyuhyun?
Rasa takut itu tak bisa dihindari. Menyusup dengan lihai masuk kedalam pertahanan hati Sungmin yang telah rapuh. Sejejak bulir bening itu pun meluncur mulus di pipi yang memucat dengan cepat.
"Chagiya?"
Sungmin menegadah saat merasakan sebuah sentuhan lembut di pipinya. Di depannya telah berdiri namja yang mengenakan topi dan kacamata hitam besar yang hampir menutupi seluruh wajahnya.
"Chagiya, Waeyo? Gwenchanayo?" Kyuhyun menatap Sungmin dengan cemas. Dia baru saja tiba dan begitu terkejut mendapati kondisi Sungmin yang terlihat sangat syok.
"Gw-gwenchana," ujar Sungmin bergetar dengan gelengan pelan.
Tentu saja hal itu tidak membuat Kyuhyun percaya begitu saja. Namja itu meneliti keadaan sekitar Sungmin, mencari-cari sesuatu yang tak beres yang membuat yeoja chagiyanya menangis dan tampak begitu ketakutan. Tapi semuanya normal, semua orang tampak sibuk dengan urusan mereka sendiri, entah menelpon, ngobrol atau bahkan melamun sembari menunggu bus.
"Katakan ada apa Chagiya, aku bersumpah tidak akan membiarkan siapapun yang telah membuatmu menangis itu lolos!" Kyuhyun berseru, keras namun tetap lembut.
"Tidak apa-apa, sungguh. Mataku hanya kemasukan debu tadi, Kyunie tak perlu khawatir. Tidak ada yang menyakitiku," ujar Sungmin sembari berusaha mengembangkan senyumnya.
Kyuhyun masih belum percaya. Tentu saja dia tidak percaya bahwa hanya debu yang membuat wajah yeoja chagiyanya itu begitu pucat pasi seperti telah melihat hantu. Tapi, mendebat Sungmin di tempat umum jelas bukan hal yang bijaksana, belum lagi mengingat Kyuhyun sama sekali tidak membawa satupun keamanan saat ini. Akan sangat menggelikan kalau justru Kyuhyunlah yang pulang dengan wajah pucat pasi setelah di serang fans.
Dengan terpaksa Kyuhyun pun mengangguk dan membawa Sungmin masuk kedalam Audi putihnya. Sungmin masuk dan duduk dengan lemas di kursi kemudinya, dia tidak bisa berpura-pura baik-baik saja di depan Kyuhyun. Tapi jauh lebih tidak bisa baginya untuk mengatakan sebab apa yang membuat seluruh engsel tubuh Sungmin jadi terasa lemas begini.
.
.
Bangunan itu masih sama seperti terakhir kali namja berperawakan kecil itu melihatnya. Ada pembaruan di sana-sini seperti cat dan lainnya, tapi tetap saja aroma yang terdengar masih sama. Suasana hangat, ceria, tawa-tawa penuh persahabatan, cerita-cerita baru yang terlukis setiap harinya. Khas suasana Junior School.
Ryeowook menatap dengan sedikit senyum tipis di bibirnya, tempatnya menimba. Dulu, enam tahun yang lalu, ketika dia masih duduk sebagai siswa kelas dua di sekolah itu, mereka bertemu. Kim Jongwoon, yang tidak lain adalah Yesung, Namja tampan dari Senior School yang di sewa oleh sekolah untuk memberi pengajaran di ekstrakurikuler basket. Ekskul yang paling di gemari saat itu, dan Ryeowook sebagai salah satu anggotanya.
Ryeowook sama sekali tak pernah menduga saat itu, bahwa namja aneh yang suka menyentuh bibirnya kini menjadi pemilik hatinya. Jam-jam khusus yang di berikan Yesung untuk melatih Ryeowook secara privat, membuat kedekatan keduanya semakin nyata.
Yesung adalah sosok Hyung baik hati yang selalu ada untuk Ryeowook saat itu. Tak pernah menyangka bahwa perasaan yang ada ternyata jauh lebih besar dari yang di sadarinya. Bahkan hingga membuat namja itu nekat ke Seoul hanya agar bisa bertemu dengan Yesung yang kala itu baru bergabung dengan SM Entertaiment. Dan yang paling memalukan adalah, kenekatan Ryeowook saat menyatakan perasaannya di depan pintu dorm Super Junior.
Sayang sekali semua itu harus berakhir sekarang. Padahal tinggal selangkah lagi dan Ryeowook bisa mengenakan cincin dari Yesung di jemari manisnya. Selangkah lagi, tapi langkah yang paling penting bagi hubungan mereka kedepan. Appa Yesung yang terang-terangan menolak Ryeowook. Bahkan tak sungkan-sungkan dalam menghina Ryeowook dan menjelaskan betapa tidak pantasnya dia berdiri di samping seorang Kim Yesung.
Ironis. Semua ucapan Appa Yesung itu benar.
Namja itu tersenyum miris. Menyesali kebodohannya yang luput menyadari segala hal itu. Kalau saja dia bisa sedikit berpikir jauh, dia tidak akan pernah memutuskan untuk datang ke Seoul, tidak akan mengejar Yesung, dan tidak akan menyatakan cintanya di depan pintu dorm malam itu.
_TBC_
Dont Forget leave a comment after you Read